Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Kincir Angin

Masih rangkaian artikel saya untuk Kompetiblog 2011, ini tulisan saya yang kedua.

 

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Kincir Angin

 

Anda yang muslim tentu tahu bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk senantiasa menuntut ilmu, bahkan sampai ke negeri China. Melalui pesan tersebut beliau menekankan pentingnya ilmu sebagai bekal kita, sehingga jarak yang jauh pun tidak bisa dijadikan halangan dalam meraihnya. Persoalan dimana mencarinya, tentu tidak harus melulu ke China. Itu kan hanya satu contoh. Mungkin saja pada zaman itu China sedang dalam masa emas pada bidang keilmuan. Kalau sekarang, saya rasa banyak juga negara lain yang bisa jadi tujuan. Yah, China juga tidak buruk sih. Kalau saya ditanyai apa mau belajar di negara tirai bambu tersebut pasti saya langsung menjawab iya, andai saja pendidikan di sana diantarkan dalam bahasa Inggris, syukur-syukur Indonesia (yang ini agak terlalu mengkhayal, saya tahu).

Pelajaran bahasa Mandarin baru saya dapat di bangku kelas X (1 SMA). Bahasa tersebut saya pelajari selama tiga tahun. Ironisnya, sampai sekarang saya sudah lulus, saya masih belum cukup percaya diri untuk mengucapkan kata selain ‘ni hao’ dan ‘zai zian’, apa kabar & sampai jumpa. Seingat saya pun, pelajaran yang saya dapat selama tiga tahun tidak berkisar jauh dari situ.

Mungkin memang bahasa Mandarin yang agak terlalu rumit. Boleh jadi bahasa asing lain tidak sesulit itu. Harusnya, jika saya punya motivasi yang kuat, bisa saja saya ambil kelas persiapan atau kelas intensif bahasa, katakanlah paling lama setahun, lalu saya sudah siap berangkat ke negeri seperti Jerman, Perancis, Jepang, dsb. Hanya saja, rasanya tidak semudah itu. Bahasa ilmiah yang digunakan dalam perkuliahan di universitas tentu akan sangat berbeda dari sekadar bahasa sapa-menyapa atau berbasa-basi. Lagipula, saya sudah hampir sepuluh tahun belajar bahasa Inggris (sejak kelas 3 SD). Jadi, kalau disuruh memilih, saya lebih memilih kuliah berbahasa Inggris. Saya memang belum sejago itu bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Tapi, paling tidak saya jauh lebih menguasai bahasa ini dibanding bahasa asing lain. Karena masalah bahasa ini, saya menjatuhkan preferensi saya pada Belanda, negara berbahasa non-Inggris pertama yang berani menawarkan program studi berbahasa Inggris.

Mengapa bukan Amerika atau sekalian langsung saja ke Inggris? Jawabannya simpel: biaya. Dibanding negara lain, biaya pendidikan di Belanda cukup kompetitif. Sekarang, siapa coba yang tidak mau mendapat pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau?

Sejak SMA, promosi kuliah di luar negeri dari Belanda selalu berhasil menarik perhatian saya. Sampai sekarang pun masih, terutama karena brosurnya yang cantik sebab dihiasi warna oranye yang terang. Hanya saja, sayangnya dulu saya belum memiliki niat melanjutkan kuliah di luar negeri. Lebih tepatnya, saya tidak memiliki niat untuk melanjutkan kuliah. Sekarang, saya bersemangat sekali untuk kuliah di luar negeri. Yah, semoga saja dua minggu summer school ini (kalau lolos, amin) nantinya bisa jadi langkah penjajakan awal yang berarti.(*)

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Kincir Angin

Rumput Belanda

Wah, sudah berapa lama ya saya tidak ngeblog? Kalau ibarat rumah, mungkin sekarang ini blog saya sudah masuk tahap suwung, debu dimana-mana, sarang laba-laba merajalela, kecoa dan tikus berlarian. Persis seperti rumah-rumah kosong berhantu yang sering muncul di film-film horror itu lho.

Ironis sekali memang, mengingat sekarang ini saya justru sedang aktif di Komunitas Online Arek-ITS.com pada grup Facebook saya (selain menggarap tugas lho ya…). Yah, sekumpulan blogger begitulah. Dan saya ini termasuk yang suka memancing kontroversi. Hehehe… Tapi, biarpun aktif di komunitas blogger, blognya sendiri malah tidak pernah diurus. Daripada merasa bersalah yang berkepanjangan, nih, saya kasih satu update dulu. Copy-paste sih, tapi wong yang nulis ya saya sendiri ini, jadi ndak masalah toh?!

Tulisan ini termasuk satu di antara dua artikel yang saya ikutkan Kompetiblog 2011 lalu. Sayangnya, artikel ini belum berhasil membawa saya ke Belanda mengikuti summer school selama dua minggu. Yah, paling tidak saya ada produk tulisan lah. Jadi otak saya ini sempat dibuat mikir, bukannya galau melulu mikirin tugas. Walah, jadi melantur begini. Ya sudah, monggo dibaca saja. Jangan lupa komentarnya ya!

Rumput Belanda

white tulip, bunga tulip, tulip belanda, tulip putih, bridal tulip, tulip pengantin, tulip pernikahanPepatah lama bilang rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Tidak sedikit juga yang membenarkan hal ini. Kalau yang mengamati itu tidak punya rumput di halamannya atau malah tidak punya halaman, ya saya rasa tidak usah dibahas lebih lanjut lagi. Namun, jika ia juga memiliki rumput di halamannya, entah itu memang ditumbuhkan atau tumbuh dengan sendirinya, kemungkinannya jadi dua. Yang pertama, sang pengamat rumput tetangga ini termasuk tipe orang yang kurang percaya diri, sehingga selalu merasa bahwa milik tetangganyalah yang selalu lebih segar dan lebih baik dari miliknya. Padahal, aslinya mungkin ya nggak jauh-jauh amat bedanya. Kemungkinan kedua, rumput tetangganya itu ternyata memang lebih hijau, baik karena jenis rumputnya yang lebih super maupun perawatannya yang lebih intens.

Kalaulah orang Indonesia menganggap negeri Belanda sebagai tetangganya, barangkali yang berlaku adalah kemungkinan kedua. Perkara ini pun sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Entah memang demikian adanya -warna “rumput” Belanda lebih hijau, atau orang Indonesianya yang terlalu minder dengan negaranya sendiri, jadinya sangat meyakini bahwa rumput di sana memang lebih hijau, bukan sekedar kelihatannya. Mana yang benar? Kalau Anda tanya saya, saya akan langsung kabur, menghindar. Terus terang saya agak bingung juga harus menjawab seperti apa. Lanjutkan membaca “Rumput Belanda”

Rumput Belanda