Dunia Maya: Sebuah Pelarian.

Anda tentu masih ingat dengan kasus cicak versus buaya. Bulan Oktober dua tahun silam, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah, dua pimpinan KPK, ditahan atas tuduhan penyalahgunaan wewenang dan menerima suap. Banyak pihak yang curiga hal tersebut hanyalah upaya kong kalikong kepolisian dan kejaksaan dalam melemahkan KPK. Masyarakat bergolak. Tiba-tiba saja muncul Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto di dunia virtual. Simpati pun terus mengalir. Dalam waktu yang relatif singkat, gerakan tersebut telah mencapai target, bahkan melebihinya.

Saya ini orang yang awam tentang hukum. Namun, saya cukup tahu bahwa tidak ada undang-undang yang mengatur bahwa seseorang bisa kebal hukum saat ia memiliki banyak pendukung. Kalaupun ada, mungkin wartawan infotainment yang akan protes karena tidak akan ada selebriti yang tersangkut kasus hukum -yang artinya mengurangi berita bagi mereka. Hukum seperti itu, sekali lagi, tidak ada. Paling tidak sampai saat ini.

Gerakan satu juta Facebookers tadi memang tidak langsung membebaskan Bibit-Chandra. Gaungnyalah yang melakukannya. Sekalipun dikenal sering curhat, saya yakin Pak SBY tidak ingin dikenal sebagai seorang pemimpin yang gemar mengacuhkan rakyatnya. Satu juta memang tidak banyak ketika dibandingkan dengan 220 juta penduduk Indonesia secara keseluruhan. Tetapi, tampaknya cukup besar untuk menarik perhatian seorang presiden. Maka, bertindaklah SBY dengan membentuk Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum atau tim 8. Tim inilah yang kemudian ditugaskan oleh SBY menyelesaikan kasus Bibit-Chandra. Setelah beberapa waktu, singkat kata, pada akhirnya kasus tersebut digugurkan sebelum masuk ke pengadilan. Rakyat Indonesia, melalui social media, berhasil mendapatkan apa yang mereka mau.

Betapa kasus tersebut menjadi salah satu gambaran betapa hebatnya kekuatan internet dan social media di negeri ini. Dalam film dokumenter buatan Linimas(s)a, diungkapkan pengguna internet di Indonesia mencapai angka 45 juta, termasuk di dalamnya 30,1 juta pengguna Facebook dan 6,2 juta pengguna Twitter. Jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Kehebatan itu bisa terjadi tidak lepas dari waktu yang tepat. Bayangkan kita masih hidup di zaman orde baru sekarang ini. Internet dan social media mungkin masih hidup, namun jadi tak lebih dari sekedar tempat untuk saling sapa.

Mungkin kita memang harus berterima kasih pada reformasi yang membawa kita pada kebebasan, termasuk kebebasan mengekspresikan diri di internet. Berapa kesempatan untuk mencela seorang menteri seperti Pak Tifatul Sembiring secara langsung yang bisa Anda dapatkan dalam setahun? Tidak banyak, bakal nihil. Tapi melalui Twitter Anda bisa melakukannya tiap hari jika Anda mau, tentu itu sebelum Anda ditangkap polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan.

Sayangnya, reformasi tidak sepaket dengan pemerintahan yang baik. Montesquieu mengenalkan kita pada trias politica: legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Ketiganya, boleh saya bilang tidak ada yang bekerja dengan baik saat ini. Anggota dewan yang katanya wakil rakyat bertingkah tanpa memikirkan perasaan orang-orang yang diwakilinya. Uang rakyat dihambur-hamburkan untuk kesenangannya sendiri. Lembaga peradilan yang harusnya bisa diharapkan malah digerogoti oleh suap. Dan pemerintah, kita tahu, tak menghasilkan banyak hal yang nyata selain sensasi dan pemberitaan di sana-sini. Dengan situasi carut-marut yang demikian, hijrah menjadi solusi yang terbaik seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saat kota Mekkah tidak lagi aman.

Orang-orang kaya, baik karena usahanya sendiri maupun karena korupsi, bisa dengan mudah terbang dan mengasingkan diri ke luar negeri serta membangun hidup yang baru di sana. Sayangnya, hal yang sama tidak berlaku bagi rakyat kecil, sebagian besar rakyat Indonesia. Maka, mereka hijrah ke dunia maya.

Suara wong cilik, sebanyak apa pun, tidak akan terlalu didengar di dunia nyata. Lantas mereka menyuarakannya melalui dunia maya dan berhasil. Tentu berhasil. Saat mereka meneriakkan pesan melalui demonstrasi, mereka sendirilah yang akan mendengar pesan itu, bukan pemerintah. Ketika mereka membuat kicauan di Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya, dunia akan turut mendengar pesan mereka dan pemerintah pun dipaksa untuk mendengar. Pak SBY yang selama ini selalu mengkhawatirkan citranya tentu tidak akan tinggal diam jika tiba-tiba namanya muncul sebagai trending topic world wide di Twitter sambil diiringi sesuatu yang terdengar tidak baik. Dan ini bukan sesuatu yang tidak mungkin jika pemerintah “berhasil” membawa keputusasaan rakyat hingga taraf puncak. Sudah berapa kali rakyat Indonesia menghebohkan dunia dengan trending topic-nya bahka untuk sesuatu yang tidak penting? Bukan sekali dua kali, berkali-kali! Jadi, semua itu sama sekali bukan perkara yang sulit.

Potensi social media di Indonesia, sekali lagi sangatlah besar. Sekarang, tinggal bagaimana kita bisa memanfaatkannya dengan baik saja untuk membawa perubahan-perubahan yang positif bagi bangsa ini.(*)

Iklan
Dunia Maya: Sebuah Pelarian.