Kereta

Derak roda besi ini mengingatkanku akan nyanyianmu
tidak merdu, tapi cukup membuatku rindu

kulempar pandanganku ke luar jendela
terkejut aku melihat wajahmu menyembul di sana, mengintipku
ah, kiranya hanya khayalku

sesak udara di sini membawaku pada rasa saat kita menyatu, erat melekat, sesak melesak
berpeluk dan saling memagut
aih, yang satu itu takkan pernah kulupa
bahkan manis di ujung bibirku pun sungguh masih terasa

puluhan orang di sekelilingku berbagai rupa pula acara
tapi bagiku kini, mereka hanyalah angin lalu
sebab pada lelakon ini, hanya ada kau dan aku

ah… di ujung jalan besi ini, bisa kubayangkan aku memilikimu

__________

“Kita mau kemana, Bu?”

“Jalan-jalan…”

“Kenapa jalan-jalan di sini?”

Aku terdiam sejenak. “Tidak apa-apa, cari suasana baru saja. Coba kamu lihat sekeliling! Belum pernah kan kita jalan-jalan seperti ini?”

Kugandeng erat tangannya. Kuajak ia terus berjalan.

“Bu, orang-orang itu melihat kita.”

“Biarkan saja.”

Kerikil-kerikil di bawah sana seperti tertawa miris melihat kami berdua. Aku tak peduli, kugandeng tangannya dan kami terus berjalan.

“Bu, ada kereta!”

“…”

“Kereta! Bu, Ibu, ada kereta!”

Orang-orang di pinggir rel yang tadi melihati kami mulai bangkit. Sebagian menjerit.

“Ayo sekarang kita main! Kita berdua lari ke arah kereta. Ketika sudah dekat, kita segera meloncat ke samping, ya? Yang terakhir loncat kalah.”

Kucengkeram tangannya liar, lalu kami berlari ke arah kereta. Bukan, aku menyeretnya ke sana.

___________

Esoknya, berita yang sama menghiasi berbagai media. Diduga tidak kuat menahan beban hidup dan kemiskinan, seorang ibu muda mengajak anaknya bunuh diri dengan menabrakkan diri ke kereta api yang sedang melaju.

Rupanya mereka tidak pernah meloncat…

___________

Di ujung sana kau melambai, penuh kemenangan, padaku

Aku berusaha mengurai pilu keluar dari tubuhku, hanya untuk memuaskanmu

Tapi sungguh, kau takkan pernah tahu

Aku memegang tiketmu

____________

Derik derap ini mendengung di kepalaku, menggetarkannya dengan romantisme klasik

Pengap ini mengepungku, menekanku dari semua sudut yang bisa kutahu, tapi tak pernah menyesakkanku

Dan saat aku mulai memejamkan mata, mencecap rasa yang tak bisa dirasai penumpang disebelahku,

seorang ibu membangunkanku, “Kacang, Mas? Tahu, telor puyuh, permen, atau minum juga ada.”

Ah, memang masih seperti dulu… (*)

Iklan
Kereta

4 pemikiran pada “Kereta

    1. Waalaikum salam.

      Salam kenal juga. Terima kasih lho mas atas pujiannya, orang saya baru pemula ini.

      Saya sudah mampir ke blognya tapi kok ndak bisa ya?? Tulisannya blognya archived or suspended gitu…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s