Day 3 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

FBL-4-Eva-Zeya

For every beginning, there is always an end.

Hari Sabtu (2/9) kemarin menjadi hari ketiga sekaligus hari terakhir dilaksanakannya rangkaian kegiatan FBL4. Sebagai pertemuan penutup, acara kemarin terbilang cukup fresh. Ada beberapa hal yang dibuat agak berbeda dibanding dua pertemuan sebelumnya. Misalnya, instruktur yang hadir bukan cuma satu, tetapi dua orang, yakni Zeya Oktavian (@zeyaoktavian) dan Eva Afriana (@evafriana). Tempat pelaksanaannya pun bukan lagi di kantor stasiun radio, melainkan di rumah makan Waroeng Steak &  Shake di Jalan Flores no. 31, Surabaya. Semakin istimewa lagi karena semua yang hadir dapat jatah makan dan minum gratis. Yay!

Lanjutkan membaca “Day 3 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4”

Iklan
Day 3 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

Day 2 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

Siapa yang tak kenal Suara Surabaya? Stasiun radio yang mengudara di saluran 100.0 FM tersebut merupakan salah satu dedengkot media penyiaran di kota ini. Sabtu kemarin (26/8), saya berkesempatan menyambangi stasiun radio legendaris tersebut untuk pertama kalinya. Saya bersama lima orang peserta #FreeBroadcastingLessonVol4 (#FBL4) lainnya hendak sowan sambil belajar ilmu broadcasting langsung dari Adit Jufriansyah (@aditbrols), penyiar sekaligus creative producer dari Suara Surabaya (SS).

Lanjutkan membaca “Day 2 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4”

Day 2 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

Day 1 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

FBL-4-Febian

Punggung saya sudah agak nggobyos oleh keringat ketika tiba di 97.1 FM Life Radio Surabaya hari Sabtu (19/8) lalu. Maklum, saya mesti muter-muter sambil panas-panasan dulu demi mencari lokasi radio tersebut. Ditambah lagi harus mendaki tangga hingga lantai ketiga untuk menuju studionya. Phew. Tapi semangat saya tak surut, sebab hari itu adalah hari pertama pelaksanaan kegiatan #FreeBroadcastingLessonVol4 (#FBL4). Semangat tersebut bahkan sudah menyala-nyala sejak hari Senin (14/8), saat nama saya diumumkan sebagai satu dari enam peserta terpilih yang berhak mengikuti acara ini.

Sesuai judulnya, #FreeBroadcastingLessonVol4 ini adalah acara pelatihan broadcasting yang diadakan tanpa dipungut biaya alias gratis. Penggagasnya adalah komunitas Sing Your Mind yang memang bergerak dan dibentuk oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang media dan penyiaran. Dalam tiga kali pertemuan selama tiga minggu, peserta yang telah melalui proses seleksi akan mendapat kesempatan untuk belajar tentang seluk-beluk dunia broadcasting langsung dari praktisi profesional. I am very fortunate to be one of the selected candidates.

Lanjutkan membaca “Day 1 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4”

Day 1 – # Free Broadcasting Lesson Vol. 4

Gadis yang Kutunggu Dibawah Pohon Kersen

 

Tidak mungkin dia tidak datang! Iwan mulai gelisah berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kakinya menyaruk-nyaruk kerikil dibawah sandalnya. Ia ambil beberapa butir lalu ia lempar-lempar dengan malas ke arah jalan.

Lima orang gadis sudah melintas di hadapannya sejak ia mulai menunggu. Dua orang berboncengan menuju ke Utara. Dari pakaiannya, tampaknya mereka hendak mengaji ke ustad terkenal di kampung sebelah. Tiga orang lagi lewat dua puluh menit kemudian kearah yang berlawanan. Mengendarai sepeda masing-masing, mereka mengenakan seragam SMA yang kelihatan masih cukup baru. Iwan tahu gadis-gadis itu, walau tak kenal betul. Mira, Ajeng, dan Winda. Mereka kakak kelasnya di SMP yang baru lulus beberapa bulan lalu. Sepertinya mereka baru pulang dari kegiatan ekstrakurikuler. Ah, pasti menyenangkan jadi anak SMA.

Tetapi dari tadi gadis yang ia tunggu malah belum juga tampak batang hidungnya. Sambil mengelus-elus janggutnya yang mulai ditumbuhi empat helai rambut, Iwan mengingat-ingat lagi isi surat yang ditulisnya. Sebuah puisi singkat pada halaman pertama (judulnya “Senyum Paling Manis Sedunia”), lalu sebuah ajakan bertemu pada halaman berikutnya. Rasanya ia pun sudah menuliskan dengan cukup jelas: “Jika tidak ada acara sepulang sekolah, mari kita bertemu pukul 2 siang nanti dibawah pohon kersen di tepi jalan antardesa. Aku ingin mengajakmu ke tempat yang menarik!”

Ia selipkan surat tersebut dengan cepat pada tangan si gadis saat mereka berpapasan di gerbang sekolah pagi tadi. Waktu istirahat, si gadis menghampirinya di kelas. Sambil agak menunduk tersipu, si gadis bergerak canggung diantara bangku-bangku menuju tempat Iwan duduk di deretan tengah. Tangannya yang lentik dengan gesit meletakkan secarik kertas pada meja di hadapannya. Si gadis yang malu lalu pergi terburu-buru, tetapi ia sempat berhenti di ambang pintu untuk sejenak mengerling dan melayangkan senyum sekilas. Senyum paling manis sedunia!

Demi melihat senyum bidadari itu perut Iwan langsung bergolak bagaikan pusaran ombak di lautan yang tengah badai. Ditambah lagi jantungnya berdentum-dentum ingin meledak saat ia membuka kertas kecil tadi dan mulai membaca pesan yang dituliskan si gadis: Sampai ketemu nanti siang…

* * * * * * * * * * * * * * *

Tetapi mereka belum juga bertemu lagi. Padahal ia yakin si gadis tidak akan sampai tersesat. Tidak ada lagi pohon kersen di sepanjang jalan antardesa selain yang jadi tempat Iwan menanti saat ini. Memang ada beberapa trembesi, sonokembang, turi, mangga, tapi yang kersen ya cuma satu ini. Satu-satunya pula pohon yang terdapat bangku dibawahnya, entah siapa yang menaruh pertama kali.

Dengan resah Iwan merogoh kantongnya dan mengeluarkan jam tangan yang ia pinjam dari Bapaknya −tidak ia kenakan sebab terlalu besar untuk ukuran pergelangannya. Pukul 14:27. Untungnya cuaca siang itu tidak begitu terik. Langit agak berawan, meski tak sampai mendung tebal. Ia berhenti melontarkan kerikil dan mulai mendongak, mencari-cari buah kersen yang telah merah. Huh, di dahan-dahan yang rendah tinggal tersisa yang hijau dan mentah, yang merah terlalu tinggi di atas. Pasti sudah habis dibabat duluan oleh bocah-bocah kampung. Iwan tentu saja tidak sedang dalam suasana hati ingin memanjat hanya demi beberapa butir kersen, ia pun kembali menatap kosong ke jalanan.

Sekarang ia mulai menyesal, mengapa tak ia jemput saja tadi si gadis di rumahnya. Pastilah ia tak sampai harus senewen karena menunggu begini. Namun ia ingat lagi alasannya memilih bertemu di tempat yang agak jauh dari kampung begini: ia tak cukup bernyali kalau sampai harus menghadapi orang tua si gadis. Ia keder duluan dengan kemungkinan bertemu dengan bapak atau ibunya si gadis, lantas ditanyai macam-macam. Mau kau bawa kemana dia? Dan siapa pula kau berani-beraninya mengajak pergi putriku?

Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan, saya hendak mengajak putri Bapak menikmati matahari terbenam di bantaran sungai di ujung desa. Saya akan bacakan satu lagi puisi yang saya tulis khusus untuknya, dan ia akan mendengarkan sambil memakan kue Putu Ayu yang saya bawakan sebelumnya −ya, saya tahu itu kue kesukaannya. Lalu kami akan bercerita ngalor-ngidul tentang apapun. Atau barangkali kami hanya akan saling pandang saja karena malu. Tapi diakhir perjumpaan, akan saya petikkan baginya bunga liar yang tumbuh di tepi sungai. Sebab begitulah ia dimata saya, tidak mentereng atau mewah, tetapi justru memikat karena kesederhanaan, kerendahhatiannya. Ah, bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan itu semua? Apalagi diam-diam ia juga menyimpan sebuah rahasia, yaitu secuil harapan bahwa si gadis mungkin akan memberinya sebuah kecupan di pipi usai perjumpaan ini.

Pukul 15:12. Kepalanya agak terasa berdenyut-denyut. Selalu begitu tiap kali ia merasa cemas atau panik. Ia kembali memunguti kerikil.

Ah, sekilas pandangan Iwan tertumbuk pada sebuah kerikil yang terlihat menarik. Warnanya hitam legam dan tepiannya halus. Ia tak melihatnya sebelumnya karena tertutup oleh selembar daun kering. Baru saja Iwan merunduk hendak meraihnya, setetes gerimis tiba-tiba saja jatuh mengenai kulitnya. Sial! Tanpa pemberitahuan, mendung tebal tahu-tahu sudah bertengger di atas sana. Dan dalam waktu kurang dari dua menit, hujan deras sudah mengguyur seperti air bah yang ditumpahkan dari langit.

* * * * * * * * * * * * * * *

“Dia tidak masuk sekolah, sudah tiga hari ini.”

Iwan tidak tahan juga akhirnya. Ia menghabiskan dua hari kemarin dalam bayang-bayang kesedihan karena si gadis yang ia tunggu tidak muncul. Ia mulai berpikir, jangan-jangan si gadis memang tidak suka padanya sejak awal, dan senyum itu, balasan itu, hanyalah olok-olok saja untuk mempermainkannya. Uh, dadanya terasa nyeri hanya memikirkannya. Ia pun habis-habisan berusaha menghindari si gadis. Area sekitar kelas si gadis adalah daerah terlarang untuknya. Ia mulai tiba paling pagi di sekolah, lalu langsung masuk kelas dan tidak keluar lagi hingga jam pelajaran usai. Setelah bel pulang berbunyi, Iwan yang sudah lebih dulu mengemasi barangnya pun jadi yang pertama merangsek ke tempat parkir sepeda, lantas mengayuhnya lekas-lekas sampai rumah untuk kemudian mengurung diri seharian. Ia tak ingin lagi melihat wajah si gadis! Ibunya tak urung jadi bertanya-tanya, mengapa anaknya yang biasanya paling doyan keluyuran tiba-tiba jadi betah di rumah. Dan ia hanya menyahut dari balik pintu kamarnya, “Aku ingin fokus belajar untuk ujian.”

Tetapi dalam waktu dua hari saja ia menyerah.

Ia mulai mempertimbangkan adanya kemungkinan-kemungkinan lain. Bisa saja si gadis sudah ingin berangkat, tapi malah diminta orang tuanya membantu pekerjaan di rumah. Iwan tahu si gadis ini yang anak yang sungguh patuh dan tak akan menolak permintaan tersebut. Ah, alasan itu terdengar cukup masuk akal dan jauh lebih meringankan hatinya. Yang jelas, ia perlu verifikasi. Sayangnya, saat Iwan melongok ke dalam kelas si gadis dari ambang pintu, ia tetap tidak menemukan orang yang dicarinya. Nunik, teman sekelas si gadislah yang memberitahu Iwan bahwa ia sudah absen berhari-hari. Tidak ada yang tahu alasannya.

Siang itu, Iwan pulang dengan menuntun sepedanya, meskipun bannya tidak bocor dan rantainya tidak putus. Ia hanya ingin punya waktu sedikit lebih lama untuk mempersiapkan mentalnya. Ia sudah memutuskan, ia akan bertandang ke rumah si gadis. Ia butuh keterangan berikut kejelasan. Ia pun menggiring sepedanya ke arah Barat menuju dusun tempat si gadis tinggal, walaupun rumahnya sendiri berada di arah yang berlawanan. Tetapi dalam jarak dua ratus meter dari rumah si gadis, Iwan berhenti. Mentalnya memang belum sepenuhnya terkumpul, tapi ada hal lain yang lebih mengusiknya. Dari kejauhan ia melihat sekitaran rumah si gadis dipenuhi kerumunan orang. Dari yang tersirat pada raut wajah mereka, orang-orang tersebut jelas tidak datang untuk menengok bayi yang baru lahir atau bocah yang baru pulang dari mantri sunat. Perasaan tak enak hati seketika menyergap dirinya, kepalanya samar-samar berdenyut. Ia merasa ada ketegangan yang menguar dan tertahan di udara. Diam-diam ia mendekati beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol untuk mengorek lebih banyak informasi.

“Kasihan sekali ya, Mbakyu. Padahal anaknya pendiam dan ndak pernah aneh-aneh juga.”

“Yah namanya nasib siapa yang tahu. Katanya waktu mayatnya ditemukan pakaian seragamnya sudah compang-camping ya, Bu?”

“Iya, saya sempat dengar tadi ada Pak Polisi yang bilang kalau dia diperkosa dulu, lalu dicekik sampai meninggal. Katanya lagi, pelakunya paling tidak lima orang.”

“Astaghfirullah… Oalah, Nduk, Nduk. Mesakke tenan nasibmu. Isih enom kok yo wis diceluk Gusti Pangeran, gek koyo ngene carane.”1

Seketika kepala Iwan disergap oleh nyeri, jauh lebih sakit dari yang pernah ia rasakan selama ini… (*)

Keterangan:

1 “Astaghfirullah… Oalah, Nak, Nak. Kasihan sekali nasibmu. Masih muda kok sudah dipanggil Yang Kuasa, dengan cara begini pula.”

Gadis yang Kutunggu Dibawah Pohon Kersen

Tiga Anak Kucing

 

Saya punya tiga anak kucing. Saya namai Kimi, Kimo, dan Komo. Warnanya hitam, pirang, dan belang. Si Kimo bulunya pirang. Saya namai demikian sebab (kucing tetangga yang diduga) ayahnya warnanya juga pirang dan namanya Miko. Saya utak-atik jadilah Kimo. Si kucing hitam saya namai Kimi sebab dia betina. Sisanya, si belang, saya namai Komo supaya masih senada dengan saudaranya yang lain. Lagipula, nama Komo terdengar lucu. Mudah-mudahan saja jika ia lewat tidak membuat macet jalanan.

Awalnya mereka enam bersaudara, tetapi dua anak kucing meninggal saat dilahirkan, satu lagi menyusul dua atau tiga minggu kemudian. Kasihan sekali. Warnanya pirang seperti Kimo, tetapi sementara tiga saudaranya saat itu sudah tumbuh besar, ia masih terlihat sangat kecil, seolah pertumbuhannya terhambat. Ia juga tidak bisa berjalan sebab kaki kanan depannya seperti tidak terbentuk dengan sempurna sehingga tak cukup kuat menopang tubuhnya sendiri.

Mereka berlima (empat anak kucing beserta induknya) semula tinggal di dalam lemari. Suatu malam, saat orang-orang tertidur lelap, induk kucing memindahkan anak-anaknya ke tempat baru, di bawah kolong di pojokan kamar. Kami baru tahu keesokan paginya. Tetapi, loh, mengapa cuma tiga anak kucing yang terlihat?! Dimana yang satu lagi? Kami kebingungan mencari-cari satu anak kucing yang hilang, yang ternyata adalah si anak kucing malang yang tumbuhnya lambat dan kakinya cacat.

Saat akhirnya ditemukan, si anak kucing telah jadi jasad. Kaku dan tak bernapas. Tak ada yang tahu bagaimana ia meninggal. Ketika menyadari si anak kucing cacat itu yang hilang, saya sempat curiga bahwa sebetulnya ia dimakan sendiri oleh induknya. Beberapa bulan sebelumnya, kucing saya juga sempat hamil. Tapi saat suatu hari perutnya telah kempis, kami sama sekali tak menemukan keberadaan anak-anaknya. Yang kami dapati malah sepenggal kepala kecil tanpa badan. Sejak itu saya mulai tahu bahwa anak kucing yang baru lahir rentan sekali menjadi korban kanibalisme oleh kucing dewasa, baik oleh kucing pejantan yang ingin “mengeliminasi” calon pesaing, atau oleh induk betinanya sendiri jika ternyata si anak kucing terlahir cacat. Tetapi kecurigaan saya tidak terbukti. Tidak ada tanda-tanda cedera atau luka di tubuh si anak kucing yang meninggal. Akhirnya, kami mengubur si anak kucing di lahan kosong sebelah rumah, dekat dengan dimana kami menguburkan tiga anak kucing (dua tubuh utuh plus sepenggal kepala) yang lebih dulu meninggal.

Saat masih hidup empat ekor, ibu saya sebenarnya telah memberi mereka nama: Hari, Raya, Roma, Doni (karena mereka lahir saat bulan puasa dan menjelang hari raya). Saya merasa nama-nama itu kurang asyik. Saat satu anak kucing tersebut meninggal, saya telah mengganti nama-nama mereka jadi Alfa, Beta, Omega, dan Theta. Theta adalah nama untuk anak kucing yang meninggal. Tak lama kemudian, setelah mereka tinggal bertiga, nama-nama itu saya ganti lagi sebab Alfa-Beta-Omega memang terdengar keren, tetapi sama sekali tidak lucu untuk anak-anak kucing. Maka jadilah tiga bersaudara itu saya namai Kimo, Kimi, dan Komo.

Saat ini Kimo, Kimi, dan Komo telah berusia satu bulan lebih, dan ya tuhan, mereka sedang lucu-lucunya. Saat sedang kelebihan energi, mereka akan berlari kesana-kemari, mencakar-cakar kaki sofa, karpet, keset, apapun yang dapat mereka jangkau. Mereka juga suka melompat-lompat (Kimi bahkan sudah bisa naik sendiri ke atas sofa), lalu saling menerjang, menggigit, mencakar, dan bergelut satu sama lain (sepertinya begitulah cara mereka bercanda). Seperti halnya manusia yang masih balita, mereka sedang asyik-asyiknya bermain-main dan mengeksplorasi segalanya. Pokoknya tidak bisa diam.

Hanya ada dua momen tiga anak kucing ini akhirnya bisa anteng, yaitu ketika tidur dan menyusu. Biasanya mereka menyusu lebih dulu, baru setelah beberapa saat mereka akan mulai mengantuk dan tertidur. Jam tidur mereka agak sporadis dalam satu hari, tetapi kalau sudah jatuh terlelap, mereka akan mlungker seperti buntelan.

Adik saya (anak manusia) pun mengajari, bahwa itulah saat-saat mereka akhirnya bisa “ditaklukkan”. Saya dan adik suka sekali bermain-main dengan ketiga anak kucing. Kadang-kadang kami akan mengangkat mereka, lalu menaruhnya di atas pangkuan atau dada kami sambil rebahan, maksudnya biar bisa dikeloni sambil dielus-elus begitu. Namun saking tidak bisa diamnya, baru ditaruh, mereka langsung lari lagi. Akhirnya adik saya menemukan, bahwa waktu terbaik untuk ngeloni mereka adalah saat mereka sudah mulai tidur. Saat itu, mereka akan terlalu mengantuk untuk kabur atau melawan jika mau diapa-apakan.

Itulah yang sedang saya praktikkan sekarang. Baru saja saya melihat Komo sedang tidur di kolong meja, sementara saya mengetik dengan laptop di atasnya. Ide saya pun muncul. Saya segera menyimpan tulisan yang belum jadi ini dan memindahkannya ke ponsel. Saya lalu merogoh ke kolong meja, menggapit tengkuknya, lalu menaruh Komo di atas perut saya, sementara saya berbaring di atas sofa. Ia terbangun dan mendongak sebentar, tetapi lekas saya usap-usap agar tenang. Tak lama, Komo sudah kembali terlelap. Kini, saya meneruskan menulis paragraf terakhir ini di ponsel, sambil mengelus-elus Komo yang berbaring tenang di atas perut saya. Ah, nikmatnya…

Tiga Anak Kucing

Obrolan Malam dengan Seorang Kawan

Mengejutkan rasanya menemukan sisi yang tidak disangka dari seseorang yang kita kira sudah cukup kita kenal.

 

Sore itu Ibuk saya telepon, “Jangan pulang, banjir dimana-mana. Kamu nginep di rumah temanmu saja.” Pinggiran Barat Surabaya tempat saya tinggal memang merupakan daerah rawan banjir. Saya yang kemana-mana naik sepeda motor sudah cukup kenyang merasakan bagaimana repotnya terjebak banjir yang jadi satu paket dengan macet (plus mogok, kadang-kadang). Untungnya saya masih nongkrong di kampus dengan beberapa teman. Alhasil saya tidak sampai kebingungan bertanya kesana-kemari untuk cari tumpangan tidur. Teman saya, Adi, menawarkan untuk menginap di kosannya.

 

Ketika tiba di kamar kosan Adi, hal pertama yang saya sadari adalah koleksi bukunya yang sangat banyak. Jauh lebih banyak dari koleksi saya. Saya selalu mengenal Adi sebagai sosok yang slengekan, dengan guyonan-guyonan yang absurd dan acapkali mesum. Saya sama sekali tidak mengira ia tipe orang yang gemar membaca. Ia bercerita kalau minat membacanya mulai tumbuh sejak kuliah S2. Saya longok sedikit judul-judul bacaannya. Selain buku-buku arsitektur, ada juga tulisan-tulisan Cak Nun, antologi puisi Widji Tukul, hingga Madilog-nya Tan Malaka yang fenomenal itu. Wah, wah, saya sungguh-sungguh terkesan.

 

Lalu kami mulai mengobrol. Saya rasanya tidak akan terkejut jika saja Adi mengajak saya bicara soal cewek seksi atau sejenisnya. Tapi ternyata kami membahas beraneka topik yang jauh dari hal-hal banal. Awalnya saling curhat tentang nasib kami yang sama-sama molor dalam urusan kuliah, meskipun tetap saja saya yang lebih parah karena dia sudah S2 dan tinggal mengurus tesis sementara saya baru-baru saja lolos dari jerat S1 hahahaha. Tentang tantangan yang kami hadapi dalam mengikuti ritme dunia perkuliahan. Melebar dari situ, kami mulai berdiskusi tentang perkara arsitektur. Tentang kebiasaan membaca buku. Tentang fenomena sosial seperti hamil diluar nikah. Hingga pandangan ke-Tuhan-an serta ke-agama-an. Macam-macam.

 

Kami mengobrol dan terus mengobrol semalaman. Saya jadi menemukan hal-hal menarik tentang Adi yang baru saya tahu. Misalnya saja, dia tidak suka membaca novel. Beda jauh dengan saya yang tidak pernah tahan membaca buku selain novel. Konon, ia tidak suka dengan novel karena waktu SMP ia disuruh-suruh oleh temannya membaca buku Raditya Dika, lantas mengira semua novel sama saja seperti itu, kurang berisi. Saya kemudian bercerita soal pengarang favorit saya, Ayu Utami, untuk memberinya gambaran pembanding. Saya juga menawarkan untuk meminjaminya novel Bilangan Fu yang sudah secara personal saya setarakan kedudukannya dengan kitab suci itu hehehe.

 

Selain itu, sebagai seorang Hindu, ternyata Adi sangat terkagum-kagum dengan sosok Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ia sering menonton ceramah serta membaca buku-buku karya Cak Nun. Ia baru-baru ini juga mulai mengikuti ceramah dari Gus Dur. Untuk urusan keagamaan, Ad rupanya memiliki pandangan yang cukup terbuka dan kritis. Saya pun jadi berani menjabarkan panjang lebar padanya tentang konsep ke-Tuhan-an yang saya imani secara pribadi. Sebuah konsep yang hanya saya ungkapkan pada segelintir orang saja karena terlalu “sesat” bagi pandangan mainstream.

 

Sebagai teman kuliah, saya mengenal Adi sudah lebih dari enam tahun. Kami memang tidak begitu akrab, tapi tetap mengagetkan rasanya ketika dalam satu malam saja saya tiba-tiba melihat sosok dirinya dalam penilaian yang sama sekali baru.

 

Kami akhirnya memutuskan untuk menghentikan obrolan dan tidur sekitar pukul 02.45 malam itu. Ketika pulang dari kosan Adi keesokan harinya, saya pun mulai berpikir, rasanya saya perlu menghabiskan lebih banyak waktu lagi mengobrol dan mengenal lebih dekat teman-teman saya yang lain. Siapa tahu masih banyak kejutan yang bisa saya temui. (*)

Obrolan Malam dengan Seorang Kawan

Menikmati Rokok Tanpa Asap di House of Sampoerna

House of Sampoerna merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Surabaya. Saya pribadi sudah berkali-kali berkunjung ke sini dan dengan senang hati akan merekomendasikan tempat ini sebagai salah satu jujugan yang patut disambangi jika pelesir ke Surabaya. Tulisan ini awalnya saya buat untuk salah satu tugas kuliah, lalu saya ramu kembali beberapa kali untuk ditampilkan di blog. Kali ini, saya tuliskan lagi sebagai artikel untuk web AICT (Ambassador of Indonesian Culture & Tourism) Surabaya. Lebih tentang komunitas AICT Surabaya bisa dilihat di Tentang AICT Surabaya.

AICT Surabaya

house of sampoerna, museum surabaya, museum rokok, rokok kretek, gedung antik, gedung tua surabaya, wisata surabaya

Menjelajahi kawasan Surabaya Utara rasanya tidak lengkap jika belum mampir ke House of Sampoerna (HOS) yang merupakan destinasi jalan-jalan yang cukup populer di kota ini. HOS merupakan sebuah komplek wisata dengan atraksi utama berupa museum yang menampilkan riwayat perusahaan Sampoerna sebagai salah satu produsen rokok terbesar di negeri ini. HOS terletak di Jalan Taman Sampoerna no. 6, hanya sekitar 400m dari lokasi bangunan eks-penjara Kalisosok yang mudah dikenali karena dinding-dinding tingginya dihiasi oleh mural warna-warni. Selain museum, di komplek ini juga terdapat galeri, kios cinderamata, kafe, dan pabrik rokok yang masih aktif beroperasi di gedung bagian belakang. Ada juga rumah liburan pribadi milik keluarga Sampoerna yang terletak di gedung sayap sisi Barat komplek.

Lihat pos aslinya 936 kata lagi

Menikmati Rokok Tanpa Asap di House of Sampoerna