Natal.

Natal segera tiba. Itu artinya libur panjang akhir tahun dan dekorasi merah-putih-hijau di sana-sini. Tetapi bila apa yang telah terjadi tahun-tahun lalu kembali berulang tahun ini, maka ada satu lagi yang akan turut menghiasi suasana natal kali ini: kehebohan perkara beragama.

Inilah yang terjadi pada saya seputar waktu yang sama tahun lalu: saya baru tiba di rumah menjelang tengah malam. Saya sudah sangat mengantuk, meski sebelum berangkat tidur saya masih sempatkan sejenak untuk menengok akun social media (ah, tidakkah manusia modern begitu mudah terjebak pada adiksinya). Dan segala perhatian saya langsung terserap oleh sebuah status yang ditulis seorang kawan, saya tidak ingat isinya secara persis, tapi kurang lebih begini:

Tidak apa-apa kami tidak diberi selamat. Gereja kami tidak dibom saja kami sudah bersyukur dan berterima kasih.

Hati saya mencelos. Sungguh cara yang buruk untuk mengakhiri hari, saya tertidur dengan membawa rasa sedih hari itu.

Pada hari-hari itu, halaman media sosial memang sedang ramai oleh bahasan tentang topik boleh-tidaknya “kita” (dan dengan kita yang saya maksud sebenarnya adalah orang Islam, yang karena mayoritas di negeri ini jadi mendapat privilese penyebutan sebagai orang pertama) mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. Berbagai tulisan dan komentar berseliweran. Pada suatu titik, topik tersebut jadi begitu overrated dan subjektif.

Saya percaya bahwa banyak yang tanpa intensi buruk hanya ingin berbagi informasi tentang tata cara dan ajaran beragamanya. Tetapi kita tahu bahwa perkara agama selalu rentan digunakan sebagai alat pengadu domba. Maka begitulah, tidak hanya berisi pengetahuan, diskusi tentang topik tersebut juga kerap ditunggangi oleh benih kebencian antargolongan (yang sama sekali tidak bisa saya pahami apalagi setujui). Saya pun bisa memahami jika teman saya tadi, yang dalam kesehariannya damai-damai saja, bahkan hampir tidak pernah menyinggung persoalan agama, akhirnya jengah juga ketika apa yang harusnya tidak perlu terlalu diributkan sampai segitunya malah akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengganggu. Astaga, bahkan saya pun turut jengah.

Saya rasa, semua orang perlu merasakan jadi minoritas paling tidak sekali dalam hidupnya. Supaya kita bisa memahami cara-cara dan sudut pandang yang berbeda. Seringkali apa yang bagi para minoritas bisa menjadi privilese yang begitu istimewa, merupakan hal-hal yang kecil saja, remeh-temeh, taken for granted, bagi para mayoritas. Para mayoritas jadi memiliki tanggung jawab lebih untuk terus memelihara kebijaksanaan agar tidak mudah kehilangan sensitivitasnya.

Pada saat saya menulis ini, fenomena serupa belum mulai tampak ramai di media sosial. Saya sungguh-sungguh berharap bahwa mulai tahun ini dan seterusnya masyarakat Indonesia telah belajar untuk jadi lebih bijaksana. Sebarkanlah apa yang menurutmu baik dengan cara yang baik pula. Dan jangan pernah berlebihan. Bagaimanapun, seperti halnya taman, pasar, jalan raya, dsb. media sosial dan internet sejatinya juga adalah ruang publik. Ruang publik dalam bentuk yang maya. Maka, kita (kali ini “kita” yang saya maksud adalah seluruh penduduk Indonesia Raya tanpa pandang bulu) patut sadar bahwa ia tidak bisa dikuasai oleh kepentingan individu atau golongan tertentu saja. Mari kita belajar untuk jadi lebih respectful dan less ignorant. Toh bangsa ini milik kita semua; kita yang beraneka ragam dan rupa. Tidakkah hidup berdampingan dalam damai jauh lebih menyenangkan daripada kebalikannya?

Demikianlah, meski masih beberapa minggu lagi, bagi saudara-saudara kaum Nasrani yang hendak merayakan Natal tahun ini, saya merasa perlu mengucapkan, seperti yang saya ucapkan pula pada tahun yang sudah-sudah: SELAMAT BERBAHAGIA!

Iklan
Natal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s