Day 2 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

Siapa yang tak kenal Suara Surabaya? Stasiun radio yang mengudara di saluran 100.0 FM tersebut merupakan salah satu dedengkot media penyiaran di kota ini. Sabtu kemarin (26/8), saya berkesempatan menyambangi stasiun radio legendaris tersebut untuk pertama kalinya. Saya bersama lima orang peserta #FreeBroadcastingLessonVol4 (#FBL4) lainnya hendak sowan sambil belajar ilmu broadcasting langsung dari Adit Jufriansyah (@aditbrols), penyiar sekaligus creative producer dari Suara Surabaya (SS).

Saya tak menyangka, ternyata lokasi SS yang beralamat di Jalan Wonokitri Besar 40C itu berada di tengah area perkampungan yang tanahnya berkontur alias naik-turun. Saya bahkan sempat dibuat terkesima saat disambut oleh satu tanjakan yang cukup curam, tepat sebelum memasuki komplek gedung SS. Melihatnya dari jauh saja, saya sudah siap-siap mancal persneling motor ke gigi satu hehehe.

Meski agenda hari kedua #FBL4 kali itu dijadwalkan mulai pukul 14.00 WIB, para peserta rata-rata tiba di lokasi jauh lebih awal (peserta yang paling rajin malah sudah sampai sejak pukul 11.30 WIB!). Kami memang janjian bertemu lebih awal untuk menggarap salah satu pre-lesson project minggu kedua, yakni simulasi siaran duo. Siaran berpasangan atau tandem memang rencananya akan menjadi materi yang dibahas hari itu, bersama dengan pelajaran tentang mewawancarai narasumber dan personal branding bagi penyiar.

Tepat pukul 14.00 WIB, Mas Adit pun mengajak kami naik ke atas, menuju ruang rapat berdinding kaca (saya mendengar Mas Adit menyebutnya ruang akuarium) yang ada di level mezanin lantai dua. Dari situ, kami juga bisa melihat aktivitas ruang kerja para gate keeper SS yang bersebelahan dengan studio siarannya. Belakangan, kami tahu kalau gate keeper ini adalah “jantung”-nya Suara Surabaya. Tugas yang mereka kerjakan sangat vital bagi produksi siaran di stasiun radio tersebut, mulai dari menerima dan menyeleksi telepon masuk saat on air; mencatat, mengolah, dan melaporkan data dari hasil interaksi pendengar; dsb.

Tak lama kemudian, sesi materi pun dimulai. Seperti halnya #FBL4 minggu lalu, Mas Adit yang jadi instruktur hari itu memaparkan materi sambil menceritakan pengalamannya berkarier selama 11 tahun di dunia penyiaran. Agenda hari itu juga diisi dengan sesi praktik (simulasi siaran berpasangan) dan sesi interaksi plus diskusi yang cukup cair.

Dari materi pertemuan siang itu, saya membawa pulang beberapa catatan penting, diantaranya:

 

1. Goal yang jelas dan persiapan yang matang itu vital.

One cut, one goal. Kami diperkenalkan dengan istilah ini pada minggu pertama #FBL4. Dalam pertemuan kemarin, istilah ini kembali disebut-sebut. Inti pesannya adalah: jangan bertele-tele saat siaran. Pendengar memiliki keterbatasan dalam mencerna informasi melalui media suara atau audio. Maka, seorang penyiar harus mampu membawakan informasi dengan ringkas, padat, dan jelas dalam satu segmen siaran.

Untuk itulah, menentukan goal alias tujuan siaran menjadi sangat penting. Penyiar harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sebelum memulai siaran: Apa esensi informasi yang ingin disampaikan? Apa yang ingin diberikan bagi pendengar melalui informasi tersebut? Bagaimana cara menyampaikan informasi tersebut agar dapat diterima dengan baik oleh pendengar dalam durasi yang ditentukan?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut harus tercermin dalam script siaran. Bagi penyiar, script adalah semacam senjata supaya siaran tidak “kehilangan arah” hingga durasi terbuang sia-sia. Script adalah panduan, bukan belenggu. Announcing skill dan kreativitas berimprovisasi penyiar tetap diperlukan agar penyampaian script tidak terasa kaku.

Membuat script sendiri hanyalah bagian kecil dari persiapan.

Mas Adit lantas mencontohkan bentuk-bentuk persiapan lainnya sebelum on air, terutama yang berkaitan dengan siaran wawancara. Misalnya saja, menggali info sebanyak-banyaknya tentang si narasumber. Tak melulu harus major info terkait topik yang akan dibahas dalam wawancara, detail-detail trivial tentang si narasumber (warna favorit, hobi, koleksi, dsb.) pun tak kalah penting untuk digali. Info tersebut bisa dipakai untuk mencairkan suasana (ice breaking) pada awal wawancara, sekaligus bisa membantu membangun kedekatan dan kenyamanan antara narasumber dengan penyiar.

Di papan tulis, Mas Adit juga menuliskan urutan-urutan persiapan yang perlu dibuat sebelum wawancara: (1) Topik, (2) Goal, (3) Questions list/ daftar pertanyaan, dan (4) Questions route/ arahan pertanyaan. Sebagai “tuan rumah”, penyiar punya kendali untuk mengarahkan obrolan menuju goal yang ingin dicapai melalui questions route yang dia miliki.

Dalam beberapa kasus, bisa saja di tengah-tengah wawancara narasumber melontarkan pernyataan yang penting dan menarik, tetapi tidak masuk dalam lingkup question route yang disiapkan penyiar. Jika memang “bobot”-nya tinggi, statement tersebut bisa muncul sebagai fokus baru dalam wawancara. Imbasnya, penyiar perlu melakukan ordering (penataan ulang). Topik, tujuan, question list, dan question route dari wawancara bisa saja mendadak dirombak total di tengah-tengah siaran. Mulai dari nol lagi. Penyiar yang kurang menguasai topik tentu akan sangat kesulitan jika menemui kasus seperti ini. Maka, sekali lagi, persiapan itu penting!

Sekiranya, kalau boleh sotoy, dari pemaparan materi kemarin, saya bisa menarik kesimpulan kalau siaran yang baik itu formulanya kira-kira begini:

GREAT BROADCASTING = definitive goal + thorough preparation + effective & attractive delivery.       

 

2. Ruang siaran adalah “panggung sandiwara” dan penyiar adalah pemerannya.

Seperti yang sudah saya singgung dalam postingan sebelum ini, siaran radio merupakan semacam “theater of mind”, sebuah panggung yang menciptakan permainan imajinasi dalam benak pendengarnya. Berbekal pemikiran tersebut, seorang penyiar tentu harus turut andil dalam mendukung jalannya “pementasan”. Apalagi, jika siaran dibawakan lebih dari satu orang. Para penyiar harus siap untuk “bermain peran”.

Mas Adit lantas memberi contoh. Dia bercerita bahwa di Jerman ada sebuah program radio yang dibawakan tidak hanya oleh satu atau dua, tetapi enam orang penyiar! Meskipun keroyokan, siaran tersebut tetap menarik karena masing-masing penyiar memiliki air personality dan peran yang berbeda-beda. Ada yang tukang lempar isu dan ngompor-ngompori, ada yang suka guyon dan mencairkan suasana, ada yang kalem dan bijaksana, dan macam-macam lainnya. Semua punya jatah dan peran sendiri-sendiri, berbeda-beda namun saling melengkapi. Racikan peran yang dinamis namun berimbang tersebut berhasil membuat siaran jadi terasa lebih “hidup”.

Meminjam istilah penyanyi lawas (ah, jadi ketahuan seleranya jadul), dunia penyiaran, in a sense, adalah sebuah panggung sandiwara. Sandiwara yang dibuat untuk menghibur para pendengarnya.

3. Jangan pernah “meminta” perhatian pendengar, tapi buatlah pendengar memperhatikanmu.

Kurang elegan, begitulah kurang lebih rangkuman dari kritikan Mas Adit untuk script yang saya buat. Dalam praktik siaran berdua kemarin, saya membuat script dengan situasi seolah-olah saya dan partner sedang membuka sebuah program radio. Kami pun melontarkan sebuah topik dan mengajak pendengar untuk bergabung dan mengungkapkan pemikirannya terhadap topik tersebut.

Rupanya, cara saya membawakan obrolan tersebut dirasa Mas Adit masih terlalu “lempeng”. Straight to the point dan kurang persuasif. Mas Adit lantas menyarankan untuk membuat obrolan terasa lebih luwes, bukannya terang-terangan bilang: Nih, saya punya topik begini, bagaimana pendapat Anda (pendengar)? Hubungi kami ya di nomor sekian-sekian untuk menceritakan pendapat Anda.

Penyiar harus mampu “memancing” pendengar dengan cara-cara yang lebih elegan. Misalnya, dengan membuat semacam story telling yang terkait dengan topik, tetapi masih cukup dekat dengan kehidupan pendengar. Pendengar radio biasanya memiliki “ke-aku-an” yang cukup tinggi, artinya mereka secara umum memiliki keinginan untuk “diperhatikan”. Ketika pendengar merasa apa yang disajikan penyiar relatable dengan pengalaman pribadinya, maka tanpa “diminta” pun mereka akan dengan sendirinya berbagi cerita.

Jadi, seorang penyiar tak perlu repot-repot meminta perhatian dari pendengar. Cukup buatlah konten yang relatable dan bangunlah kedekatan dengan pendengar, maka merekalah yang akan menaruh perhatian pada siaran kita.

Tentu masih banyak pelajaran lain, termasuk detail-detail teknis, yang kami dapat hari itu. Tetapi, tiga poin di atas menurut saya adalah major lessons yang harus dicatat dan dicamkan baik-baik.

Setelah kurang lebih dua jam, usailah pertemuan kami hari itu. Sebelum pulang, Mas Adit terlebih dulu mengajak kami sejenak berkeliling dan menengok ruang produksi di Suara Surabaya. Iman Dwihartanto, salah seorang penyiar senior SS yang kebetulan sedang bekerja di news room, dengan ramah menyapa dan menemui kami yang saat itu tampak seperti gerombolan peserta karyawisata hahaha. Pak Iman, dengan gayanya yang kalem dan ramah, bercerita banyak hal. Mulai dari sejarah SS, prinsip dan gambaran kerjanya, hingga pengalamannya sendiri bertahan berkarier hingga puluhan tahun di industri penyiaran. Meski singkat, obrolan kami dengan Pak Iman rupanya cukup sarat ilmu, terutama lagi inspirasi.

Akhirnya, seperti minggu sebelumnya, sesi foto bersama menjadi agenda penutup agenda hari itu. Tinggal tersisa satu pertemuan lagi dalam rangkaian kegiatan #FBL4. I guess it only gets more and more exciting. (fzi)

 

Iklan
Day 2 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s