Bagaimana Rasanya Jadi Kambing?

 

Saudara saya di kampung memelihara kambing. Saya baru tahu saat berkunjung dua minggu lalu. Mereka belum ada waktu terakhir saya ke sana, barangkali setahun sebelumnya. Ada dua kambing dewasa, jantan dan betina, juga dua lagi yang masih anak-anak (orang Jawa menyebutnya cempe). Yang dewasa diikat pada sebuah tonggak bambu. Beberapa helai daun pisang utuh, lengkap dengan tangkainya, tampak digantungkan untuk makanan mereka. Cempe-cempe asyik mencari makan sendiri di rerumpun bambu di dekatnya.

Entah mengapa, waktu itu saya tiba-tiba merasa tertarik pada kambing-kambing itu. Saya menghabiskan paling tidak sepuluh menit hanya untuk berjongkok diam dan menatapi kedua kambing dewasa. Saya berada cukup dekat untuk bisa menghirup bau badan kambing-kambing itu dan mengamati beberapa detail (ada kotoran ayam yang menempel di kaki kiri depan kambing betina). Tetapi jarak saya juga cukup jauh dari rentangan terpanjang tali penambat yang mengikat leher mereka (diam-diam saya juga takut diseruduk).

Mereka makan dan terus makan. Pada satu waktu si kambing betina membuang kotoran, keluar dari buritnya seperti berondongan peluru hitam kecil-kecil. Tidak lama, si jantan ikut-ikutan buang air kencing. Sesekali, si betina yang sedang hamil tampak menggosok-gosokkan badannya pada tonggak. Mungkin sedang gatal. Saya juga beberapa kali melihat perutnya yang besar itu berkedut-kedut, sepertinya calon cempe yang ada di dalam situ sedang bergerak-gerak. Pada saat begitu, si ibu kambing akan menelengkan leher lalu menggosok-gosok kepala pada perutnya. Agaknya gestur tersebut menyerupai ibu manusia yang mengelus-elus perut saat bayi yang dikandungnya menendang-nendang. Tetapi mereka makan dan terus makan. Mereka buang air, buang kotoran, dan menggosok-gosok badan tanpa berhenti mengunyah. Sesekali saya bisa melihat gigi mereka yang geraham tampak berjajar rapi pada rahangnya. Mulut mereka dengan gesit merobek helai demi helai daun pisang dari tangkai lalu melumatnya. Kres, kres… Saya tidak pernah melihat kambing yang diberi makan daun pisang sebelumnya. Saya bayangkan dari bunyinya saat dikunyah, daun pisang ini barangkali seperti kerupuk yang renyah dan kriuk-kriuk.

 

 

 

Ah, saya jadi bertanya-tanya, apakah ada bedanya bagi mereka daun pisang atau rumput? Daun turi atau kemangi? Setiap kambing yang saya ingat sepertinya selalu menikmati apapun tetumbuhan yang jadi makanannya (atau paling tidak saya pikir demikian). Tetapi mungkinkah sebenarnya mereka lebih menikmati satu jenis daun dibanding yang lain? Apakah mereka juga punya selera yang berlainan seperti manusia (saya bahkan pernah dengar cerita tentang kambing aneh yang hanya mau makan bedak) atau semuanya sama saja? Apakah lidah mereka mampu mencecap rasa? Bisakah hidung mereka mengenali aroma?

Pada titik itu saya juga bertanya-tanya, bagaimanakah rasanya jadi kambing? Hidupnya hanya makan dan makan, mengunyah dan mengunyah tiada henti. Saya ingat ada juga saat-saat dimana mulut saya tidak bisa berhenti makan, yaitu pada hari-hari awal Lebaran. Tetapi saya kira yang seperti itu tidak sepenuhnya sama. Lagipula, saya makan berbagai jenis camilan, bukan cuma daun yang itu-itu saja. Mungkinkah, jika diberi kebebasan, mereka sebenarnya juga ingin melakukan hal yang lain? Barangkali bermain-main sambil berkejaran dengan temannya, atau bahkan diam-diam mengamati makhluk hidup lain (mungkin kucing atau ayam) seperti yang saya lakukan pada mereka.

Saya tak urung juga jadi membayangkan bagaimana mereka bisa makan dan berak di tempat yang sama. Adakah kambing-kambing itu betah dengan yang demikian karena bau-bau itu sudah tak ada bedanya lagi bagi mereka? –badan mereka sendiri saja sudah bau. Mungkinkah mereka sebenarnya tidak tahan juga dengan bau-bau tersebut? Tetapi kambing tidak bisa melontarkan protes pada manusia-manusia yang mengikatnya pada tonggak dan membuat mereka tidak bisa beranjak kemana-mana atau berbuat apa-apa, selain makan dan terus makan (apapun yang disediakan oleh si manusia) serta membuang kotoran di situ-situ saja. Bagaimana rasanya jadi kambing yang tidak punya pilihan tanpa batas seperti manusia? Bagaimana rasanya jika manusia bertukar tempat dengan kambing?

Ah, sepupu saya sudah datang. Tampaknya hari sudah mulai gelap dan saatnya kambing-kambing itu digiring masuk ke kandang mereka yang sempit, lembab, gelap, dan bau. Saya pun harus kembali pulang ke kota. Sepertinya saya tidak berkesempatan melihat langsung ibu kambing melahirkan anaknya. Saya harap cempe itu akan lahir dengan selamat dan tumbuh dengan sehat. Tetapi berlebihankah jika saya diam-diam juga berharap kambing-kambing itu suatu saat nanti bisa mati karena usia tua, bukannya berakhir di pisau jagal untuk hari raya kurban yang sebentar lagi datang? (*)

WP_20150830_16_41_03_Pro

 

Bagaimana Rasanya Jadi Kambing?

#InternetBergizi – Duolingo

duolingo, start screen, good website, learning language site, learning spanish, learning france, learning german, free language learning, basic language learning

Hola! Como estas? Me llamo Fauzi. Estoy aprendiendo español en Duolingo. Mucho gusto 🙂

(Hello! How are you? My name is Fauzi. I’m studying Spanish on Duolingo. Nice to meet you.)

Selamat berjumpa di edisi perdana #InternetBergizi yang kali ini akan membahas tentang Duolingo, sebuah website yang paling sip dijadikan jujugan kalau agan-agan ingin belajar bahasa asing (bukan bahasa kalbu ya). Sebenarnya website ini sudah pernah saya bahas sedikit di postingan saya tentang belajar bahasa Spanyol. Tapi saya pengin ceritain lagi karena situs ini emang kece badai bets. Lanjutkan membaca “#InternetBergizi – Duolingo”

#InternetBergizi – Duolingo

EF #5 – Why I Joined BEC

Soo… This is, as far as I could recall, my very first intentionally-written-in-English blog post. It’s been ages since the last time I published an update on this blog, and the moment I finally got to write again, I did it in English. Pretty swag, eh? Hahaha… Anyway, it actually went back about a week ago. I was having my in-between term holidays and got nothing exciting to do but lying on bed for the whole days, so I thought it would probably be nice to (finally) have a little visit to blogosphere things.

If you are WordPress users, it should’ve been familiar to you that right after logging in to your account, you’d be redirected to the Reader page where you could see a list of posts from the blogs you’re following. And that was when I saw some fellow bloggers posting some entries with common topic in English and putting on them a very distinctive title code: EF #4. Feeling curious, I did a little more digging and found BEC’s blog page (what is that? Click on the link and see for yourself).

Long story  short, I registered and joined the club. So this, this very blog post here, would be the initial entry for (supposedly :P) an upcoming series of weekly posts in the future. And on this 5th week (or first for me), the challenge is to write about the club itself. Since I’m quite new to this thing and haven’t known much, I think I’ll just write about the reason I decided to join the club and what I expected from that.

So, what was my motivation in joining the club in the first place? To be honest, it was nothing fancy nor noble-minded. It was simply because… I felt like it. 😛 Seriously, I wasn’t quite sure that I could keep up with the weekly challenge. Routinely blogging in Bahasa Indonesia has always been hard enough for me, let alone doing it in English. However, I’m still hoping that the club and its challenge could somehow help me dealing with the writing procrastination I’ve been having for quite a long time. I’m especially relying a lot on the community members. In a glance, the community seemed to consist of many active professional bloggers from whom I could take plenty of knowledge and motivation in blogging. Being alone blogger didn’t take me anywhere far, so I’m counting much on being in a network.

Moreover, if I manage to meet the challenge every week, I can use it as a way for improving my English writing skill, the skill I haven’t had much time practicing. It will be an advantage for me as I’m planning to pursue a higher education degree abroad after graduating here.

Um.. I think that’s all for now. In fact, I didn’t even think that I would be able to write this much. Soo… I guess I’ll see you next week (hopefully). 😀

EF #5 – Why I Joined BEC

¡Hablo Español!

Hola chica!

Saya sedang keranjingan belajar bahasa Spanyol. Kurang lebih dua bulan lalu, saya menetapkan niat untuk mulai mempelajari secara otodidak (memang mau kursus dimana?) bahasa yang banyak digunakan di negara-negara Amerika Latin ini. Saya memulai dengan menonton beberapa video basic learning di YouTube. Saya juga mengunduh beberapa lagu berbahasa Spanyol. Dari hasil searching di internet, saya menemukan sebuah band beraliran alternatif bernama Nudozurdo yang berbasis di Madrid. Musiknya lumayan enak dan cocok dengan selera saya. Jadilah lagu-lagunya saya masukkan dalam playlist, meski saat didengarkan, saya sama sekali tidak dapat mengenali lafal apalagi arti liriknya. Saya hanya berkeyakinan bahwa semakin sering didengarkan, semakin mudah kata-kata asing tersebut meresap ke dalam otak.

Sayangnya, metode awal coba-coba tersebut tidak menunjukkan keberhasilan seperti yang diharapkan. Nonton video lama-lama bikin bosan. Mendengar musik yang liriknya asing total untuk telinga ternyata juga tidak membantu. Semangat saya pun semakin surut dan saya berhenti belajar.

Percikan semangat akhirnya kembali saya dapatkan setelah menemukan sebuah situs web yang menyediakan layanan belajar bahasa asing dengan gratis, Duolingo. Duolingo memberikan apa yang tidak saya dapatkan dari metode menonton video sebelumnya: jalur serta tahapan belajar yang terarah dan berjenjang. Yang tidak kalah penting, situs tersebut juga memungkinkan orang yang buta sama sekali tentang bahasa yang ingin dipelajarinya untuk belajar mulai dari level yang paling basic. Learning from a scratch, mulai dari nol. Selain Spanyol, Duolingo juga memberi pilihan kursus bahasa asing yang lain seperti Jerman, Perancis, Italia, Portugis, dan masih banyak lagi. Sebagian besar memang masih bahasa yang digunakan di Eropa.

Saya sendiri sempat menambahkan Bahasa Jerman dalam daftar course saya dan mencicipi sedikit pembelajarannya. Namun, sementara saya tidak lanjutkan karena ingin fokus dulu dengan Bahasa Spanyol, minimal hingga beberapa bulan ke depan. Tetapi, karena sedang dalam masa euforia (paling tidak untuk saat-saat ini), rasanya saya tidak puas berhenti hanya pada satu situs web. Saya pun mengembangkan channel belajar dengan menambahkan Busuu dan Italki dalam daftar.

Secara konsep, Busuu hampir sama dengan Duolingo. Hanya saja, banyak fiturnya yang terbatas dan hanya dapat diakses oleh premium user. Artinya, kita harus membayar jika ingin mendapat manfaat belajar yang optimal dari situs ini. Menurut saya, Duolingo tetap jauh lebih unggul daripada Busuu. Selain karena fitur-fiturnya gratis (interface-nya juga lebih unyu 🙂 ), metode belajarnya pun lebih efektif dan porsi latihannya jauh lebih banyak. Saya menggunakan Busuu hanya sesekali dan sifatnya lebih sebagai pelengkap. Sebab, ada beberapa metode Busuu yang tidak dijumpai di Duolingo, misalnya belajar melalui percakapan pendek dan menggunakan kata dalam suatu kalimat.

Sementara itu, Italki merupakan semacam social media bagi orang-orang yang sedang mempelajari bahasa asing. Sebenarnya, fungsi utamanya lebih seperti direktori bagi mereka yang ingin mencari guru bahasa asing online. Namun, ada juga artikel-artikel dan fitur yang bisa dimanfaatkan untuk belajar secara gratis. Misalnya notebook, answer, dan discussion. Kita bisa bertanya, berdiskusi, atau membuat tulisan bebas dalam bahasa yang kita pelajari, lalu orang lain yang menguasai atau berbicara bahasa tersebut bisa membuat koreksi terhadap tulisan kita. Kita juga bisa berteman dan berkomunikasi dengan orang-orang yang menguasai bahasa yang kita pelajari, atau ingin mempelajari bahasa yang kita kuasai, lalu saling bertukar ilmu. Intinya, Italki menjadi semacam portal community learning bagi para peminat bahasa.

Dan begitulah, meskipun hanya belajar otodidak dari internet, gratisan pula, saya berharap paling tidak dalam satu tahun ke depan (kalau sanggup konsisten hahaha) saya jadi semakin jago dalam berbahasa Spanyol, syukur-syukur kalau bisa dapat bonus menggaet wanita Latino yang eksotis. Hehehe…

Eh, tapi dari tadi saya belum cerita ya kenapa kok bahasa Spanyol. Kenapa bukan bahasa Perancis, Jerman, atau Mandarin misalnya. Hmm.. barangkali karena saya kebanyakan nonton serial action televisi Amerika yang sering menampilkan karakter-karakter Latino. Lama-lama saya jadi tertarik dengan bahasa Spanyol (yang biasanya dipakai tokoh gangster atau kartel narkoba :p). Alasan lainnya: karena bahasa Spanyol belum terlalu mainstream di Indonesia. Biar asik aja gitu, sesekali jadi anak antimainstream. Hehehe…

*) Hablo español = I speak Spanish

¡Hablo Español!

Natal.

Natal segera tiba. Itu artinya libur panjang akhir tahun dan dekorasi merah-putih-hijau di sana-sini. Tetapi bila apa yang telah terjadi tahun-tahun lalu kembali berulang tahun ini, maka ada satu lagi yang akan turut menghiasi suasana natal kali ini: kehebohan perkara beragama.

Inilah yang terjadi pada saya seputar waktu yang sama tahun lalu: saya baru tiba di rumah menjelang tengah malam. Saya sudah sangat mengantuk, meski sebelum berangkat tidur saya masih sempatkan sejenak untuk menengok akun social media (ah, tidakkah manusia modern begitu mudah terjebak pada adiksinya). Dan segala perhatian saya langsung terserap oleh sebuah status yang ditulis seorang kawan, saya tidak ingat isinya secara persis, tapi kurang lebih begini:

Tidak apa-apa kami tidak diberi selamat. Gereja kami tidak dibom saja kami sudah bersyukur dan berterima kasih.

Hati saya mencelos. Sungguh cara yang buruk untuk mengakhiri hari, saya tertidur dengan membawa rasa sedih hari itu.

Pada hari-hari itu, halaman media sosial memang sedang ramai oleh bahasan tentang topik boleh-tidaknya “kita” (dan dengan kita yang saya maksud sebenarnya adalah orang Islam, yang karena mayoritas di negeri ini jadi mendapat privilese penyebutan sebagai orang pertama) mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. Berbagai tulisan dan komentar berseliweran. Pada suatu titik, topik tersebut jadi begitu overrated dan subjektif.

Saya percaya bahwa banyak yang tanpa intensi buruk hanya ingin berbagi informasi tentang tata cara dan ajaran beragamanya. Tetapi kita tahu bahwa perkara agama selalu rentan digunakan sebagai alat pengadu domba. Maka begitulah, tidak hanya berisi pengetahuan, diskusi tentang topik tersebut juga kerap ditunggangi oleh benih kebencian antargolongan (yang sama sekali tidak bisa saya pahami apalagi setujui). Saya pun bisa memahami jika teman saya tadi, yang dalam kesehariannya damai-damai saja, bahkan hampir tidak pernah menyinggung persoalan agama, akhirnya jengah juga ketika apa yang harusnya tidak perlu terlalu diributkan sampai segitunya malah akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengganggu. Astaga, bahkan saya pun turut jengah.

Saya rasa, semua orang perlu merasakan jadi minoritas paling tidak sekali dalam hidupnya. Supaya kita bisa memahami cara-cara dan sudut pandang yang berbeda. Seringkali apa yang bagi para minoritas bisa menjadi privilese yang begitu istimewa, merupakan hal-hal yang kecil saja, remeh-temeh, taken for granted, bagi para mayoritas. Para mayoritas jadi memiliki tanggung jawab lebih untuk terus memelihara kebijaksanaan agar tidak mudah kehilangan sensitivitasnya.

Pada saat saya menulis ini, fenomena serupa belum mulai tampak ramai di media sosial. Saya sungguh-sungguh berharap bahwa mulai tahun ini dan seterusnya masyarakat Indonesia telah belajar untuk jadi lebih bijaksana. Sebarkanlah apa yang menurutmu baik dengan cara yang baik pula. Dan jangan pernah berlebihan. Bagaimanapun, seperti halnya taman, pasar, jalan raya, dsb. media sosial dan internet sejatinya juga adalah ruang publik. Ruang publik dalam bentuk yang maya. Maka, kita (kali ini “kita” yang saya maksud adalah seluruh penduduk Indonesia Raya tanpa pandang bulu) patut sadar bahwa ia tidak bisa dikuasai oleh kepentingan individu atau golongan tertentu saja. Mari kita belajar untuk jadi lebih respectful dan less ignorant. Toh bangsa ini milik kita semua; kita yang beraneka ragam dan rupa. Tidakkah hidup berdampingan dalam damai jauh lebih menyenangkan daripada kebalikannya?

Demikianlah, meski masih beberapa minggu lagi, bagi saudara-saudara kaum Nasrani yang hendak merayakan Natal tahun ini, saya merasa perlu mengucapkan, seperti yang saya ucapkan pula pada tahun yang sudah-sudah: SELAMAT BERBAHAGIA!

Natal.

Punakawan Dadi Ratu (Surat untuk Jokowi)

Dulu, waktu segenap penduduk Indonesia Raya masih heboh-hebohnya gontok-gontokan karena adu jagoan menjelang pilpres, pernah ada sebuah lomba yang bertajuk “Surat untuk Jokowi”. Namanya saja sudah cukup jelas menggambarkan isinya. Saya pun termasuk dari salah satu peserta yang juga meramaikan gelaran tersebut dengan ikut berpartisipasi menulis surat (dengan harapan mendapat hadiah tentu). Meskipun gagal jadi pemenang (masuk sekian besar pun tidak), paling tidak saya merasa isi surat saya sebenarnya tetap relevan buat dibaca-baca Pak Jokowi. Jadi daripada cuma mangkrak di harddisk, lebih baik saya tampilkan sekalian di sini. Siapa tahu eh siapa tahu Pak Jokowi iseng-iseng buka blog ini, Hehehe…

Yah, meskipun akhirnya kebijakan menaikkan harga BBM tetap bikin gigit jari banyak masyarakat, mudah-mudahan sisa waktu pemerintahan yang masih panjang sekali ini bisa dipakai Pak Jokowi untuk membuktikan keberpihakan dan itikad baiknya terhadap kebajikan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, terutama para wong cilik. Semoga beliau tetap jadi ratu punakawan yang tidak pernah lupa pada akar rumput darimana ia berasal. Semoga…

Jadi, tanpa berpanjang-panjang lagi, ini dia surat saya untuk Pak Jokowi. Selamat membaca.

Pak Jokowi yang baik…

 

Saya mau cerita sedikit. Suatu sore, saya sedang bersantai sambil browsing saat ibu yang sedang numpang rebahan di kamar saya tiba-tiba nyeletuk, “Jokowi ini mirip sama Obama ya?” Layar laptop saya kebetulan sedang menampilkan foto Pak Jokowi (saya sedang baca-baca profil Bapak). “Mirip dari mananya?” sontak saya terheran-heran menyahut. “Obama kan juga gitu mukanya, agak-agak ndeso gitu,” tukas beliau. Saya melongo sejenak sebelum akhirnya menggumam “Oo..” sambil mesam-mesem sendiri. Saya diam-diam mbatin, jangan-jangan ibu saya juga mengira kalau Obama kulitnya hitam begitu karena kebanyakan main layangan di sawah waktu kecil. Hehehe…

 

Tapi, Bapak jangan tersinggung dulu. Ibu saya memang agak lugu soal beberapa hal. Bagaimanapun, celetukan beliau justru seakan menyiratkan pandangan masyarakat awam mengenai Bapak; bahwa sosok Pak Jokowi mewakili gambaran rakyat kecil di negeri ini. Jokowi adalah rakyat, wong cilik. Maka, tak heran jika ibu saya yang cuma tamatan SD serta lahir dan besar di desa  tanpa segan-segan menjuluki Pak Jokowi (juga Obama) sebagai “muka ndeso”.

 

Saya agaknya jadi teringat dengan punakawan. Dalam cerita pewayangan, kita mengenal tokoh-tokoh kesatria yang mewakili kebajikan seperti Sri Rama, lima bersaudara Pandawa, dsb. Mereka adalah figur bangsawan kerajaan yang kerap digambarkan dengan ciri personifikasi yang serba indah: badan tegap, otot lencir, tutur dan perangai halus, dsb. Sosok wanitanya pun tampil molek jelita serta halus lembut perilakunya. Sebaliknya, ciri-ciri yang seram sering digambarkan mewakili kejahatan. Raksasa atau buta kental dengan sosok bermata besar melotot, mulut yang menyerupai moncong dengan geligi bertaring, dsb. Tetapi, ada pula punakawan, yaitu figur yang mewakili rakyat jelata –dalam cerita yang istanasentris, mereka jadi batur atau abdi kerajaan. Mereka ini istimewa, sebab meskipun wujud mereka buruk rupa, hati mereka sesungguhnya luhur dan arif bijaksana. Jalma tan kena kinira, hati mereka tak dapat dikira hanya dari tampilan fisiknya yang jelek. Mereka, punakawan inilah, yang mewakili kebaikan kaum jelata, rakyat kecil.

 

Ah, saya bukannya hendak menuturi Bapak tentang pewayangan. Saya toh cuma anak kemarin sore, generasi ’90-an yang sudah termakan modernisasi dan lebih tahan nonton YouTube daripada pagelaran wayang. Saya cuma tahu sedikit saja. Bapak yang orang jawa tentu lebih paham. Justru, karena lebih paham itulah, Bapak saya yakini bisa lebih menghayati dan memaknai konsep tersebut.

 

Kalau digubah dalam cerita wayang, kisah Bapak laksana lakon dengan judul “Punakawan Dadi Ratu”. Rakyat jelata yang muncul jadi sosok pemimpin. Meski telah jadi Ratu, saya, bersama segenap rakyat lain, berharap Bapak tidak lantas lupa diri dan gila kekuasaan, tetapi tetap memegang teguh kesederhanaan dan kerendahan hati seorang punakawan. Jalankanlah roda kepemimpinan Bapak dengan kebijaksanaan dan kearifan, sambil tetap eling lan waspada. Sebab, saya tahu betapa susahnya bertahan jadi orang baik di tengah kancah perpolitikan yang penuh gempuran sana-sini.

 

Pak Jokowi yang baik…

 

Barangkali sekarang negeri kita sedang menjalani babak goro-goro. Situasi politik semakin keruh, kesatuan dan persatuan bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika semakin terancam sebab rakyat terus-terusan dihasut dan dihujani dengan propaganda politik yang kotor dan dengan mudahnya diumbar dalam berbagai media. Maka, Pak Jokowi, tampillah jadi seorang punakawan yang menghibur hati rakyat. Tetapi, jangan hanya jadi pelipur lara pascatrauma, tampillah sebagai yang menghentikan goro-goro itu sendiri.

 

Pak Jokowi yang baik…

 

Kepercayaan dan dukungan rakyat telah mengantarkan Bapak menuju tahta sebagai seorang Ratu. Janganlah sebagai Ratu Bapak sampai lupa siapakah yang semestinya Bapak perjuangkan. Jadilah punakawan yang senantiasa menyampaikan suara amanat rakyat, sekaligus “suara” Tuhan yang mengajarkan kebaikan.

 

Dalam kehidupan, kita memang sering terkagum-kagum oleh sosok kesatria. Merekalah figur yang kita pandang saat bicara tentang sosok role model. Tetapi, pada akhirnya, sosok punakawanlah yang selalu memikat dan lekat di hati kebanyakan kita. Sebab, punakawan adalah kita dan kita adalah rakyat. Selamat memperjuangkan kebaikan, Pak Jokowi. Rakyat senantiasa bersama Bapak.

 

 

 

Salam,

 

Akh. Imron Fauzi

Punakawan Dadi Ratu (Surat untuk Jokowi)

Tujuh

Apakah itu waktu?

Mengapa kita mengucapkan “Rasanya seperti baru kemarin…” justru saat kita sadar betapa jauh waktu telah terlewat?

Pada kita ialah sebuah momentum: Tujuh, yaitu tiga ditambah empat. Mari kita rayakan. Sebab kita muda dan pada hadapan kita adalah harapan masa depan cerah. Dan Tujuh dalam sekejap hanya akan tinggal nostalgia. Bahan obrolan pada reuni tahun-tahun mendatang, saat wajah-wajah yang kita temui sebagian telah kita lupa siapa namanya.

Tetapi itu pun masih nanti, belum lagi kita pasti kapan datangnya. Sedang saat ini yang nyata pada kita adalah Tujuh, yaitu tiga (yang tanpa diduga) ditambah empat. Tujuh: kelulusan, kebahagiaan… sekaligus perpisahan. Bagimu adalah pintu menuju masa depan dengan harapan yang menunggu dibaliknya, menanti untuk dibuka. Tetapi sebelum kau mulai mengambil langkah, sudikah sejenak kuajak menengok kembali pada Tujuh yang telah kita lewati? Sebentar saja, sebab aku tahu waktu tak akan membiarkanku menahanmu terlalu lama.

Maka, mari kita mulai dengan Tiga, yang pada mulanya adalah nol. Kau tidak mengenalku sebagaimana aku tidak mengenalmu. Atau persisnya, aku tidak mengenal siapapun. Maklum, aku hanyalah bocah pengadu nasib yang datang dari pinggiran kota. Bagiku kau hanyalah angka. Kau adalah satu, aku adalah dua, dan seterusnya hingga dua puluh delapan. Kita hanyalah mata-mata rantai dari sebuah deret angka.

Tetapi Tiga bukannya datang tiba-tiba. Ada satu, lalu dua yang terlebih dulu dilalui. Kita mulai mengenal lebih dari sekedar angka atau nama dari kebahagiaan, kesedihan, pengalaman, serta kenakalan yang kita bagi sama-sama (susah sekali mengenyahkan tragedi ulang tahun Edgar dari ingatanku!). Maka, dalam perjalanannya, pada Tiga, Kita semakin menjadi. Kita, yaitu kau, aku, dan dua puluh enam lain sesudahnya. Tiga, bersama Dua Puluh Delapan, telah mengenyangkanku dengan kemudaan dan kebahagiaan (terima kasih telah menjadi bagiannya).

Biar bagaimanapun, kita tahu bahwa pertemuan hanyalah perpisahan yang tertunda. Dan begitulah, betapapun indah, saat Tiga telah tergenapi, kita harus mulai meniti jalan kita sendiri-sendiri. Meski nasib, tanpa disangka-sangka, kembali mempertemukan kau dan aku pada Empat yang lagi-lagi sama.

Pada Empat inilah banyak hal mulai berubah. Kita telah semakin berai sebagai mata-mata rantai. Dan hidup menuntun masing-masing kita pada jalan serta cara-cara tersendiri yang berbeda. Bagimu adalah perjalanan, pertemuan, pengalaman, dan pencapaian (yang bikin iri karena aku merasa menjadi anak muda yang amat kering). Sedang bagiku adalah pelajaran, perjuangan, sekaligus pertanyaan. Apakah itu waktu? Empat kita sama tapi jarak yang kita tempuh terasa jauh sekali berbeda.

Tetapi pada Empat kita telah sepenuhnya berubah. Sebab meski gairah dan mimpi-mimpi kita masih muda, masanya telah lewat bagi kita untuk tetap disebut remaja. Kita bukan lagi kembang api yang meletup-letup, yang hasratnya tergerak oleh dorongan-dorongan untuk menjadi indah, megah, dan meriah -meski sekejap lalu timpas. Barangkali kita adalah lilin. Kita mencari sumbu yang padanya api kita dapat disulutkan. Nyala yang sederhana saja, tapi cukup menerangi untuk tempo yang lebih lama. Kita mereka-reka makna dewasa sambil belajar menjadi bijaksana.

Dan demikianlah kita sampai pada Tujuh, yaitu tiga ditampah empat. Tujuh, sebuah penanda melankoli. Dan, Kawan, inilah yang ingin aku ucapkan: aku bangga dan bahagia; padamu, untukmu. Kita memang tak selalu menghabiskan waktu bersama, tapi percayalah, bagiku kau teristimewa. Doaku untukmu: datangilah masa depanmu, dan tuntaskan mimpi-mimpimu. Sampai jumpa di waktu mendatang, saat hidup telah lebih jauh kita jelajahi; saat mimpi-mimpi telah satu-persatu kita penuhi; saat melankoli kembali menghanyutkan kita pada ”rasanya-seperti-baru-kemarin” untuk sekali lagi…

Kawan Tujuh-mu,

Ronny Fauzi

<Ini adalah surat yang saya berikan sebagai hadiah wisuda kepada Adiar Ersti Mardisiwi, teman saya selama tujuh tahun ini. Sekelas sejak SMA selama tiga tahun, kami ternyata masuk perguruan tinggi dan jurusan yang sama pula. sialnya, dia sudah lulus dan saya masih harus berjibaku dengan sisa-sisa sks yang belum tuntas. Tapi saya berbangga dan berbahagia untuk teman saya yang istimewa ini (dialah satu-satunya orang yang bisa saya curhati sampai blak-blakan). Dan surat ini sekaligus jadi balasan untuk surat manis yang ditulisnya untuk saya saat ulang tahun saya ke-19, dua tahun lalu. Kenapa baru sekarang saya balas? Karena saya lupa kalau pernah dituliskan surat begitu, hehehe… (bukan salah saya wong suratnya dimuat di blog, tidak dikirim langsung). Baru-baru ini saja saya temukan dan baca lagi surat tersebut, merasa terharu, lalu merasa harus menulis balasan. Selain itu, saya sekalian memanfaatkan waktu wisuda yang lumayan dekat sebagai momentum dan dalih untuk bermelankoli. After all, selamat menjalani hidup buat Ersti!>

Tujuh