Kepakkan Sayapmu Hai Garudaku!

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Seratus dua tahun sudah kita mengenal nasionalisme. Selama itu pulalah kita disatukan olehnya. Tapi, selama itu, telah banyak hal yang kita alami. Dijajah Belanda, dijajah Jepang, merdeka, mempertahankan kemerdekaan, orde lama, orde baru, reformasi, sampai sekarang ini kita sampai pada titik ini, 20 Mei 2010.

Satu pertanyaan yang patut kita ajukan pada diri kita sendiri. Sudahkah kita benar-benar bangkit?


Baiklah, itu satu pertanyaan. Pertanyaan itu bisa saja kemudian berkembang menjadi banyak pertanyaan lain. Sudahkah kita bisa memandirikan ekonomi kita? Sudahkah produk dalam negeri menjadi raja di negeri sendiri? Sudahkah budi pekerti luhur tertanam kuat dan mengakar dalam diri setia rakyat Indonesia? Sudahkah semua pejabat kita mampu menahan diri dari godaan korupsi? Sudahkah hukum kita kembali menemukan keutuhan supremasinya? Sudahkah semua hakim, jaksa, polisi dengan tegas mengatakan tidak menghadapi rayuan suap? Sudahkah kita merasa benar-benar mencintai, memiliki Indonesia? Sudahkah kita melakukan sesuatu untuk mewujudkan itu semua? Sudahkah? Sudahkah?

Sahabat, sesungguhnya kalau saya mau meneruskan, tentu pertanyaan tersebut tidak akan ada habis-habisnya. Tapi, tentu tidak akan ada substansi yang dapat kita peroleh.

Saya tahu, banyak sekali masalah di negeri ini. Satu selesai, satu muncul lagi. Lebih sering, yang satu belum selesai, yang lain sudah tidak sabar ingin muncul. Akibatnya, ruwet! Kadang-kadang, mungkin ada dari kita yang sudah demikian putus asanya terhadap negeri ini. Sudah, saya pindah ke luar negeri saja. Di sana enak, pendidikan gratis, hidup makmur, dsb. Benar kata pepatah lama, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau (meskipun kadang-kadang memang lebih hijau).

Bagi sebagian orang, berkeluh kesah jadi pilihan. Bagi yang lain, tidak. Sedikit mengutip isi buku elektronik berjudul NASIONAL.IS.ME karangan Pandji Pragiwaksono:

Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia

Mereka yang menuntut perubahan

Mereka yang menciptakan perubahan

Silakan pilih perjuanganmu.

Masih ada segelintir orang yang memilih untuk tidak hanya berkeluh kesah atau menuntut perubahan saja. Mereka memilih untuk memulai menciptakan perubahan tersebut. Kembali mengutip buku NASIONAL.IS.ME:

Lalu masih ada http://goodnewsfromIndonesia.com yang kerjanya menulis berita baik tentang Indonesia nyaris SETIAP HARI. Menjadikannya sebagai penyeimbang yang baik kepada berita berita buruk yang kita dapatkan di TV dan koran hanya supaya media mereka  “laku”. Makanya biar seimbang, “langganan” GNFI.

Ada lagi:

Bahkan, sesedikitnya, ada sebuah cara luarbiasa gampang untuk menciptakan perubahan.

Menjadi donor darah.

Blood For Life, memiliki tujuan yang mulia.

Membantu mengumpulkan darah yang sangat dibutuhkan orang orang lain di Indonesia.

Seringkali kita terima SMS atau email berantai yang mengatakan “Mohon bantuan untuk yang bergolongan darah AB. Ada yang butuh donor blablabla”

Bloof For Life atau BFL ini membantu mempersingkat kegiatan tadi.

Mereka tahu betapa sulitnya menemukan donor darah, daripada menuntut pemerintah, mereka turun dan menciptakan perubahan itu.

Namun menciptakan perubahan tidak harus menciptakan gerakan atau yayasan

Anda bisa ikutan gerakan atau yayasan yang sudah ada, yang sesuai dengan panggilan jiwa anda

See? Ada saja cara untuk berbuat sesuatu yang baik. Sebenarnya, masih ada lagi contoh lain. Untuk lengkapnya, silahkan saja download bukunya di sini.

Bukan hanya Pandji yang peduli pada negeri ini, ada lagi Mas Gembol yang mengupayakan perubahan dengan caranya sendiri: dengan desain. Memang, pria satu ini dikenal sebagai Menteri Desain Indonesia. Dia mempelopori beberapa gerakan yang bersifat nasionalis seperti gerakan Indonesia Bergerak, Cinta Indonesia, dan 1NDONESIA. Bahkan, dia membuat sebuah kompetisi desain kaos yang mengangkat tema Indonesia. Desain yang terpilih nantinya akan diproduksi dan dipasarkan melalui Distro KDRI. Begitulah cara Mas Gembol mengusahakan perubahan dengan caranya sendiri.

Mereka hanyalah contoh. Masih banyak lagi yang lain. Mungkin mereka adalah teman Anda, keluarga Anda, tetangga Anda. Lalu mengapa Anda tidak memulainya juga? Tidak perlu besar, kecil asalkan konsisten dan ikhlas tentu akan sangat berarti.

Saya mengerti bahwa susah sekali berharap pada negeri ini. Tai jangan lantas menyerah, pindah ke luar negeri bukan solusi. Mengapa bukan kita yang mengubahnya?

Perlu kita ingat bahwa sangatlah tidak mudah dulu perjuangan para pahlawan meraih kemerdekaan. Dan saat kemerdekaan itu telah diserahkan cuma-cuma kepada kita, akankah kita sia-siakan begitu saja? Menangis tentu para pahlawan itu.

Burung Garuda kebanggaan kita pernah terbang tinggi dengan gagahnya pada masa Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sriwijaya dulu. Seiring berjalannya waktu, ia harus jatuh bangun untuk kembali terbang. Jadi inilah saatnya untuk kita membantunya mengepakkan sayap, untuk benar-benar bangkit dan kembali terbang.(*)

Iklan
Kepakkan Sayapmu Hai Garudaku!

2 pemikiran pada “Kepakkan Sayapmu Hai Garudaku!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s