¡Hablo Español!

Hola chica!

Saya sedang keranjingan belajar bahasa Spanyol. Kurang lebih dua bulan lalu, saya menetapkan niat untuk mulai mempelajari secara otodidak (memang mau kursus dimana?) bahasa yang banyak digunakan di negara-negara Amerika Latin ini. Saya memulai dengan menonton beberapa video basic learning di YouTube. Saya juga mengunduh beberapa lagu berbahasa Spanyol. Dari hasil searching di internet, saya menemukan sebuah band beraliran alternatif bernama Nudozurdo yang berbasis di Madrid. Musiknya lumayan enak dan cocok dengan selera saya. Jadilah lagu-lagunya saya masukkan dalam playlist, meski saat didengarkan, saya sama sekali tidak dapat mengenali lafal apalagi arti liriknya. Saya hanya berkeyakinan bahwa semakin sering didengarkan, semakin mudah kata-kata asing tersebut meresap ke dalam otak.

Sayangnya, metode awal coba-coba tersebut tidak menunjukkan keberhasilan seperti yang diharapkan. Nonton video lama-lama bikin bosan. Mendengar musik yang liriknya asing total untuk telinga ternyata juga tidak membantu. Semangat saya pun semakin surut dan saya berhenti belajar.

Percikan semangat akhirnya kembali saya dapatkan setelah menemukan sebuah situs web yang menyediakan layanan belajar bahasa asing dengan gratis, Duolingo. Duolingo memberikan apa yang tidak saya dapatkan dari metode menonton video sebelumnya: jalur serta tahapan belajar yang terarah dan berjenjang. Yang tidak kalah penting, situs tersebut juga memungkinkan orang yang buta sama sekali tentang bahasa yang ingin dipelajarinya untuk belajar mulai dari level yang paling basic. Learning from a scratch, mulai dari nol. Selain Spanyol, Duolingo juga memberi pilihan kursus bahasa asing yang lain seperti Jerman, Perancis, Italia, Portugis, dan masih banyak lagi. Sebagian besar memang masih bahasa yang digunakan di Eropa.

Saya sendiri sempat menambahkan Bahasa Jerman dalam daftar course saya dan mencicipi sedikit pembelajarannya. Namun, sementara saya tidak lanjutkan karena ingin fokus dulu dengan Bahasa Spanyol, minimal hingga beberapa bulan ke depan. Tetapi, karena sedang dalam masa euforia (paling tidak untuk saat-saat ini), rasanya saya tidak puas berhenti hanya pada satu situs web. Saya pun mengembangkan channel belajar dengan menambahkan Busuu dan Italki dalam daftar.

Secara konsep, Busuu hampir sama dengan Duolingo. Hanya saja, banyak fiturnya yang terbatas dan hanya dapat diakses oleh premium user. Artinya, kita harus membayar jika ingin mendapat manfaat belajar yang optimal dari situs ini. Menurut saya, Duolingo tetap jauh lebih unggul daripada Busuu. Selain karena fitur-fiturnya gratis (interface-nya juga lebih unyu 🙂 ), metode belajarnya pun lebih efektif dan porsi latihannya jauh lebih banyak. Saya menggunakan Busuu hanya sesekali dan sifatnya lebih sebagai pelengkap. Sebab, ada beberapa metode Busuu yang tidak dijumpai di Duolingo, misalnya belajar melalui percakapan pendek dan menggunakan kata dalam suatu kalimat.

Sementara itu, Italki merupakan semacam social media bagi orang-orang yang sedang mempelajari bahasa asing. Sebenarnya, fungsi utamanya lebih seperti direktori bagi mereka yang ingin mencari guru bahasa asing online. Namun, ada juga artikel-artikel dan fitur yang bisa dimanfaatkan untuk belajar secara gratis. Misalnya notebook, answer, dan discussion. Kita bisa bertanya, berdiskusi, atau membuat tulisan bebas dalam bahasa yang kita pelajari, lalu orang lain yang menguasai atau berbicara bahasa tersebut bisa membuat koreksi terhadap tulisan kita. Kita juga bisa berteman dan berkomunikasi dengan orang-orang yang menguasai bahasa yang kita pelajari, atau ingin mempelajari bahasa yang kita kuasai, lalu saling bertukar ilmu. Intinya, Italki menjadi semacam portal community learning bagi para peminat bahasa.

Dan begitulah, meskipun hanya belajar otodidak dari internet, gratisan pula, saya berharap paling tidak dalam satu tahun ke depan (kalau sanggup konsisten hahaha) saya jadi semakin jago dalam berbahasa Spanyol, syukur-syukur kalau bisa dapat bonus menggaet wanita Latino yang eksotis. Hehehe…

Eh, tapi dari tadi saya belum cerita ya kenapa kok bahasa Spanyol. Kenapa bukan bahasa Perancis, Jerman, atau Mandarin misalnya. Hmm.. barangkali karena saya kebanyakan nonton serial action televisi Amerika yang sering menampilkan karakter-karakter Latino. Lama-lama saya jadi tertarik dengan bahasa Spanyol (yang biasanya dipakai tokoh gangster atau kartel narkoba :p). Alasan lainnya: karena bahasa Spanyol belum terlalu mainstream di Indonesia. Biar asik aja gitu, sesekali jadi anak antimainstream. Hehehe…

*) Hablo español = I speak Spanish

¡Hablo Español!

Natal.

Natal segera tiba. Itu artinya libur panjang akhir tahun dan dekorasi merah-putih-hijau di sana-sini. Tetapi bila apa yang telah terjadi tahun-tahun lalu kembali berulang tahun ini, maka ada satu lagi yang akan turut menghiasi suasana natal kali ini: kehebohan perkara beragama.

Inilah yang terjadi pada saya seputar waktu yang sama tahun lalu: saya baru tiba di rumah menjelang tengah malam. Saya sudah sangat mengantuk, meski sebelum berangkat tidur saya masih sempatkan sejenak untuk menengok akun social media (ah, tidakkah manusia modern begitu mudah terjebak pada adiksinya). Dan segala perhatian saya langsung terserap oleh sebuah status yang ditulis seorang kawan, saya tidak ingat isinya secara persis, tapi kurang lebih begini:

Tidak apa-apa kami tidak diberi selamat. Gereja kami tidak dibom saja kami sudah bersyukur dan berterima kasih.

Hati saya mencelos. Sungguh cara yang buruk untuk mengakhiri hari, saya tertidur dengan membawa rasa sedih hari itu.

Pada hari-hari itu, halaman media sosial memang sedang ramai oleh bahasan tentang topik boleh-tidaknya “kita” (dan dengan kita yang saya maksud sebenarnya adalah orang Islam, yang karena mayoritas di negeri ini jadi mendapat privilese penyebutan sebagai orang pertama) mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. Berbagai tulisan dan komentar berseliweran. Pada suatu titik, topik tersebut jadi begitu overrated dan subjektif.

Saya percaya bahwa banyak yang tanpa intensi buruk hanya ingin berbagi informasi tentang tata cara dan ajaran beragamanya. Tetapi kita tahu bahwa perkara agama selalu rentan digunakan sebagai alat pengadu domba. Maka begitulah, tidak hanya berisi pengetahuan, diskusi tentang topik tersebut juga kerap ditunggangi oleh benih kebencian antargolongan (yang sama sekali tidak bisa saya pahami apalagi setujui). Saya pun bisa memahami jika teman saya tadi, yang dalam kesehariannya damai-damai saja, bahkan hampir tidak pernah menyinggung persoalan agama, akhirnya jengah juga ketika apa yang harusnya tidak perlu terlalu diributkan sampai segitunya malah akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengganggu. Astaga, bahkan saya pun turut jengah.

Saya rasa, semua orang perlu merasakan jadi minoritas paling tidak sekali dalam hidupnya. Supaya kita bisa memahami cara-cara dan sudut pandang yang berbeda. Seringkali apa yang bagi para minoritas bisa menjadi privilese yang begitu istimewa, merupakan hal-hal yang kecil saja, remeh-temeh, taken for granted, bagi para mayoritas. Para mayoritas jadi memiliki tanggung jawab lebih untuk terus memelihara kebijaksanaan agar tidak mudah kehilangan sensitivitasnya.

Pada saat saya menulis ini, fenomena serupa belum mulai tampak ramai di media sosial. Saya sungguh-sungguh berharap bahwa mulai tahun ini dan seterusnya masyarakat Indonesia telah belajar untuk jadi lebih bijaksana. Sebarkanlah apa yang menurutmu baik dengan cara yang baik pula. Dan jangan pernah berlebihan. Bagaimanapun, seperti halnya taman, pasar, jalan raya, dsb. media sosial dan internet sejatinya juga adalah ruang publik. Ruang publik dalam bentuk yang maya. Maka, kita (kali ini “kita” yang saya maksud adalah seluruh penduduk Indonesia Raya tanpa pandang bulu) patut sadar bahwa ia tidak bisa dikuasai oleh kepentingan individu atau golongan tertentu saja. Mari kita belajar untuk jadi lebih respectful dan less ignorant. Toh bangsa ini milik kita semua; kita yang beraneka ragam dan rupa. Tidakkah hidup berdampingan dalam damai jauh lebih menyenangkan daripada kebalikannya?

Demikianlah, meski masih beberapa minggu lagi, bagi saudara-saudara kaum Nasrani yang hendak merayakan Natal tahun ini, saya merasa perlu mengucapkan, seperti yang saya ucapkan pula pada tahun yang sudah-sudah: SELAMAT BERBAHAGIA!

Natal.