Tiga Anak Kucing

 

Saya punya tiga anak kucing. Saya namai Kimi, Kimo, dan Komo. Warnanya hitam, pirang, dan belang. Si Kimo bulunya pirang. Saya namai demikian sebab (kucing tetangga yang diduga) ayahnya warnanya juga pirang dan namanya Miko. Saya utak-atik jadilah Kimo. Si kucing hitam saya namai Kimi sebab dia betina. Sisanya, si belang, saya namai Komo supaya masih senada dengan saudaranya yang lain. Lagipula, nama Komo terdengar lucu. Mudah-mudahan saja jika ia lewat tidak membuat macet jalanan.

Awalnya mereka enam bersaudara, tetapi dua anak kucing meninggal saat dilahirkan, satu lagi menyusul dua atau tiga minggu kemudian. Kasihan sekali. Warnanya pirang seperti Kimo, tetapi sementara tiga saudaranya saat itu sudah tumbuh besar, ia masih terlihat sangat kecil, seolah pertumbuhannya terhambat. Ia juga tidak bisa berjalan sebab kaki kanan depannya seperti tidak terbentuk dengan sempurna sehingga tak cukup kuat menopang tubuhnya sendiri.

Mereka berlima (empat anak kucing beserta induknya) semula tinggal di dalam lemari. Suatu malam, saat orang-orang tertidur lelap, induk kucing memindahkan anak-anaknya ke tempat baru, di bawah kolong di pojokan kamar. Kami baru tahu keesokan paginya. Tetapi, loh, mengapa cuma tiga anak kucing yang terlihat?! Dimana yang satu lagi? Kami kebingungan mencari-cari satu anak kucing yang hilang, yang ternyata adalah si anak kucing malang yang tumbuhnya lambat dan kakinya cacat.

Saat akhirnya ditemukan, si anak kucing telah jadi jasad. Kaku dan tak bernapas. Tak ada yang tahu bagaimana ia meninggal. Ketika menyadari si anak kucing cacat itu yang hilang, saya sempat curiga bahwa sebetulnya ia dimakan sendiri oleh induknya. Beberapa bulan sebelumnya, kucing saya juga sempat hamil. Tapi saat suatu hari perutnya telah kempis, kami sama sekali tak menemukan keberadaan anak-anaknya. Yang kami dapati malah sepenggal kepala kecil tanpa badan. Sejak itu saya mulai tahu bahwa anak kucing yang baru lahir rentan sekali menjadi korban kanibalisme oleh kucing dewasa, baik oleh kucing pejantan yang ingin “mengeliminasi” calon pesaing, atau oleh induk betinanya sendiri jika ternyata si anak kucing terlahir cacat. Tetapi kecurigaan saya tidak terbukti. Tidak ada tanda-tanda cedera atau luka di tubuh si anak kucing yang meninggal. Akhirnya, kami mengubur si anak kucing di lahan kosong sebelah rumah, dekat dengan dimana kami menguburkan tiga anak kucing (dua tubuh utuh plus sepenggal kepala) yang lebih dulu meninggal.

Saat masih hidup empat ekor, ibu saya sebenarnya telah memberi mereka nama: Hari, Raya, Roma, Doni (karena mereka lahir saat bulan puasa dan menjelang hari raya). Saya merasa nama-nama itu kurang asyik. Saat satu anak kucing tersebut meninggal, saya telah mengganti nama-nama mereka jadi Alfa, Beta, Omega, dan Theta. Theta adalah nama untuk anak kucing yang meninggal. Tak lama kemudian, setelah mereka tinggal bertiga, nama-nama itu saya ganti lagi sebab Alfa-Beta-Omega memang terdengar keren, tetapi sama sekali tidak lucu untuk anak-anak kucing. Maka jadilah tiga bersaudara itu saya namai Kimo, Kimi, dan Komo.

Saat ini Kimo, Kimi, dan Komo telah berusia satu bulan lebih, dan ya tuhan, mereka sedang lucu-lucunya. Saat sedang kelebihan energi, mereka akan berlari kesana-kemari, mencakar-cakar kaki sofa, karpet, keset, apapun yang dapat mereka jangkau. Mereka juga suka melompat-lompat (Kimi bahkan sudah bisa naik sendiri ke atas sofa), lalu saling menerjang, menggigit, mencakar, dan bergelut satu sama lain (sepertinya begitulah cara mereka bercanda). Seperti halnya manusia yang masih balita, mereka sedang asyik-asyiknya bermain-main dan mengeksplorasi segalanya. Pokoknya tidak bisa diam.

Hanya ada dua momen tiga anak kucing ini akhirnya bisa anteng, yaitu ketika tidur dan menyusu. Biasanya mereka menyusu lebih dulu, baru setelah beberapa saat mereka akan mulai mengantuk dan tertidur. Jam tidur mereka agak sporadis dalam satu hari, tetapi kalau sudah jatuh terlelap, mereka akan mlungker seperti buntelan.

Adik saya (anak manusia) pun mengajari, bahwa itulah saat-saat mereka akhirnya bisa “ditaklukkan”. Saya dan adik suka sekali bermain-main dengan ketiga anak kucing. Kadang-kadang kami akan mengangkat mereka, lalu menaruhnya di atas pangkuan atau dada kami sambil rebahan, maksudnya biar bisa dikeloni sambil dielus-elus begitu. Namun saking tidak bisa diamnya, baru ditaruh, mereka langsung lari lagi. Akhirnya adik saya menemukan, bahwa waktu terbaik untuk ngeloni mereka adalah saat mereka sudah mulai tidur. Saat itu, mereka akan terlalu mengantuk untuk kabur atau melawan jika mau diapa-apakan.

Itulah yang sedang saya praktikkan sekarang. Baru saja saya melihat Komo sedang tidur di kolong meja, sementara saya mengetik dengan laptop di atasnya. Ide saya pun muncul. Saya segera menyimpan tulisan yang belum jadi ini dan memindahkannya ke ponsel. Saya lalu merogoh ke kolong meja, menggapit tengkuknya, lalu menaruh Komo di atas perut saya, sementara saya berbaring di atas sofa. Ia terbangun dan mendongak sebentar, tetapi lekas saya usap-usap agar tenang. Tak lama, Komo sudah kembali terlelap. Kini, saya meneruskan menulis paragraf terakhir ini di ponsel, sambil mengelus-elus Komo yang berbaring tenang di atas perut saya. Ah, nikmatnya…

Iklan
Tiga Anak Kucing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s