Ngeblog Hanya Sebuah Wacana

Kalau menjadi politisi itu merupakan suatu bakat, maka dalam waktu beberapa tahun ke depan, dengan terus mengembangkan apa yang saya miliki saat ini, rasanya saya cukup berkompeten untuk jadi salah satunya. Anda tahu, politisi kita, siapapun itu, selain pintar bohong dan korupsi, juga pintar sekali untuk satu hal: membuat wacana. Mulai dari wacana menyejahterakan kehidupan rakyat waktu kampanye dulu, wacana politik yang mengundang kontroversi, sampai-sampai membuat berbagai kasus & skandal yang dialaminya makin lama makin terasa sebagai sebuah wacana saja penyelesaiannya. Dan sekarang ini bisa dibilang saya sedang mengembangkan kemampuan saya berwacana, khususnya wacana untuk ngeblog.

Gairah menulis saya, kalaupun ada, mencapai puncaknya saat akhir masa SMP hingga awal masa SMA Bahkan dengan segala keterbatasan teknologi yang saya miliki waktu itu, saya bisa tetap produktif dengan tekun menulis tangan di buku tulis kosong. Banyak hal yang saya tulis di situ, mulai cerpen, puisi, sampai essai seperti yang selama ini saya tulis. Suatu waktu saya membereskan kamar saya dan menemukan buku tersebut, dan ternyata bukan cuma satu, tapi beberapa.

Ya, saya pernah suatu kali menjadi begitu produktif dalam hal tulis-menulis. Sungguh suatu ironi bahwa dengan segala kemajuan dan kemudahan akses terhadap teknologi saat ini -saya bahkan bisa dengan mudah menulis lewat ponsel dan menguploadnya via surel, motivasi menulis saya justru turun drastis, nyaris seperti bungee jumping yang terjun bebas dari ketinggian. Yang berbeda, tampaknya ia tak kembali terlontar ke atas.

Saya sendiri agak heran ketika membuka halaman add new post di WordPress atau membuka fasilitas new e-mail di ponsel lalu mulai berpikir ‘Ah, males!’, ‘Ah, ribet!’, ‘Ah, buntu!’ saat melihat halaman kosong terpampang di depan saya, menanti untuk diisi. Saya rasanya perlu mengorek-ngorek kembali sisa semangat saya dulu Semangat yang membuat saya merelakan waktu berjam-jam di depan buku tulis, menulis menggunakan pensil atau pena, menghapus atau menulis ulang bahkan sampai berparagraf-paragraf tiap kali saya membuat kesalahan.

Saya ingin kembali aktif menulis. Tentu saja sampai saat ini keinginan itu masih sebatas wacana. Tapi saya tidak ingin seperti para politisi yang membiarkan wacana tidak kunjung menjadi nyata sampai waktu yang tidak terbatas lamanya. Saya bahkan sama sekali tidak kepikiran jadi seorang politisi. Jadi, saya akan belajar untuk membuat wacana tersebut jadi nyata.(*)

NB: Mengingat saya bukan politisi, tiap kali Anda tahu saya kembali malas menulis, ingatkanlah saya dan saya akan mendengarkan. Tidak usah segan. Sekali lagi, saya bukan politisi.

Iklan
Ngeblog Hanya Sebuah Wacana

2 pemikiran pada “Ngeblog Hanya Sebuah Wacana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s