Bagaimana Rasanya Jadi Kambing?

 

Saudara saya di kampung memelihara kambing. Saya baru tahu saat berkunjung dua minggu lalu. Mereka belum ada waktu terakhir saya ke sana, barangkali setahun sebelumnya. Ada dua kambing dewasa, jantan dan betina, juga dua lagi yang masih anak-anak (orang Jawa menyebutnya cempe). Yang dewasa diikat pada sebuah tonggak bambu. Beberapa helai daun pisang utuh, lengkap dengan tangkainya, tampak digantungkan untuk makanan mereka. Cempe-cempe asyik mencari makan sendiri di rerumpun bambu di dekatnya.

Entah mengapa, waktu itu saya tiba-tiba merasa tertarik pada kambing-kambing itu. Saya menghabiskan paling tidak sepuluh menit hanya untuk berjongkok diam dan menatapi kedua kambing dewasa. Saya berada cukup dekat untuk bisa menghirup bau badan kambing-kambing itu dan mengamati beberapa detail (ada kotoran ayam yang menempel di kaki kiri depan kambing betina). Tetapi jarak saya juga cukup jauh dari rentangan terpanjang tali penambat yang mengikat leher mereka (diam-diam saya juga takut diseruduk).

Mereka makan dan terus makan. Pada satu waktu si kambing betina membuang kotoran, keluar dari buritnya seperti berondongan peluru hitam kecil-kecil. Tidak lama, si jantan ikut-ikutan buang air kencing. Sesekali, si betina yang sedang hamil tampak menggosok-gosokkan badannya pada tonggak. Mungkin sedang gatal. Saya juga beberapa kali melihat perutnya yang besar itu berkedut-kedut, sepertinya calon cempe yang ada di dalam situ sedang bergerak-gerak. Pada saat begitu, si ibu kambing akan menelengkan leher lalu menggosok-gosok kepala pada perutnya. Agaknya gestur tersebut menyerupai ibu manusia yang mengelus-elus perut saat bayi yang dikandungnya menendang-nendang. Tetapi mereka makan dan terus makan. Mereka buang air, buang kotoran, dan menggosok-gosok badan tanpa berhenti mengunyah. Sesekali saya bisa melihat gigi mereka yang geraham tampak berjajar rapi pada rahangnya. Mulut mereka dengan gesit merobek helai demi helai daun pisang dari tangkai lalu melumatnya. Kres, kres… Saya tidak pernah melihat kambing yang diberi makan daun pisang sebelumnya. Saya bayangkan dari bunyinya saat dikunyah, daun pisang ini barangkali seperti kerupuk yang renyah dan kriuk-kriuk.

 

 

 

Ah, saya jadi bertanya-tanya, apakah ada bedanya bagi mereka daun pisang atau rumput? Daun turi atau kemangi? Setiap kambing yang saya ingat sepertinya selalu menikmati apapun tetumbuhan yang jadi makanannya (atau paling tidak saya pikir demikian). Tetapi mungkinkah sebenarnya mereka lebih menikmati satu jenis daun dibanding yang lain? Apakah mereka juga punya selera yang berlainan seperti manusia (saya bahkan pernah dengar cerita tentang kambing aneh yang hanya mau makan bedak) atau semuanya sama saja? Apakah lidah mereka mampu mencecap rasa? Bisakah hidung mereka mengenali aroma?

Pada titik itu saya juga bertanya-tanya, bagaimanakah rasanya jadi kambing? Hidupnya hanya makan dan makan, mengunyah dan mengunyah tiada henti. Saya ingat ada juga saat-saat dimana mulut saya tidak bisa berhenti makan, yaitu pada hari-hari awal Lebaran. Tetapi saya kira yang seperti itu tidak sepenuhnya sama. Lagipula, saya makan berbagai jenis camilan, bukan cuma daun yang itu-itu saja. Mungkinkah, jika diberi kebebasan, mereka sebenarnya juga ingin melakukan hal yang lain? Barangkali bermain-main sambil berkejaran dengan temannya, atau bahkan diam-diam mengamati makhluk hidup lain (mungkin kucing atau ayam) seperti yang saya lakukan pada mereka.

Saya tak urung juga jadi membayangkan bagaimana mereka bisa makan dan berak di tempat yang sama. Adakah kambing-kambing itu betah dengan yang demikian karena bau-bau itu sudah tak ada bedanya lagi bagi mereka? –badan mereka sendiri saja sudah bau. Mungkinkah mereka sebenarnya tidak tahan juga dengan bau-bau tersebut? Tetapi kambing tidak bisa melontarkan protes pada manusia-manusia yang mengikatnya pada tonggak dan membuat mereka tidak bisa beranjak kemana-mana atau berbuat apa-apa, selain makan dan terus makan (apapun yang disediakan oleh si manusia) serta membuang kotoran di situ-situ saja. Bagaimana rasanya jadi kambing yang tidak punya pilihan tanpa batas seperti manusia? Bagaimana rasanya jika manusia bertukar tempat dengan kambing?

Ah, sepupu saya sudah datang. Tampaknya hari sudah mulai gelap dan saatnya kambing-kambing itu digiring masuk ke kandang mereka yang sempit, lembab, gelap, dan bau. Saya pun harus kembali pulang ke kota. Sepertinya saya tidak berkesempatan melihat langsung ibu kambing melahirkan anaknya. Saya harap cempe itu akan lahir dengan selamat dan tumbuh dengan sehat. Tetapi berlebihankah jika saya diam-diam juga berharap kambing-kambing itu suatu saat nanti bisa mati karena usia tua, bukannya berakhir di pisau jagal untuk hari raya kurban yang sebentar lagi datang? (*)

WP_20150830_16_41_03_Pro

 

Iklan
Bagaimana Rasanya Jadi Kambing?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s