Yang Terlihat Lucu Kadang Tidak Selucu Itu

teletubbies, badut

Menjelang siang hari yang cukup panas, sekitar pukul 11.00, tiba-tiba ada seorang badut berkostum teletubbies berhenti di depan rumah saya. Dia membawa sebuah kotak musik yang memutar lagu anak-anak Twinkle Twinkle Little Star.

Awalnya saya hanya diam saja melihat badut itu. Terus terang saya bingung, mau apa badut ini. Beberapa saat kemudian, waktu ia mulai bergoyang bersama iringan lagunya, saya mulai sadar, oh… badut ini mau ngamen.

Seketika saya buru-buru masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang. Saat berjalan, sempat terbesit dalam pikiran saya, kok nggak malu ya orang itu, pakai kostum badut kayak gitu terus keliling dari satu rumah ke rumah yang lain, ditambah lagi dengan konyolnya dia goyang-goyang di depan rumah orang seperti itu.  Saya hanya tersenyum kecil waktu itu. Lalu, saya mengubek-ubek tempat recehan saya. Kebetulan ada dua koin lima ratusan. Ya sudah, langsung saya ambil saja. Kemudian saya kembali lagi ke depan untuk memberikannya.

Waktu saya mengulurkan uang yang jumlahnya tidak seberapa itu, entah kenapa tiba-tiba saya berpikir, kasihan juga ya orang ini. Setelah diberi uang, badut itu lalu pergi mendatangi rumah yang lain. Saya masuk lagi ke dalam rumah sambil masih berpikir tentang badut tadi.

Seketika itu saya merasa bersalah. Untuk sesaat, saya sempat merendahkan badut tadi. Saya lalu berpikir, bagaimana kalau misalnya saya berada di posisinya. Katakanlah saya tidak punya pekerjaan sehingga harus mengamen dengan cara seperti itu demi mendapat uang. Tentu itu sama sekali bukan sesuatu yang lucu, mengingat berada dalam kostum seperti itu, berjalan kaki dari satu rumah ke rumah yang lain di siang hari yang terik, bulan puasa lagi, pastinya sangatlah panas, sumuk, dan melelahkan. Terlebih lagi kalau misalnya ada istri dan anak-anaknya yang menunggu hasil kerjanya di rumah. Ah, saya benar-benar menyesal sempat menilai negatif badut tadi. Apalagi saya hanya memberi seribu rupiah, tidak sebanding dengan kerja kerasnya.

Saya sadar, kita tidak berhak menilai rendah orang hanya dari pekerjaannya. Kita toh sama-sama manusia. Saya yakin, kalau disuruh memilih antara jadi badut seperti itu atau menjadi seorang manajer kantor, tentu orang tersebut lebih memilih yang kedua. Tapi, Allah SWT menggariskan lain. Tapi saya yakin, rezeki itu sudah diatur oleh Yang Diatas. Dan untuk om badut tadi, pasti Allah SWT sudah menyiapkan jalan yang lebih indah.

Maafkan saya ya, Om Badut…(*)

Iklan
Yang Terlihat Lucu Kadang Tidak Selucu Itu

3 pemikiran pada “Yang Terlihat Lucu Kadang Tidak Selucu Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s