Jilbab Bukan Pakaian

jilbab, hijab

Eits, jangan terburu-buru bereaksi keras terhadap judul di atas. Lebih baik, teruskan dulu membaca sampai selesai baru berkomentar.

Memasuki bulan ramadhan ini, seperti yang sudah-sudah, pemandangan wanita berjilbab mulai sering kita temui, terutama di layar kaca. Kebanyakan artis wanita memakai jilbab, atau paling tidak kerudung, dengan alasan menghormati bulan ramadhan. Bahkan artis wanita yang non muslim sekalipun rela memakai pakaian tertutup tersebut demi tuntutan pekerjaan. Tapi, coba lihat penampilan mereka setelah, katakanlah, lebaran, kembali lagi ke gaya berpakaian mereka yang awal. Busana minim nan seksi menggoda hati. Mungkin saja ada satu dua yang mendapat hidayah dan tetap bertahan memakai jilbab. Namun, sepertinya jumlahnya sedikit sekali.

Menghormati bulan ramadhan memang perlu, bahkan harus. Tapi satu hal yang perlu dipikirkan adalah: tidak perlukah mereka (para selebritis wanita) MENGHORMATI DIRI MEREKA SENDIRI? Karena saya rasa, itulah tujuan agama Islam mewajibkan para perempuan memakai jilbab yang benar, yang menutup aurat dan melindungi pemakainya, agar mereka bisa menghormati diri mereka sendiri, untuk selanjutnya secara otomatis dihormati oleh orang lain.

Kebanyakan wanita sekarang, bukan hanya selebritis, memperlakukan jilbab sebagai pakaian. Yang berarti, harus mengikuti mode dan fashion. Ketika bulan ramadhan, maka mode yang sedang ngetren adalah busana muslim dan jilbab. Ketika ramadhan usai, modenya pun sudah ganti. Pakaiannya pun berganti juga. Oh, satu lagi. Saking modenya, sampai sekarang pun muncul berbagai macam gaya berjilbab. Ada jilbab yang dikuncir dibelakang dan memperlihatkan bagian leher, ada yang berjilbab tapi rambutnya dikeluarkan sedikit membentuk poni (saya suka menyebut yang satu ini sebagai jilbab poni), dsb. Begitukah seharusnya?

Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa jilbab bukanlah pakaian, paling tidak menurut saya. Jilbab adalah pelindung kehormatan wanita. Bagi yang memahami peranan jilbab sesungguhnya tentu tidak akan dengan asal-asalan memakai jilbab. Harusnya, sebagai wanita, jangan segampang itu mengumbar kemolekan di depan umum. Simpan sajalah kecantikan tubuhmu untuk suamimu kelak. Sesungguhnya yang demikian itu Insya Allah akan lebih baik dan barokah.

Lantas, kalau jilbab bukanlah pakaian, apakah yang sudah berjilbab harus selalu berpenampilan kaku dan monoton? Tentu tidak. Zaman sekarang ini, jilbab dan busana muslim sudah banyak jenisnya dan semuanya cantik-cantik kok. Tinggal bagaimana menyesuaikannya saja. Tapi tentu memakainya pun tetap harus memperhatikan kaidah yang benar. Jangan atasnya berjilbab tapi bajunya ketat atau dimodel aneh-aneh seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Kalau itu mah namanya sama saja bukan berjilbab, tapi krukupan.

Tapi, kalau sudah berjilbab nanti susah dapat pasangan dong? Sama sekali tidak. Saya pribadi sebagai seorang lelaki lebih suka melihat gadis yang berjilbab dengan baik daripada yang berjilbab asal-asalan atau tidak berjilbab sama sekali. Saat SMA, saya banyak melihat teman perempuan saya yang awalnya tidak berjilbab akhirnya memutuskan memakai jilbab. Dan hasilnya, subhanallah, mereka terlihat lebih cantik, lebih anggun. Sungguh! Meskipun ini masalah selera, tapi saya yakin banyak lelaki di luar sana yang berpikiran sama dengan saya. Lagipula, apa sih sebenarnya yang mau dikhawatirkan? Toh permasalahan jodoh itu sudah ditentukan oleh Allah SWT. Betul tidak? Jadi, mengapa musti ragu atau takut?

Sedikit bercerita, saya pernah menonton film di televisi yang dibintangi oleh Happy Salma. Karena tidak menonton secara utuh, saya jadi tidak tahu judulnya. Di situ, Happy Salma berperan sebagai seorang gadis desa yang sedang mencari pekerjaan. Akhirnya, dengan bantuan temannya, ia mendapat pekerjaan di sebuah warung makan. Namun, Bu Hajjah pemilik warung tersebut mengharuskan pekerjanya memakai jilbab. Padahal, peran yang dimainkan oleh Happy di situ tidak suka memakai jilbab.

Dalam suatu adegan, diceritakan di tengah-tengah bekerja, Happy mencopot jilbabnya. Hal ini diketahui oleh Bu Hajjah dan dia pun ditegur.

“Kenapa jilbabnya dilepas?”

“Panas, Bu.”

“Kamu tahu, di neraka itu lebih panas lagi!”

Pembicaraan singkat ini sederhana, namun benar-benar mengena. Sayang, saya tidak menonton sampai selesai, jadi saya tidak bisa bercerita lebih lanjut. Tapi paling tidak, pesan intinya sudah tersampaikan: di neraka itu jauh lebih panas daripada sumuknya pakai jilbab.

Aduh, tapi saya kan belum siap.
Percayalah, kalau Anda hanya mencari kesiapan tanpa mulai bertindak, bisa-bisa Anda malah tidak akan memulai sama sekali. Jadi, coba saja dan biasakan diri Anda mulai dari sekarang. Biarkan hati dan mental Anda mengikuti.

Oh, lalu mengapa saya menyinggung-nyinggung selebritis di awal tulisan? Bukannya apa-apa. Bukan juga bermaksud mendiskreditkan profesi tertentu. Hanya saja, selebritis kan sosok yang sering dijadikan role model oleh banyak kalangan. Nah, harusnya mereka itu bisa memberi contoh yang baik dan inspiratif kan?

Yah, semoga saja tulisan singkat saya ini bisa Anda, para perempuan, jadikan bahan pemikiran, renungan, atau apapun untuk mulai melangkah ke arah yang lebih baik.

Iklan
Jilbab Bukan Pakaian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s