Guyonan Gus Dur

Semasa hidupnya, almarhum Gus Dur dikenal sebagai sosok yang humoris dan nyentrik. Untuk sedikit mengobati kangen, saya memposting beberapa guyonan Gus Dur yang saya ambil dari buku “Presiden Dur yang Gus Itu – Anehdot-anehdot KH Abdurrahman Wahid” terbitan Risalah Gusti. Silahkan dinikmati!

Gila NU

Dalam sebuah seminar, Gus Dur melempar joke terkait dengan fanatisme orang NU, utamanya yang datang ke kediamannya. Menurut Gus Dur, ada tiga tipe orang NU yang datang ke kediamannya.

“Kalau mereka datang dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan membicarakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.

Orang NU jenis kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas malam sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” katanya.

Orang NU jenis ketiga, Gus?

“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur yang tentu saja disambut derai tawa peserta seminar.

Berapa Rupiah Jatah Tuhan?

Suatu ketika, para takmir masjid, penjaga gereja, wihara, kuil, klenteng, dan tempat-tempat ibadah lain di Indonesia berkumpul. Mereka yang rata-rata memiliki problem uang sumbangan ini, ingin mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapinya. “Di masjid saya, kotak amal penuh. Bahkan akhir-akhir ini tidak ditemukan lagi uang recehan,” kata salah seorang takmir masjid mengawali pembicaraan.

“Sama. Dalam semester ini saja, saya kewalahan mendistribusikan uang jemaat,” kata salah seorang penjaga gereja. Hal yang sama juga dirasakan penjaga kuil, wihara, klenteng, dan seterusnya. “Jadi intinya, kita semua ini surplus dana,” kata salah seorang menambahkan. “Karena itulah,” lanjut peserta dari wihara, “tolong sekarang dirumuskan pembagian yang adil. Dari jumlah itu, mana jatah untuk kita, dan berapa yang harus disetor untuk Tuhan,” katanya.

Ada yang usul agar pembagiannya harus adil. Lima puluh persen untuk kebutuhan keluarga penanggung jawab rumah ibadah, dan lima puluh persen lagi untuk Tuhan. “Saya kira ini pembagian yang paling adil,” kata peserta diskusi kelenteng. Mendengar usulan ini, semua diam, pertanda kurang setuju. “Tuhan tidak perlu banyak-banyak. Dia kan Mahakaya. Menurut saya, semua untuk penjaga rumah ibadah, lha kalau ada sisanya baru kita berikan kepada Tuhan. Saya kira adil, toh kalau salah, Tuhan juga Maha Pengampun,” kata wakil dari gereja.

Cara tersebut ditentang oleh seorang penjaga kuil. “Jangan begitu. Ini kan sumbangan, sebaiknya kita ambil secukupnya, setelah itu semuanya diserahkan kepada Tuhan.” Sama. Ide ini juga tidak ada yang menerima. Akhirnya diskusi tentang pendistribusian uang dana (kotak amal) ini mengalami jalan buntu, deadlock. Diskusi diskors.

Dalam skorsing ini, tiba-tiba bermunculan ide baru. “Sebaiknya kita bikin lingkaran dengan diameter 100 cm. Lalu uang itu kita taburkan ke atas. Lha, nanti yang masuk dalam lingkaran tersebut, itulah hak Tuhan. Sedang yang berada di luar lingkaran berarti uang kita,” kata salah seorang peserta. Semua terperanjat mendengar model yang diusulkan tersebut.

“Saya setuju, cuma bukan begitu. Yang benar uang kita taburkan ke atas dan yang masuk ke dalam lingkaran itu uang kita, sedang yang berada di luar lingkaran adalah jatah Tuhan,” sahut lainnya.

Mendengar perdebatan makin seru, tiba-tiba seorang takmir masjid mendekat dan menyatakan setuju, “Cuma caranya tidak perlu pakai lingkaran. Sekarang begini saja. Uang kita taburkan ke atas, lha yang jatuh ke bawah itu milik kita. Sedang yang tidak jatuh berarti sudah diambil Tuhan,” katanya. Semua tampak setuju, “Anda punya pikiran yang brilian, Sahabat,” kata peserta lainnya. Jadi, mana mungkin Tuhan mengambil uang?

Hasil Keputusan Rapat

Sewaktu masih belajar di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Jakarta, Gus Dur punya guru bahasa Inggris dari suku Batak. Menurut dia, lafal bahasa Inggris gurunya itu sangat medhok dengan logat Bataknya. Namun yang lebih menjengkelkan Gus Dur dan teman-temannya, guru tersebut ngotot agar murid-muridnya mengikuti lafal Inggris yang berlogat Batak tersebut secara persis.

Akhirnya Gus Dur dan kawan-kawan sepakat untuk mengerjai sang guru. Di pintu kamar mandi sekolah digantung sebuah ember berisi air. Nah, pada saat sang guru hendak ke kamar mandi, ketika membuka pintu tersebut, maka jatuhlah ember airnya menimpa tubuh sang guru. Byarrr! “Siapa yang punya ide pertama kali menaruh ember itu?” Ditanya demikian, Gus Dur sambil menahan tawa menjawab. “Awalnya adalah saya, tetapi kemudian sudah menjadi keputusan rapat.”

Ingin Bertemu Nyi Roro Kidul

Gus Dur selain dikenal sebagai tokoh Islam juga memiliki komitmen kuat terhadap demokrasi. Ia juga punya perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok tertindas dan minoritas. Jadi, dia tokoh multidimensi. Sebagian warga Nu bahkan ada yang menganggap bahwa dia wali.

Tak aneh, ketika menyelenggarakan open house di kediamannya, Ciganjur, Jakarta Selatan, ia banyak dikunjungi tamu dari berbagai kelas dan kalangan, mulai dari pejabat, politikus, mahasiswa, kiai, sampai masyarakat awam. Tentu saja kepentingannya berbeda-beda. Ada yang hanya bertukar pikiran, mengeluh, mengadu, dan ada pula yang menyampaikan permintaan aneh-aneh.

Suatu hari, dalam acara open house tersebut, Gus Dur kedatangan seorang tamu. Rupanya dia berasal dari masyarakat awam yang menyenangi hal-hal klenik (mistis). Setelah basa-basi, si tamu menyampaikan keinginannya yang sebenarnya. Agaknya keinginan itu bukan keinginan biasa. Si tamu ingin dipertemukan dengan Nyi Roro Kidul, penguasa pantai selatan Pulau Jawa. Mendengar hal itu, Gus Dur pun mengangguk-anggukkan kepala.

“Apa sampeyan benar-benar ingin ketemu dengan Nyi Roro Kidul?”

“Iya Gus.”

“Coba sampeyan mendekat.” Langsung saja orang itu berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Gus Dur. Raut wajahnya tampak sumringah (berbinar) gembira. Mungkin hatinya sudah membayangkan sebentar lagi akan bertemu Nyi Roro Kidul. Begitu orang itu mendekat, Gus Dur berbisik ringan.

“Apakah sampeyan belum pernah melihat Nyi Roro Kidul?”

“Belum Gus.”

“Sampeyan betul-betul ingin ketemu?”

“Benar, Gus.”

“Sampeyan tahu…”

“Ada apa, Gus?” Si tamu makin penasaran.

“Begini-begini, saya juga pingin ketemu,” kata Gus Dur ringan.

Seketika seisi ruangan tergelak. Sementara, si tamu tadi tersipu-sipu.(*)

Iklan
Guyonan Gus Dur

2 pemikiran pada “Guyonan Gus Dur

    1. uzianaknakal berkata:

      haha… makasih ya mi. bukan ronny sianturi lho yang, masa nama suami sndiri lupa. ndak isa ket mbiyen tak nyoba masang di wordpress.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s