Sebuah Catatan Akhir Sekolah

Sungguh aneh tapi nyata
Takkan kulupa
Kisah kasih di sekolah
Dengan si dia

Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah kasih di sekolah

Anda tentu tahu petikan lagu dari alm. Chrisye tersebut bukan? Ya, kata orang, masa-masa sekolah, terutama SMA, adalah masa-masa yang paling indah. Dan masa tersebut baru saja saya lepaskan. Baru saja kemarin saya meninggalkan bangku SMA. Saat pesta perpisahan, rasanya semua kenangan begitu cepat berlalu.

Ah, jangan salahkan saya kalau postingan kali ini agak sedikit mellow. Saya yakin Anda pun dulu pernah mengalami yang saya alami kan? Saat Anda baru lulus SMA dan harus berpisah dengan kenangan indah yang pernah Anda lalui bersama teman Anda selama tiga tahun.

Ada pertemuan, ada perpisahan. Namun, ketika kita memang harus berpisah, rasanya kok cepat sekali ya waktu berlalu. Saya pun merasa demikian. Siapa sangka saya sudah tiga tahun bersama teman-teman sekelas saya. Kebetulan, di sekolah saya kelasnya tidak diacak, jadi selama tiga tahun teman sekelas saya ya mereka itu. Karena itu, rasanya ketika harus berpisah tentu terasa sedih sekali.

Memang sih berpisahnya bukan yang gimana gitu. Meskipun ada beberapa teman saya yang melanjutkan kuliah di luar kota dan luar negeri, toh masih ada juga yang tinggal di Surabaya. Kami toh masih bisa saling berhubungan. Teknologi sudah maju. Ada telepon, bisa sms, ada e-mail, ada Facebook, ada macam-macamlah. Tapi, biar bagaimanapun, rasanya tentu berbeda. Setiap hari selama tiga tahun kami berada di kelas yang sama, menerima pelajaran yang sama, menemui guru yang sama, berbagi kenangan yang sama. Sekarang tiba-tiba kami harus berpisah dan menjalani babak baru kehidupan kami dengan mungkin orang yang berbeda. Lagipula, apapun itu bentuknya, tak akan ada yang bisa menggantikan pertemuan secara fisik. Telepon, sms, e-mail, Facebook, rasanya tidak sama seperti bertemu langsung. Wah, saya jadi semakin sedih menulis ini.

Sekali lagi, siapa sangka sudah tiga tahun saya habiskan waktu saya bersama mereka, teman masa muda saya. Rasanya baru kemarin kami menjalani masa orientasi, dimarahi oleh mbak mas panitia karena tugas yang salah; latihan cheerliar bersama; menyisir pom-pom di jendela kelas sampai dimarahi guru; menyaksikan Edgar yang menangis karena belum mengambil ijazah; diforum oleh mbak mas Generasi.

Rasanya baru kemarin kami main lempar-lemparan karpet dan merusak tirai jendela; main kartu saat jam kosong; menonton film bersama di kelas; main chamucha; merusak kelas saat ACARA ULANG TAHUN EDGAR; dihukum bersama-sama.

Rasanya pun baru kemarin saat kami bermain ambil-barang-Fahmi-lalu-lari; blokade Fahmi; cumbui Fahmi. Ah, semuanya berasa baru kemarin!

Bukan hanya momennya, saya pun akan rindu sekali dengan orang-orangnya. Saya bersyukur bisa sekelas dengan teman-teman yang baik, lucu, aneh, ngangenin, pokoknya macam-macam. Saya akan rindu dua puluh delapan manusia itu. Saya akan rindu menjadi bagian dari mereka. Terutama, saya akan sangat merindukan Lenno Samodro Kromodihardjo dan Muhammad Fahmi, dua orang ajaib yang hanya saya temui waktu SMA. Kalian berdua, terima kasih sekali sudah banyak menghibur saya selama tiga tahun ini.

Ah, rasanya mata saya sudah berkaca-kaca. Saya juga sudah hampir tidak dapat menulis lagi karena terlalu banyak yang ingin saya ceritakan. Tapi, seperti kata orang-orang, semuanya tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.

Saya jadi ingat, dulu, waktu masih awal-awal kelas tiga, saya pernah naik motor ke sekolah sambil menyanyi lagu Ingatlah Hari Ini dari Project Pop. Ssstt… Ini bocoran saja ya. Waktu itu saya sampai nangis lho saking menghayati lagunya. Kalau diingat-ingat lagi kok rasanya konyol ya, menyetir sambil menangis. Tapi saya ini memang orangnya melankolis. Jadi, apa mau dikata?

Kamu sangat berarti
Istimewa dihati
Slamanya rasa ini

Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini

Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing. Saya berpikir, bagaimana nantinya kalau kami sudah tua, sudah kakek-nenek, lalu kami reunian sambil membawa cucu-cucu kami. Pasti lucu. Ah, mungkin saya berpikir terlalu jauh ya?

Aduh… sudah, sudah. Saya sudah tidak tahu harus menulis apa lagi. Bisa-bisa saya semakin bergelimangan air mata nanti. Sudah, sudah!(*)

Iklan
Sebuah Catatan Akhir Sekolah

4 pemikiran pada “Sebuah Catatan Akhir Sekolah

  1. ellina berkata:

    saya sudah meninggalkan sma 35 tahun yl. Sekarang, saat anak2 sdh besar dan teman2 ada yg menggendong cucu, ada saja alasan kami utk ketemu lagi, lagi dan lagi. Memang ada waktu vakum di antaranya, saat mulai meniti karir dan membangun rumah tangga, tapi memang teman sma lain rasanya. Jadi jangan terlalu sedih, kenanglah mereka sebagai sahabat yang dapat diandalkan. Menurut pengalaman, seorang sahabat selalu dapat diandalkan dalam segala hal.
    Selamat berjuang, semoga tercapai apa yang dicita-citakan…Tuhan memberkatimu dan sahabat-sahabatmu..

    Suka

    1. terima kasih atas sarannya. mungkin saya hanya terserang sindrom baru lulus SMA. rasanya masih berat meninggalkan kenangan2 selama tiga tahun. tapi tentu hidup harus terus berjalan kan?
      saya yg baru lulus saja sudah kangen begini, apalagi Anda yg sudah 35 tahun. pasti rindu berat kan?

      sekali lagi, terima kasih untuk sarannya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s