Obrolan Malam dengan Seorang Kawan

Mengejutkan rasanya menemukan sisi yang tidak disangka dari seseorang yang kita kira sudah cukup kita kenal.

 

Sore itu Ibuk saya telepon, “Jangan pulang, banjir dimana-mana. Kamu nginep di rumah temanmu saja.” Pinggiran Barat Surabaya tempat saya tinggal memang merupakan daerah rawan banjir. Saya yang kemana-mana naik sepeda motor sudah cukup kenyang merasakan bagaimana repotnya terjebak banjir yang jadi satu paket dengan macet (plus mogok, kadang-kadang). Untungnya saya masih nongkrong di kampus dengan beberapa teman. Alhasil saya tidak sampai kebingungan bertanya kesana-kemari untuk cari tumpangan tidur. Teman saya, Adi, menawarkan untuk menginap di kosannya.

 

Ketika tiba di kamar kosan Adi, hal pertama yang saya sadari adalah koleksi bukunya yang sangat banyak. Jauh lebih banyak dari koleksi saya. Saya selalu mengenal Adi sebagai sosok yang slengekan, dengan guyonan-guyonan yang absurd dan acapkali mesum. Saya sama sekali tidak mengira ia tipe orang yang gemar membaca. Ia bercerita kalau minat membacanya mulai tumbuh sejak kuliah S2. Saya longok sedikit judul-judul bacaannya. Selain buku-buku arsitektur, ada juga tulisan-tulisan Cak Nun, antologi puisi Widji Tukul, hingga Madilog-nya Tan Malaka yang fenomenal itu. Wah, wah, saya sungguh-sungguh terkesan.

 

Lalu kami mulai mengobrol. Saya rasanya tidak akan terkejut jika saja Adi mengajak saya bicara soal cewek seksi atau sejenisnya. Tapi ternyata kami membahas beraneka topik yang jauh dari hal-hal banal. Awalnya saling curhat tentang nasib kami yang sama-sama molor dalam urusan kuliah, meskipun tetap saja saya yang lebih parah karena dia sudah S2 dan tinggal mengurus tesis sementara saya baru-baru saja lolos dari jerat S1 hahahaha. Tentang tantangan yang kami hadapi dalam mengikuti ritme dunia perkuliahan. Melebar dari situ, kami mulai berdiskusi tentang perkara arsitektur. Tentang kebiasaan membaca buku. Tentang fenomena sosial seperti hamil diluar nikah. Hingga pandangan ke-Tuhan-an serta ke-agama-an. Macam-macam.

 

Kami mengobrol dan terus mengobrol semalaman. Saya jadi menemukan hal-hal menarik tentang Adi yang baru saya tahu. Misalnya saja, dia tidak suka membaca novel. Beda jauh dengan saya yang tidak pernah tahan membaca buku selain novel. Konon, ia tidak suka dengan novel karena waktu SMP ia disuruh-suruh oleh temannya membaca buku Raditya Dika, lantas mengira semua novel sama saja seperti itu, kurang berisi. Saya kemudian bercerita soal pengarang favorit saya, Ayu Utami, untuk memberinya gambaran pembanding. Saya juga menawarkan untuk meminjaminya novel Bilangan Fu yang sudah secara personal saya setarakan kedudukannya dengan kitab suci itu hehehe.

 

Selain itu, sebagai seorang Hindu, ternyata Adi sangat terkagum-kagum dengan sosok Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ia sering menonton ceramah serta membaca buku-buku karya Cak Nun. Ia baru-baru ini juga mulai mengikuti ceramah dari Gus Dur. Untuk urusan keagamaan, Ad rupanya memiliki pandangan yang cukup terbuka dan kritis. Saya pun jadi berani menjabarkan panjang lebar padanya tentang konsep ke-Tuhan-an yang saya imani secara pribadi. Sebuah konsep yang hanya saya ungkapkan pada segelintir orang saja karena terlalu “sesat” bagi pandangan mainstream.

 

Sebagai teman kuliah, saya mengenal Adi sudah lebih dari enam tahun. Kami memang tidak begitu akrab, tapi tetap mengagetkan rasanya ketika dalam satu malam saja saya tiba-tiba melihat sosok dirinya dalam penilaian yang sama sekali baru.

 

Kami akhirnya memutuskan untuk menghentikan obrolan dan tidur sekitar pukul 02.45 malam itu. Ketika pulang dari kosan Adi keesokan harinya, saya pun mulai berpikir, rasanya saya perlu menghabiskan lebih banyak waktu lagi mengobrol dan mengenal lebih dekat teman-teman saya yang lain. Siapa tahu masih banyak kejutan yang bisa saya temui. (*)

Iklan
Obrolan Malam dengan Seorang Kawan