iPad? Nanti Dulu Deh…

Meskipun sudah menyandang gelar alumni, sesekali saya masih sering mampir ke SMA untuk menengok adik-adik kelas saya, terutama yang ada di Smalapala, organisasi pecinta alam dimana saya pernah tercatat sebagai anggota. Beberapa minggu lalu, saat kumpul-kumpul, salah satu adik kelas saya yang bernama Aji bercerita bahwa dalam waktu dekat ia akan menenteng iPad ke sekolah. Saya lantas berpikir, wah, iPad. keren juga nih anak. Beberapa waktu kemudian, ketika saya mampir lagi, anak-anak sudah tampak mengerubungi sebuah benda kotak tipis hitam dengan antusias. Ooh… Jadi itu yang namanya iPad.

Si Aji ini katanya dapat iPad itu secara gratis. Ya, bukan dia sih yang dapat, tapi bapaknya yang kerja di TNI. Bapaknya memang memegang jabatan yang lumayan juga di jajarannya. Saya jadi sempat berpikir, sebegitu besarnya ya pengaruh teknologi zaman sekarang sampai tentara pun juga perlu iPad.

Karena iPad ini memang masih barang baru, tidak heran para anak muda tadi masih begitu norak dan saling berebutan meminjamnya. Kalau boleh ngaku, sebenarnya saya ya ingin pinjam juga sih. Ingin juga rasanya merasakan yang namanya teknologi terkini. Tapi karena antrenya seperti itu, yang tua ngalah dulu deh, nanti-nanti saja dulu.

Akhirnya, setelah beberapa lama, saya dapat juga kesempatan emas untuk memegang iPad tersebut dengan tangan saya sendiri. Ternyata memang inilah yang disebut teknologi terkini. Saking terkininya, saya sampai canggung memegangnya Lebih tepatnya saya bingung, mau apa saya dengan benda ini. Akhirnya, saya hanya membiarkan jari saya menggeser-geser layar, melihat aplikasi-aplikasi yang ada -yang sebagian besar games, mengklik beberapa aplikasi, merasa tidak tertarik -atau bingung, kembali ke home screen, dan akhirnya merelakan komputer tablet tersebut direbut lagi oleh sekumpulan bocah yang sejak sebelumnya sudah berkerumun di dekat saya dengan wajah nafsu menunggu giliran memegang iPad.

Terus terang, saya agak kecewa juga sih waktu itu. Dari banyak ulasan-ulasan yang saya baca di majalah atau di tabloid, tampaknya iPad ini begitu mempesona. Perusahaan-perusahaan lain pun sampai berlomba mengeluarkan produk komputer tabletnya hanya untuk menyaingi teknologi terkini besutan Apple ini. Sayangnya, apa yang saya cari -dari apa yang saya baca di majalah- tidak saya temukan di iPad milik Aji tersebut. Ehm, bukan salah dia juga sih. Harusnya kalau saya ingin punya iPad yang sesuai keinginan saya, ya saya harus punya sendiri. Pertanyaannya adalah: Perlukah saya punya iPad untuk saat ini?

Sejak pertama kali diperkenalkan kepada publik tahun 2010 lalu, pesona iPad memang begitu mentereng. Meskipun bukanlah produk komputer tablet pertama yang dibuat, kemunculannya bisa dibilang menjadi tonggak bagi era komputer tablet saat ini. Kesuksesan ini tak lepas dari nama besar Apple yang sudah tersohor dalam menciptakan gadget berteknologi canggih dan berdesain elegan. Dalam sekejap saja, iPad mampu mencapai angka penjualan yang fantastis. Dan berikutnya, bisa dipastikan, produsen gadget lain pun mulai berlomba menciptakan produk sejenis. Agar ada nilai tambahnya, mereka menambahkan fitur-fitur yang tidak bisa ditemui pada iPad, misalnya kemampuan bertelepon. Walaupun demikian, toh posisi iPad masih tidak tergeser.

Sayangnya, daya tariknya masih belum benar-benar menghasut saya untuk membelinya. Secara pribadi, saya punya beberapa pertimbangan. Yang pertama, sampai saat ini saya masih belum bisa menemukan gadget apa yang bisa efektif disubstitusikan dengan iPad. Dengan harga sekitar lima juta rupiah (harga dari official store Apple Indonesia di internet, kalau beli di toko, harganya mungkin jauh lebih mahal), harusnya iPad sudah bisa menggantikan fungsi netbook atau smartphone yang sudah canggih sekali. Tapi, pada kenyataannya, belum bisa. Pernah suatu waktu, saya perlu mentransfer data dari flashdisk ke handphone. Biasanya, saya hanya tinggal mencolokkan flashdisk ke port USB laptop dan mulai mentransfer menggunakan bluetooth. Karena waktu itu tidak ada laptop, saya pun meminjam iPad. Yang ada dipikiran saya saat itu, karena namanya komputer tablet, ya pasti ada colokan USB-nya. Komputer kan memang identik dengan USB. Saya juga mengira kalau iPad pasti ada bluetooth-nya. Masa sih barang jutaan seperti itu tidak ada bluetooth-nya, wong handphone yang ratusan ribu saja sekarang sudah banyak yang giginya biru. Selanjutnya, saya mulai memutar-mutar iPad tersebut dan meneliti setiap sisinya. Orang yang melihat mungkin akan mengira saya sedang mengagumi keindahan desain tampilan & material iPad, tapi sebenarnya saya sedang berpikir, “Ini colokan flashdisk-nya mana sih?“. Begitulah, kira-kira sampai beberapa saat kemudian saya baru benar-benar yakin bahwa iPad ini memang tidak punya USB port. Yah… Penonton kecewa.

Yang kedua adalah masalah efektivitas iPad sendiri untuk saya. Sebenarnya, iPad ini kebutuhan atau keinginan saya? Kalau saya punya iPad, mau saya isi apa nantinya? Aplikasi yang menunjang kuliah saya atau… game? Memang, game yang ada di iPad terlihat sangat menarik untuk dimainkan. Secara, touchscreen… Tapi, kalau nanti saya jadi punya iPad, dan kemungkinan besar isinya game, bisa-bisa saya termakan godaannya dan bukannya menyelesaikan tugas, saya malah mengajak dosen asisten saya bermain game. Nah lho?!

Untuk urusan hiburan, iPad memang rajanya. Tapi, saya rasa belum saatnya saya membutuhkan hiburan sekelas iPad. Ketimbang membeli hiburan atau gengsi (ini nih, sebagian besar alasan orang punya iPad) seharga lima juta, lebih baik saya bayar SPP kuliah saja sampai tiga semester. Pasti lebih bermanfaat.

Eits, bukan berarti saya nggak pengin punya iPad lho ya. Pengin sih pengin, tapi nanti, kalau saya sudah jadi arsitek, sudah kaya. Ya, kalau sudah begitu sih, bukan cuma iPad, tapi yang lebih canggih lagi juga saya beli. Untuk saat ini? Belum dulu deh, kecuali… iPad bisa berubah menjadi robot yang menggambarkan dan mewarnai tugas perancangan saya. Hehehe… (*)

Iklan
iPad? Nanti Dulu Deh…

4 pemikiran pada “iPad? Nanti Dulu Deh…

  1. anisa mulia berkata:

    “Pengin sih pengin, tapi nanti, kalau saya sudah jadi arsitek, sudah kaya. Ya, kalau sudah begitu sih, bukan cuma iPad, tapi yang lebih canggih lagi juga saya beli. ”

    mengamini yang ini. amiiiin 🙂

    Suka

  2. iPad itu sifatnya bukan untuk menggantikan HP ataupun laptop.
    yaaa kayak iPod gitu lah fungsinya, cuman dia lebih besar.
    keluar masuk data-nya susaaah karena gak ada colokan flashdisc.

    saya pribadi sama sekali bukan penggemar iPhone atau Mac.
    apalagi iPod.
    tp saya suka pake iPad 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s