Mengapa Yu Djum Tidak Berjualan Soto? – Perbedaan dan Pembedaan Gender dalam Penamaan Merek Gudeg, Pecel, Soto, dan Bakso

Menarik juga bagaimana isu feminisme ternyata bisa ditilik dari fenomena yang sebenarnya kasat, namun jarang “dilihat”.

Out of Cave

Ditulis sebagai tugas mata ajar Paradigma Feminisme.

Fenomena

Beberapa hari lalu saya pulang ke kota asal saya, Surabaya. Ketika menyusuri jalanan Surabaya yang diwarnai oleh berbagai ragam kuliner, ayah saya tiba-tiba mengangkat suatu fenomena menarik. Ia memperhatikan bahwa makanan-makanan tertentu memiliki segmentasi gender dalam penamaan mereknya. Untuk soto dan bakso biasanya digunakan nama-nama laki-laki, misalnya Soto Pak Djayus dan Bakso Pak Gendut. Sementara itu untuk gudeg dan pecel biasanya digunakan nama-nama perempuan, misalnya Gudeg Bu Mien dan Pecel Bu Kus. Hal ini menjadi sangat menarik karena belum pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya, dan juga belum pernah saya baca di literatur manapun.

Saya kemudian melanjutkan riset kecil mengenai fenomena tersebut melalui internet. Saya menggunakan mesin pencari Google dengan lokasi spesifik negara Indonesia dan menelusuri hasil hingga laman kelima. Kata kunci yang saya gunakan adalah ‘gudeg’, ‘pecel’, ‘soto’, dan ‘bakso’. Dari hasil pencarian tersebut  saya menyaring entri-entri yang mengandung nama laki-laki…

Lihat pos aslinya 1.412 kata lagi

Mengapa Yu Djum Tidak Berjualan Soto? – Perbedaan dan Pembedaan Gender dalam Penamaan Merek Gudeg, Pecel, Soto, dan Bakso