Saya Anti Selingkuh, Maka Saya Jadi Player

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya, Regi Kusuma, mengirim wall message di account Facebook saya. Begini bunyinya:

sadar atas diri kita, sadar atas lingkungan kita, lebih penting memikirkan
ini, daripada memikirkan masalah hati kita terhadap lawan jenis,
tidakkah kita sadar, diri kita dan lingkungan kita membutuhkan lebih
daripada perasaan terhadap lawan jenis??? ini hanya sebagai renungan,
semoga kita bisa menjadi lebih baik

Bagaimana pendapat saya? Setuju, tapi tidak sepenuhnya. Kalau mau pakai hitung-hitungan angka akan saya beri tujuh dari sepuluh. Yang tiga akan saya simpan untuk saya sendiri karena, biar bagaimanapun, akan sangat naif bila kita bilang tidak tertarik sama sekali dengan hubungan antar jenis ini. Sebagai manusia biasa, adalah sangat naluriah untuk memiliki rasa ketertarikan terhadap lain jenis. Toh ini bukan hal yang salah. Dalam Al-Quran dijelaskan pula bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan menikah termasuk salah satu sunah Rasul. Jadi, sah-sah saja untuk memikirkan perkara ini, hanya saja, tidak perlu ngoyo ataupun berlebihan. Jangan sampai kita lebih sibuk mencari pacar daripada membantu sesama, misalnya. Jodoh toh tidak lari kemana. Betul tidak?

Semua pembicaraan  tentang hubungan pria-wanita ini mengingatkan saya pada kejadian yang saya alami sebelumnya, suatu konsep yang unik yang saya dengar dari salah seorang teman saya yang lain. Konsep hubungan yang akan saya bicarakan ini saya anggap cukup menarik dan mungkin bisa jadi bahan pemikiran kita bersama. Sayangnya, karena hal ini muncul dalam pembicaraan santai dan agak guyonan, saya tidak berusaha menggali pemikiran teman saya ini lebih jauh lagi. Sedikit sungkan juga, mengingat hal ini pun agak pribadi untuknya. Maka, jangan salahkan saya kalau kemudian yang saya tulis malah perspektif  subjektif saya. Kalau tidak terima, coba lihat lagi header blog ini. Hehehe…

Jadi, begini ceritanya. Saya tidak ingat bagaimana awal mulanya, yang jelas saya dan beberapa teman saya yang tergabung dalam organisasi pecinta alam terlibat dalam perbincangan santai penuh gurauan bertemakan selingkuh. Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba seorang kawan yang terkenal play boy nyeletuk, “Makanya, kayak aku dong, nggak pernah selingkuh.” Teman saya yang lain kontan menyahut, “Iya nggak selingkuh, tapi langsung ganti pacar.” Pernyataan ini diamini saja oleh si orang pertama. Baiklah, pernyataan ini memang muncul dalam obrolan asal, saya bahkan tidak bisa memastikan dia benar-benar bermaksud begitu atau tidak, tapi tetatp saja saya merasa agak tersentak. Saya bukan orang yang suka selingkuh. Jadi, kalau saya tertarik dengan orang lain, ya saya putuskan saja pacar saya yang sekarang. Begitukah?

Sekilas pintas, mungkin akan ada beberapa dari Anda yang manggut-manggut. “Benar juga ya,” begitu mungkin pikiran Anda. Tapi saya agak berbeda pandangan. Bagi saya, dua-duanya (selingkuh atau berganti pasangan seperti itu) tidak berbeda secara essensi. Yang membedakan hanya status hubungan ketika melakukannya. Yang satu dilakukan ketika masih terikat dan ditutup-tutupi. Yang lain dilakukan lebih terbuka karena sudah tidak ada ikatan secara resmi begitu. Oleh karena itu, berganti pasangan yang semacam itu akan saya sebut selingkuh secara terbuka saja.

Mungkin bagi beberapa pria, melakukan selingkuh secara terbuka tersebut akan lebih tepat dan aman karena sudah merasa terlepas dari ikatan. Tapi, bagi wanita, yang kita tahu sangat emosional, hal ini akan cukup membekas dan menyakitkan hati. Apalagi jika beberapa saat setelah putus, ia melihat mantan pacarnya sudah menggandeng wanita lain. Saya punya cerita tersendiri untuk itu. Si teman play boy saya sempat berpacaran dengan seorang perempuan, teman saya juga. Umur pacaran mereka sangat singkat, hanya tiga hari kalau tidak salah. Selanjutnya, mereka putus dan si pria sudah menggandeng perempuan lain tidak lama setelahnya. Lalu bagaimana reaksi si wanita? Sakit hati sekali yang jelas. Selama beberapa hari dia berkali-kali menulis status di Facebook yang mengekspresikan kekecewaannya. Dia juga menuliskannya di blog pribadinya. Jelas, teknologi internet telah membantu kita mengungkapkan rasa sakit hati. Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah si wanita ini merasa sakit hati karena “diselingkuhi”. Mungkin tidak akan sesakit hati itu jika selingkuhnya adalah selingkuh konvesional, selingkuh yang sembunyi-sembunyi.

Semua ini mengingatkan kita pada pentingnya sebuah komitmen dalam suatu hubungan. Betapa komitmen yang tinggi dapat mencegah hal-hal yang mengancam kelangsungan hubungan terjadi. Dengan komitmen yang kuat, seseorang akan dapat mempertahankan diri dari godaan selingkuh. Kalaupun ada pihak ketiga yang muncul dalam suatu hubungan, maka ia akan berusaha mencari cara untuk mempertahankan hubungannya, bukannya malah menyerah dan berganti pasangan. Hubungan yang demikian ini akan sangat indah bagi kedua pihak.

Menurut saya ada benarnya juga bahwa masa penjajakan yang cukup memegang peranan yang penting dalam suatu hubungan. Dalam masa penjajakan, bukan hanya kita berusaha mengenal pasangan kita lebih jauh, tapi juga mempersiapkan diri kita secara mental serta membangun komitmen kita. Ketika komitmen yang kuat sudah terbangun, barulah kita bisa melangkah lebih jauh lagi. Jika tidak, maka jangan terburu-buru. Bertindak grusa-grusu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Bukan tidak mungkin hubungan itu nantinya malah berakhir dengan sakit hati.

Saya sendiri pernah punya pengalaman buruk tentang komitmen. Saat SMP, saya berpacaran dengan adik kelas. Saat lulus, kami berpisah. Waktu itu tidak ada kata putus sama sekali, tapi saya seolah mencampakkannya, tidak pernah mengontaknya dan sebagainya. Kami seperti hidup sendiri-sendiri. Hal ini berlangsung selama kurang lebih setahun sampai akhirnya dia masuk ke SMA yang sama dengan saya. Setelah beberapa bulan, dia meminta putus. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya sudah jadi lelaki yang brengsek. Jadi, kami putus dengan baik-baik. Sampai sekarang, tiap kali bertemu, kami selalu merasa canggung. Kami bahkan bertindak seolah-olah tidak kenal satu sama lain. Pengalaman ini membuat saya merasa sangat buruk. Selama itu memang saya tidak pernah berselingkuh, tapi saya menggantung status hubungan kami selama itu. Saya tahu dia tersiksa, dan itu yang membuat saya sebagai seorang pria merasa sangat bersalah. Sampai sekarang, saya belum pernah berpacaran lagi. Masih banyak hal yang perlu saya persiapkan sebelum saya bisa memulai suatu hubungan lagi.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Bagaimana hubungan Anda dengan pasangan? Apapun itu, semoga tulisan saya kali ini dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua. (*)

Iklan
Saya Anti Selingkuh, Maka Saya Jadi Player

11 pemikiran pada “Saya Anti Selingkuh, Maka Saya Jadi Player

  1. Saya pikir kalau tidak ada selingkuh dalam arti ganti pasangan, akan begitu banyak orang-orang yang belum ketemu pasangan/ belum punya pacar. Karena sebagian besar dari mereka punya pacar yang putus dari pacar yang sebelumnya. Jadi asal tidak melecehkan pasangan sebelumnya,berganti pacar yang baik, adalah keputusan mencari pasangan yang benar2 cocok, sebelum nanti di ajak langgeng ke mahligai perkawinan. Ngomong seperti ini saya sok tahu saja, pada hal hari gini belum pernah berganti pasangan, tidak pernah selingkuh. Kalau niat sih ada. Terserah mau percaya atau tidak!
    Salam blogger! Sering mampir ya di blog saya. Biar sedikit rame.

    Suka

    1. kalau yg itu beda kasus om. yang sy ceritakan ini agak memprihatinkan. gini2, si cowok itu habis jadian sm cewek, baru tiga hari, si cwewk sdh diputus dan hari berikutnya si cowok sdh jadian lagi sm cewek lain.

      jadi, bukan perkara ganti pasangannya untuk mencari pasangan lain yg lebih baik gitu om, tp menghargai komitmennya. kalau yg sprti sy ceritakan di atas itu, yg kasihan kan ya si ceweknya, jadi sakit hati banget. kok ya si cowoknya ini gampang banget tarik-lepas gitu lhoo… kalau selingkuh (dan nggak ketahuan), mungkin si cewek ini lebih tidak sakit hati, lha wong nggak ketahuan.

      anyway, sy sendiri juga nggak pernah selingkuh kok om.

      salam hangat!

      Suka

      1. Itu kalau cowoknya selingkuh, tapi kalau yang selingkuh si cewek? Memang apa nggak ada cewek yang selingkuh.
        Logikanya juga yang diselingkuhi oleh cowok, itu kan cewek. Mending kalau cewek itu baru pertama itu pacaran, kemungkinan lain, cewek itu adalah orang yang selingkuh dari cowoknya yang lain.

        Suka

  2. hmmm…
    semoga mereka yg pernah selingkuh, segera mendapatkan balasannya (yaitu merasa perihnya diselingkuhi oleh yg tercinta).

    jadi lantas KAPOK dan ga mengulangi perbuatannya lagi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s