Korupsi dan Ikan-Ikan di Danau

Kasus Century menggeliat lagi. Setelah seolah-olah menghilang, tertutupi oleh berbagai kasus lain, kini kasus ini mulai merebak lagi, terutama setelah adanya pembentukan tim pengawas dari DPR yang sudah disahkan dalam rapat paripurna kemarin lusa (26/4).

KPK sebagai lembaga yang dipercaya menangani kasus ini kembali disorot. Adanya tim pengawas bentukan DPR ini pun sebagai langkah lanjutan dari banyaknya opini publik yang menilai kinerja KPK lambat dalam menyelesaikan kasus Century ini. Bahkan, mulai muncul anggapan bahwa ada pihak tertentu yang mengintervensi KPK dalam hal ini.

Yang terbaru, keputusan KPK mendatangi kantor Boediono dan Sri Mulyani pada hari ini (28/4) untuk meminta keterangan terkait kasus ini kembali menuai protes. Rencana ini banyak dikritisi oleh anggota dewan dalam rapat dengar pendapat KPK dengan komisi III DPR kemarin (27/4), selain kinerja KPK secara umum. Beberapa anggota dewan mengemukakan pendapat mereka agar pemeriksaan ini dilakukan di kantor KPK saja supaya sesuai dengan asas equality before the law. Beberapa bahkan menjadikan kasus penangkapan Misbahun, salah seorang anggota DPR sekaligus insiator hak angket Century, sebagai pembanding.

Selain masalah tempat pemeriksaan Boediono dan Sri Mulyani, rapat yang berlangsung seharian tersebut juga membahas kinerja KPK dalam menangani berbagai macam kasus. Mulai dari proses penyelidikan dan penyidikan, eksekusi kasus, sampai kerja sama KPK dengan lembaga hukum lain, seperti kepolisian dan kejaksaan, dalam menyelesaikan suatu kasus.

Baiklah, saya sudah menggiring Anda terlalu jauh. Yang ingin saya bahas sebenarnya bukan isi rapat dengar pendapat tersebut atau bagaimana kinerja KPK dalam membongkar kasus Century. Yang ingin saya bicarakan adalah pernyataan yang dilontarkan oleh salah seorang pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto, dalam rapat kemarin.

Dalam rapat tersebut, Bibit mengatakan bahwa korupsi di negeri ini banyak sekali. Bahkan, menurutnya, dalam setiap lembaga yang dimasuki oleh KPK pasti ditemukan korupsi. Mulai dari pemerintah pusat, DPR, sampai pemerintah daerah. Yang menarik adalah analogi yang digunakan oleh Bibit. Menurut Bibit, korupsi di negeri ini sudah seperti ikan di salah satu danau yang ada di Kalimantan (saya lupa nama danau tersebut). Saking banyaknya ikan, bila kita menaiki perahu ke tengah danau, dengan mudah kita bisa menangkap ikan hanya bermodalkan tangan kosong, tanpa jala sekalipun. Separah itukah?

Melihat pemberitaan yang berkembang di media belakangan ini, hal tersebut tidaklah mengagetkan. Issu korupsi, suap-menyuap, dan penyalahgunaan kewenangan semakin marak, seakan-akan terus bermunculan tanpa henti. Semua kenyataan ini benar-benar membuat saya miris. Tujuh belas tahun sudah saya hidup di negeri ini, tapi saya tidak bisa memastikan apakah sepuluh atau dua puluh tahun kedepan saya masih betah tinggal di sini bila keadaannya terus seperti ini.

Di antara negara-negara ASEAN, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat korupsi tertinggi. Kita bahkan masih kalah dengan Kamboja yang notabene negara yang lebih kecil dibanding Indonesia. Kita perlu membanggakan sesuatu dan itu jelas bukan korupsi.

Meskipun demikian, bukanlah suatu perkara yang mudah untuk memberantas korupsi di negeri ini, mengingat virus korupsi ini sudah tersebar di berbagai lembaga, baik kecil maupun besar. Bukan hanya itu, budaya korupsi ini rasanya sudah sedemikian mengakar dalam kehidupan bermasyarakat kita, bahkan seolah membangun sistemnya sendiri yang besar namun terselubung. Yang paling menyusahkan adalah kenyataan bahwa lembaga hukum yang kita miliki, Polri dan kejaksaan, sudah tidak lagi bisa dipercaya sepenuhnya. Praktik suap, penyelewengan sudah masuk ke dalam tubuh kedua institusi tersebut. Supremasi hukum yang agung seolah tidak berdaya dihadapan uang.

Lantas apakah KPK jadi benteng terakhir kita? Saya harap tidak. Biar bagaimanapun, saya masih menaruh harapan besar pada lembaga hukum yang lain untuk kembali ke jalan yang benar, apalagi setelah kasus-kasus yang terkuak akhir-akhir ini. Yang penting, moral anggota dibenahi terlebih dulu. Ketika fondasi moral sudah terbangun dengan kokoh, niscaya berbagai bentuk penyelewengan tersebut tidak terjadi.

Lalu bagaimana dengan kita? Apa yang bisa kita lakukan? Bukan berarti kita tidak bisa melakukan apa-apa. Kita bisa melakukan langkah-langkah yang sesuai kapasitas kita. Tidak perlu besar-besar. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Ambillah contoh ketika Anda tidak sengaja melanggar rambu lalu lintas dan diberhentikan oleh polisi. Apa yang akan Anda lakukan? Menerima surat tilang dan menghadiri sidang atau memilih “jalan damai”? Mungkin “jalan damai” ini jauh lebih mudah dan menguntungkan bagi kita, tapi Anda tidak akan pernah tahu efek jangka panjangnya. Bisa jadi jauh lebih buruk, terkait dengan moralitas kita. Kalau kita memilih jalan ini, maka kita sudah melestarikan korupsi. Opsi pertama mungkin lebih menyusahkan, namun kita bisa lebih tenang karena sudah berlaku bersih. Dan itulah yang perlu kita wariskan kepada anak-cucu kita. Selain itu, kita juga bisa mengingatkan orang terdekat kita untuk melakukan hal yang sama. Langkah-langkah tersbut merupakan langkah yang paling kecil, tapi sesuatu yang besar bermula dari hal yang kecil bukan? Tapi, bila kita mendapat kesempatan untuk berbuat yang lebih besar, tentu kita wajib melakukannya. Apapun itu, marilah kita mulai komitmen kita untuk memberantas korupsi dan menjadikan negeri ini jauh lebih baik.

By the way, saat saya menulis postingan ini, tvOne sedang menayangkan acara Debat yang membahas perlunya hukuman mati bagi koruptor. Saya tidak hendak memperpanjang masalah ini, hanya sekedar ingin tahu, bagaimana pendapat Anda? Setuju atau tidak? (*)

Iklan
Korupsi dan Ikan-Ikan di Danau

2 pemikiran pada “Korupsi dan Ikan-Ikan di Danau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s