Bangku

Belum lama ini saya oprek-oprek kamar saya dan menemukan sebuah cerpen saya yang sempat dimuat disalah satu harian. Cerpen itu saya tulis waktu saya kelas satu SMA. Waktu itu banyak  teman saya yang berkomentar bahwa isinya tidak dapat dimengerti. Bagaimana dengan Anda? Mengertikah?

Udara seperti melarutkan aku menjadi butiran uap-uap yang mengambang terseret angin kesana kemari. Sejak berlalu dari dua jam yang lalu, aku terduduk di bangku taman menunggu terisi satu sisi di sebelahku yang kosong. Bukan, bukan hanya menunggu terisi, tapi juga ditempati orang yang benar-benar kuinginkan untuk mengisinya. Orang yang membuatku merasa tak bermateri.

Aku bagai udara, bergerak sealiran angin senja terbelah guguran daun kering menguning. Bias sinar kemerahan telah menggelayut di kaki langit, sementara bus kota datang dan pergi tanpa kesan di halte depan taman ini. Aku terus menatap ke sana. Muncul wajah yang kutunggu, dari balik bus tua itu, begitu mauku. Tetap saja dia menipuku pada akhirnya. Dan aku pun pulang untuk kembali esok lagi.

***

Aku datang lagi. Lebih ceria entah mengapa. Sedari tadi ada yang mengusik hatiku. Aneh sekali. Seperti ada emosi yang menguasai diriku. Sesuatu yang menggugah seperti semangat dan keyakinan.

Hari ini berbeda. Aku bisa merasakannya. Begitu yakinnya aku bahwa hari ini semua penantianku berakhir. Esok hari, aku tak perlu duduk sendirian lagi. Tak perlu menyatu dengan angin lagi. Aku yakin.

Saat ini, mendung tipis memayungi kota seakan mengabarkan hujan lebih awal. Langit di atas sudah disepuh jadi putih keabuan. Suasana berubah seperti ada yang mengecilkan tombol volume. Nyaris sunyi. Angin bertiup lembut, menghanyutkanku ke udara.

Dalam cuaca seperti ini, tak banyak orang terlihat. Mereka memilih didekap kehangatan rumah, mengira hujan bakal turun. Padahal tidak. Aku tahu mendung tipis begini baru menurunkan hujan nanti malam, saat mereka sudah benar-benar tak ingin keluar rumah. Seandainya mereka tahu bahwa cuaca seperti ini justru lebih menyenangkan. Suasana sunyi dan angin berembus halus. Matahari enggan menebar terik. Bagiku, ini kebebasan. Aku bisa duduk berlama-lama sambil menikmati aroma udara. Hmm, nikmatnya…

Tahukah kalian apa kaitan semua ini, tentang keyakinanku dan mendung ini? Semua ini membawaku kemasa lalu. Lima tahun lalu. Di halte depan sana, waktu aku melepas kepergiannya, mendungnya pun begini. Langitnya pun begini. Anginnya pun begini. Dia berujar kepadaku akan kembali lima tahun lagi. Aku yakin, hari itu adalah hari ini, saat semuanya persis sama.

“Aku akan pergi. Sebentar saja. Begitu kembali, kau akan melihatku sudah menjadi seseorang. Akan kubuktikan kepadamu,” ujarnya waktu itu sambil mengusap pipiku yang basah.

Membuktikan apa? Tetap saja ia ngotot meskipun sudah kubilang bahwa cintanya telah mencukupiku. Tapi, ia berkilah. Katanya, ia tak mau membuai wanita, menghidupi hanya dengan cinta. Pada akhirnya, kulepas juga ia. Membiarkannya mencoba membuktikan kepadaku sesuatu yang tak pernah kuminta.

Sementara itu, bus terakhir berhenti di halte depan. Aku beranjak berdiri. Menunggu. Ada yang turun. Bus itu mulai bergerak menjauh. Sesosok pria berdiri tegak di sana. Aku siap menyambutnya, andai saja kukenal dia. Tidak, bukan dia. Bahkan, perkiraanku salah: gerimis mulai turun.

***

Entah bagaimana aku melewatkan sisa waktu kemarin. Yang jelas, aku duduk lagi di bangku taman ini. Sendiri lagi. Mungkin aku kehilangan semangatku, tapi aku akan terus duduk dan menunggu. Lalu, aku menyatu lagi dengan angin. Bangku sebelahku kosong lagi. Daun kering jatuh lagi. Semuanya terulang lagi.

Tiba-tiba, telingaku berdering aneh. Seperti ada sesuatu, aku merasa ada kehangatan jatuh di sebelahku. Aku menoleh, namun menolak mempercayai mataku. Dia, duduk di sana, menatapku.

Aku hampir memeluknya liar. Tapi, aku menunggu. Lalu, tangannya bergerak ke pipiku, membelainya. Kugenggam tangannya yang masih menempel di pipiku.

“Kamu terlambat,” aku memulai pembicaraan.

:”Maaf,” dia menatapku dalam. Ada sesuatu, tapi aku tak bisa menyingkapnya. Baru saja bertemu, dia sudah hendak membunuhku dengan rasa penasaran. “Ada yang ingin kubicarakan.”

Sebenarnya aku ingin membungkam mulut manis itu, melumatnya dengan ciuman. Sebuah ciuman rindu. Aku tak ingin ada kata-kata keluar. Sebab, entah mengapa aku merasa ada yang berbeda.

Dia menurunkan tangannya, berusaha menjauhkan tanganku dari tangannya. Namun, tanganku tak kulepaskan. Kuraba setiap buku jarinya yang halus sampai tanganku terantuk sesuatu yang keras dan berkilau. Dari tadi, rupanya aku tak sadar kalau tersemat sebuah cincin indah dijari manisnya. Ah, langsung saja kurebut bibirnya. (*)

Iklan
Bangku

4 pemikiran pada “Bangku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s