gambar perspektif

Jadi Mahasiswa Arsitektur (Tidak) Harus Jago Gambar (part 1)

Dimuat pula di mahasiswaarsitektur.wordpress.com dan mahasiswaarsitektur.co.cc

Beberapa hari lalu, tiba-tiba saja seorang adik kelas yang telah memastikan diri masuk jurusan arsitektur ITS, mengikuti jejak saya, mengirimi saya pesan singkat. Dia, entah bertanya atau curhat, bilang bahwa ia nol sama sekali tentang materi arsitektur dan bingung harus bagaimana. Apalagi, ia minder begitu melihat blog teman seangkatan saya yang memajang hasil sketsa dan gambarnya selama dua semester ini karena, menurutnya, ia tidak begitu jago menggambar. Untuk yang pertama, saya tanggapi sambil senyam-senyum saja. Ya barang tentu dia belum tahu apa-apa tentang arsitektur lha wong memang belum mulai kuliah. Tujuan kuliah itu kan ya supaya jadi tahu dan paham serta bisa “berarsitektur”. Sedang untuk masalah minder tadi, saya hanya bilang, “Tenang, nanti kan diajarin cara nggambarnya.” Tampaknya, jawaban saya cukup bisa diterima olehnya. Entah begitu atau dia sungkan bertanya lebih jauh lagi.

Sebenarnya, saya bisa saja bilang kepadanya bahwa jadi arsitek itu tidak harus pintar menggambar. Dengan begitu, ia tentu bisa jadi lebih tenang. Namun, itu berarti sama saja dengan menjual pepesan kosong kepadanya, seperti halnya saya yang merasa ditipu oleh salah satu dosen kami setahun yang lalu. Saya masih ingat sewaktu IPITS (semacam MOS kalau di SMA) salah satu dosen arsitektur ITS yang bernama Pak Wahyu menunjukkan pada kami, para mahasiswa baru, foto-foto hasil rancangan arsitek terkenal di seluruh dunia. Melihat kami semua terperangah, beliau lalu menjelaskan -sekaligus menerbitkan harapan kami- bahwa kami pun bisa menghasilkan karya yang seperti itu. Dan untuk itu, ini yang paling membuai: kami tidak harus pandai menggambar. Selama ini, paradigma yang terbentuk memang arsitek itu sama dengan menggambar. Lebih spesifik lagi, arsitek itu gambarnya bagus. Beliau lantas mencontohkan Frank Gary. Meskipun karyanya sudah sedemikian terkenal, ternyata ia bukanlah seorang yang jago menggambar. Bahkan, menurut Pak Wahyu, gambarnya tidaklah lebih bagus dari hasil corat-coret anak TK. Sketsa yang sedemikian indahnya ternyata adalah hasil karya asistennya. Jadi, Frank Gehry yang memiliki idenya, dan asistennya yang bertugas memvisualisasikannya dalam gambar. Diberi cerita seperti ini, tentu semangat kami -terutama yang merasa kemampuan menggambarnya payah- jadi lantas berkobar-kobar.architect, arsitek, arsitek telepon, kerja arsitek

Sayang seribu sayang, kobaran semangat itu tidak bertahan lama, bahkan nyaris padam begitu memasuki masa perkuliahan. Dua mata kuliah yang menguasai separo dari keseluruhan jumlah sks pada semester satu (masing-masing 6 sks & 3 sks) ternyata mengharuskan kami maraton menggambar. Dua mata kuliah itu disebut Perancangan Arsitektur 1 dan Komunikasi Arsitektur. Komunikasi? Ya, tapi bukan yang ngomong-ngomong itu. Coba Anda pikirkan. Kalau seorang penyiar radio berkomunikasi dengan kata-kata, seorang presenter televisi dengan kata-kata plus gesture (gerak tubuh), maka seorang arsitek harusnya berkomunikasi dengan… GAMBAR! Tepat sekali. Yah, kata-kata dan gerak tubuh juga sih. Tapi kalau gambarnya saja tidak ada, apa yang mau disampaikan coba.

Dan menggambar di sini bukanlah menggambar pemandangan dua buah gunung dengan matahari terbit di tengahnya plus jalanan yang semakin menuju gunung ukurannya semakin kecil sampai jadi lancip. Oh, tidak lupa sebuah rumah dan sawah di tepi jalan. Plus, jangan lupakan juga kawanan burung yang sedang terbang di atas langit. Tapi sayangnya bukan, bukan itu. Menggambar di sini adalah menggaris tanpa penggaris, tidak boleh menggunakan penghapus, harus menggunakan teknik tebal-tipis, rendering (arsiran) untuk menghasilkan bayangan, dan digambar secara perspektif, umumnya perspektif normal, tapi dalam beberapa kasus bisa jadi perspektif mata burung, tergantung permintaan. Yah, itu semua ditambah kemampuan mewarnai (bukan yang sekelas anak TK atau SD yang baru belajar menggambar lho ya) dan kemampuan berpikir spasial. Yah, kurang lebih semua itu.

Tak heran, saya dan beberapa orang teman saya sempat merasa stress waktu awal-awal itu. Saya bahkan sempat menganggap dosen tadi seorang pembohong. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, dosen saya tidak bohong kok. Beliau memang berkata kalau jadi seorang arsitek itu tidak harus pintar menggambar, tapi beliau tidak berkata bahwa hal yang sama juga berlaku saat Anda menjadi seorang MAHASISWA ARSITEKTUR kan? Sejak itu saya paham. Beliau tidak salah. Saya yang salah.

Fakta tersebut -fakta saya menyadari bahwa saya salah- sayangnya tidak membuat gambar saya jadi bagus. Tetapi, saya kemudian mempelajari bahwa kemampuan menggambar memang bukanlah yang utama. Yah, sangat dibutuhkan sih, tapi bukan yang utama. Lantas apa dong yang utama? Saya akan jelaskan, tapi nanti dulu ya, di postingan kedua saya biar Anda penasaran (alesan aja sih sebenarnya karena males nulis panjang-panjang).

bersambung