Head Fake, Melihat Yang Tak Terlihat

“You’re doing it all wrong, Pausch. Go back! Do it again!”

(Kau salah melakukannya, Pausch. Kembali! Lakukan lagi!)

“You owe me, Pausch! You’re doing push-ups after practice.”

(Kau berhutang padaku, Pausch! Lakukan push-up setelah latihan.)

Itulah salah satu contoh head fake yang saya alami.  Saya yakin Anda pun pernah mempunyai paling tidak satu pengalaman yang sama. Jadi, mulai sekarang, jangan pernah tutup mata Anda. Lihatlah yang tak terlihat dan jadilah bijaksana!(*)

Begitulah cara Jim Graham melatih Randy Pausch kecil bermain football. Keras memang. Tapi pelajaran berarti justru didapatkan Randy seusai sesi latihan, saat seorang asisten pelatih mendatanginya dan mengajaknya mengobrol.

Si asisten pelatih itu berkata, “When you’re screwing up and nobody says anything to you anymore, that means they’ve given up on you.” Artinya, ketika kau berbuat kesalahan dan tidak ada yang mengatakan apapun kepadamu, berarti mereka sudah menyerah dalam menanganimu.

Sekelumit kisah itu saya cuplik dari buku The Last Lecture yang disusun oleh Randy Pausch bersama Jeffrey Zaslow. Pausch divonis menderita kanker pankreas dan hanya punya waktu beberapa bulan untuk hidup. Hasil CT Scan menunjukkan adanya sepuluh tumor pada livernya. Sebelum benar-benar meninggal, ia memutuskan untuk membagi kisah hidupnya dalam sebuah kuliah umum di universitas tempatnya mengajar, Carnegie Mellon. Sebuah “kuliah terakhir” yang juga ia abadikan dalam bentuk buku. Buku yang sarat kisah dan pelajaran hidup yang inspiratif dan bermakna, yang sebagian akan saya bagikan pada Anda.

the last lecture, randy pausch, jeffrey zaslow, kuliah terakhir, head fake

Terus terang, buku ini saya pinjam dari teman saya. Setelah membaca, saya jadi tahu bahwa buku ini sangat bagus, membuat saya jadi malas mengembalikannya. Hehehe… Seperti yang saya bilang, buku ini berisi banyak pelajaran hidup, tapi ada satu yang saya ingin sekali bagi dengan Anda, sesuatu yang mungkin tanpa kita sadari ada di sekeliling kita. Pelajaran itu adalah head fake (saya kesulitan menemukan padanan kata yang pas dalam Bahasa Indonesia untuk ungkapan ini, tipuan kepala terdengar sangat ganjil).

Setelah peristiwa di atas, Pausch sadar, ketika kita melakukan suatu kesalahan, mungkin kita tidak ingin mendengar orang-orang membicarakan hal tersebut, tapi seringkali kritik tersebut adalah cara mereka mengekspresikan rasa sayang dan peduli mereka, bahwa mereka ingin membuatnya jadi orang yang lebih baik.

Coach Graham (pelatih Graham, lagi-lagi saya kesulitan menemukan padanan kata yang pas) melatih anak didiknya dengan cara yang lain. Ketika orang-orang sibuk berbicara tentang bagaimana caranya memberikan kepercayaan diri pada anak-anaknya, Coach Graham tahu betul cara yang tepat untuk membangunnya: berikan pada mereka sesuatu yang tak bisa mereka lakukan, lalu mereka akan bekerja keras sampai mereka sadar bahwa mereka bisa menyelesaikannya, dan kau hanya perlu mengulangi prosesnya. Begitulah cara Coach Graham, sesuatu yang disebut head fake, yang suka saya sebut sebagai melihat sesuatu yang tak terlihat.

Ada dua jenis head fake. Yang pertama literal. Ketika bermain sepak bola, seorang pemain akan menggerakkan kepalanya ke suatu arah, sehingga lawan mengira dia akan bergerak ke situ. Tapi kemudian, dia bergerak ke arah yang berlawanan.

Yang kedua, ini yang penting, mengajarkan sesuatu yang tidak kita sadari sampai proses mengungkapnya. Yang satu ini saya yakin Anda sering mengalaminya, sadar maupun tidak. Karena head fake ini seringkali tersembunyi dan kita musti bijaksana untuk bisa mengungkapnya.

Saya sendiri sering mendapatkan banyak head fake. Salah satu contohnya adalah ketika saya pertama kali masuk SMA, tepatnya saat masa orientasi. Rasanya sangat stress, dikelilingi oleh mbak mas panitia yang seperti selalu ingin marah tiap kali melihat wajah kami, murid baru. Bagi murid baru seperti kami, sekolah waktu itu seperti neraka dunia. Memang, kami lebih beruntung daripada teman kami di sekolah lain. Kami tidak perlu membuat berbagai macam benda ajaib, seperti kalung dari coklat dan permen, tas dari kardus, topi dari baskom, dsb. Tapi, tugasnya segambreng. Mulai dari membuat essai beberapa halaman dengan garis tepi kertas yang ditentukan ukurannya, membuat resume berita yang tayang di atas jam sembilan malam, membuat mading, dll. Bisa tidur dibawah jam sepuluh malam adalah keajaiban bagi kami.

Mungkin, bagi kami waktu itu, masa-masa tersebut adalah masa-masa terkutuk. Tapi, seiring waktu berlalu, saya bisa mengambil pelajaran yang berharga dari situ. Kami tidak disiksa, tapi kami dibina, meskipun caranya agak tidak biasa. Semua tugas-tugas berat dan tekanan-tekanan itu melatih kami untuk bisa bekerja optimal dalam kondisi paling buruk sekalipun, ketika banyak tekanan dari luar, deadline pengerjaan yang singkat, rumitnya tuntutan pekerjaan, dsb. Kami dipaksa untuk bisa keluar dari comfort zone kami dan mengeluarkan semua kemampuan kami. Kami tidak disiksa, kami dibuat bekerja keras. Satu hal yang kemudian saya rasakan sangat bermanfaat saat saya aktif mengikuti organisasi dan kepanitiaan.

Iklan
Head Fake, Melihat Yang Tak Terlihat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s