Rumput Belanda

Wah, sudah berapa lama ya saya tidak ngeblog? Kalau ibarat rumah, mungkin sekarang ini blog saya sudah masuk tahap suwung, debu dimana-mana, sarang laba-laba merajalela, kecoa dan tikus berlarian. Persis seperti rumah-rumah kosong berhantu yang sering muncul di film-film horror itu lho.

Ironis sekali memang, mengingat sekarang ini saya justru sedang aktif di Komunitas Online Arek-ITS.com pada grup Facebook saya (selain menggarap tugas lho ya…). Yah, sekumpulan blogger begitulah. Dan saya ini termasuk yang suka memancing kontroversi. Hehehe… Tapi, biarpun aktif di komunitas blogger, blognya sendiri malah tidak pernah diurus. Daripada merasa bersalah yang berkepanjangan, nih, saya kasih satu update dulu. Copy-paste sih, tapi wong yang nulis ya saya sendiri ini, jadi ndak masalah toh?!

Tulisan ini termasuk satu di antara dua artikel yang saya ikutkan Kompetiblog 2011 lalu. Sayangnya, artikel ini belum berhasil membawa saya ke Belanda mengikuti summer school selama dua minggu. Yah, paling tidak saya ada produk tulisan lah. Jadi otak saya ini sempat dibuat mikir, bukannya galau melulu mikirin tugas. Walah, jadi melantur begini. Ya sudah, monggo dibaca saja. Jangan lupa komentarnya ya!

Rumput Belanda

white tulip, bunga tulip, tulip belanda, tulip putih, bridal tulip, tulip pengantin, tulip pernikahanPepatah lama bilang rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Tidak sedikit juga yang membenarkan hal ini. Kalau yang mengamati itu tidak punya rumput di halamannya atau malah tidak punya halaman, ya saya rasa tidak usah dibahas lebih lanjut lagi. Namun, jika ia juga memiliki rumput di halamannya, entah itu memang ditumbuhkan atau tumbuh dengan sendirinya, kemungkinannya jadi dua. Yang pertama, sang pengamat rumput tetangga ini termasuk tipe orang yang kurang percaya diri, sehingga selalu merasa bahwa milik tetangganyalah yang selalu lebih segar dan lebih baik dari miliknya. Padahal, aslinya mungkin ya nggak jauh-jauh amat bedanya. Kemungkinan kedua, rumput tetangganya itu ternyata memang lebih hijau, baik karena jenis rumputnya yang lebih super maupun perawatannya yang lebih intens.

Kalaulah orang Indonesia menganggap negeri Belanda sebagai tetangganya, barangkali yang berlaku adalah kemungkinan kedua. Perkara ini pun sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Entah memang demikian adanya -warna “rumput” Belanda lebih hijau, atau orang Indonesianya yang terlalu minder dengan negaranya sendiri, jadinya sangat meyakini bahwa rumput di sana memang lebih hijau, bukan sekedar kelihatannya. Mana yang benar? Kalau Anda tanya saya, saya akan langsung kabur, menghindar. Terus terang saya agak bingung juga harus menjawab seperti apa.

Yang jelas, ketika memutuskan untuk mengikuti lomba ini dan disuguhi pertanyaan ‘Belanda masuk dalam 10 negara terbaik di dunia dalam berbagai macam hal, apa pendapatmu?’, saya langsung manggut-manggut. Iya sih, negara Belanda ini emang kelihatannya keren banget.

Dibanding Indonesia, wilayah negara kincir angin ini tak sampai seperempatnya. Tapi, soal prestasi, saya tak berani menyebut seberapa jauh bangsa kita bisa menyamai Belanda. Yang jelas, untuk saat ini, cukup terasa kesenjangannya. Padahal, kalau bicara soal “kualitas rumput”, sepertinya Indonesia nggak kalah-kalah amat. Sumber daya alam? Jelas melimpah. Sumber daya manusia? Luar biasa. Secara kuantitas, Indonesia menang telak. Dari segi kualitas pun tidak bisa diremehkan. Buktinya, sering kita temui berita tentang orang Indonesia yang berprestasi internasional (tentu kisah Ariel Peterporn yang mendunia tidak dihitung). Lantas, mengapa Belanda masih belum terkejar?

Soal kepintaran, orang Indonesia memang tidak kalah. Namun, bagaimana dengan mentalitas? Orang Belanda konon sangat terbuka dan berterus terang. Mereka mengungkapkan kritik secara langsung dan lugas. Dan, untungnya, mereka bukan orang yang mudah tersinggung menghadapi kritik semacam itu. Secara logika, harusnya hal ini membuat pemerintahnya bekerja lebih efektif. Mereka dikritik -dengan keras- dan memperbaiki diri, bukannya sibuk memikirkan perasaan hatinya yang terluka akibat kritik pedas dari rakyatnya atau sibuk memperbaiki citra.

Selain itu, mereka terkenal sebagai ‘self-service country‘, negara yang memenuhi kebutuhannya sendiri. Mereka memang negara kecil, “rumputnya” pun tak seberapa luas. Tapi mereka percaya diri bahwa mereka bisa mengolah “rumput” yang sedikit itu, bukannya mempercayakannya untuk dirawat oleh orang lain. Itulah nilai lebih negara Belanda yang, secara harfiah, lebih rendah dari negara kita.

Semangat bangsa Belanda dalam mengolah “rumput” dan “mengangkat” negaranyalah yang perlu kita teladani. Sehingga, suatu saat nanti kita pun bisa menyelenggarakan lomba yang bertema ‘Indonesia masuk dalam 10 negara terbaik di dunia dalam berbagai macam hal, apa pendapatmu?’ yang hadiahnya kursus singkat ke ITS. Tunggu, Anda tahu ITS kan?(*)

Iklan
Rumput Belanda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s