¡Hablo Español!

Hola chica!

Saya sedang keranjingan belajar bahasa Spanyol. Kurang lebih dua bulan lalu, saya menetapkan niat untuk mulai mempelajari secara otodidak (memang mau kursus dimana?) bahasa yang banyak digunakan di negara-negara Amerika Latin ini. Saya memulai dengan menonton beberapa video basic learning di YouTube. Saya juga mengunduh beberapa lagu berbahasa Spanyol. Dari hasil searching di internet, saya menemukan sebuah band beraliran alternatif bernama Nudozurdo yang berbasis di Madrid. Musiknya lumayan enak dan cocok dengan selera saya. Jadilah lagu-lagunya saya masukkan dalam playlist, meski saat didengarkan, saya sama sekali tidak dapat mengenali lafal apalagi arti liriknya. Saya hanya berkeyakinan bahwa semakin sering didengarkan, semakin mudah kata-kata asing tersebut meresap ke dalam otak.

Sayangnya, metode awal coba-coba tersebut tidak menunjukkan keberhasilan seperti yang diharapkan. Nonton video lama-lama bikin bosan. Mendengar musik yang liriknya asing total untuk telinga ternyata juga tidak membantu. Semangat saya pun semakin surut dan saya berhenti belajar.

Percikan semangat akhirnya kembali saya dapatkan setelah menemukan sebuah situs web yang menyediakan layanan belajar bahasa asing dengan gratis, Duolingo. Duolingo memberikan apa yang tidak saya dapatkan dari metode menonton video sebelumnya: jalur serta tahapan belajar yang terarah dan berjenjang. Yang tidak kalah penting, situs tersebut juga memungkinkan orang yang buta sama sekali tentang bahasa yang ingin dipelajarinya untuk belajar mulai dari level yang paling basic. Learning from a scratch, mulai dari nol. Selain Spanyol, Duolingo juga memberi pilihan kursus bahasa asing yang lain seperti Jerman, Perancis, Italia, Portugis, dan masih banyak lagi. Sebagian besar memang masih bahasa yang digunakan di Eropa.

Saya sendiri sempat menambahkan Bahasa Jerman dalam daftar course saya dan mencicipi sedikit pembelajarannya. Namun, sementara saya tidak lanjutkan karena ingin fokus dulu dengan Bahasa Spanyol, minimal hingga beberapa bulan ke depan. Tetapi, karena sedang dalam masa euforia (paling tidak untuk saat-saat ini), rasanya saya tidak puas berhenti hanya pada satu situs web. Saya pun mengembangkan channel belajar dengan menambahkan Busuu dan Italki dalam daftar.

Secara konsep, Busuu hampir sama dengan Duolingo. Hanya saja, banyak fiturnya yang terbatas dan hanya dapat diakses oleh premium user. Artinya, kita harus membayar jika ingin mendapat manfaat belajar yang optimal dari situs ini. Menurut saya, Duolingo tetap jauh lebih unggul daripada Busuu. Selain karena fitur-fiturnya gratis (interface-nya juga lebih unyu 🙂 ), metode belajarnya pun lebih efektif dan porsi latihannya jauh lebih banyak. Saya menggunakan Busuu hanya sesekali dan sifatnya lebih sebagai pelengkap. Sebab, ada beberapa metode Busuu yang tidak dijumpai di Duolingo, misalnya belajar melalui percakapan pendek dan menggunakan kata dalam suatu kalimat.

Sementara itu, Italki merupakan semacam social media bagi orang-orang yang sedang mempelajari bahasa asing. Sebenarnya, fungsi utamanya lebih seperti direktori bagi mereka yang ingin mencari guru bahasa asing online. Namun, ada juga artikel-artikel dan fitur yang bisa dimanfaatkan untuk belajar secara gratis. Misalnya notebook, answer, dan discussion. Kita bisa bertanya, berdiskusi, atau membuat tulisan bebas dalam bahasa yang kita pelajari, lalu orang lain yang menguasai atau berbicara bahasa tersebut bisa membuat koreksi terhadap tulisan kita. Kita juga bisa berteman dan berkomunikasi dengan orang-orang yang menguasai bahasa yang kita pelajari, atau ingin mempelajari bahasa yang kita kuasai, lalu saling bertukar ilmu. Intinya, Italki menjadi semacam portal community learning bagi para peminat bahasa.

Dan begitulah, meskipun hanya belajar otodidak dari internet, gratisan pula, saya berharap paling tidak dalam satu tahun ke depan (kalau sanggup konsisten hahaha) saya jadi semakin jago dalam berbahasa Spanyol, syukur-syukur kalau bisa dapat bonus menggaet wanita Latino yang eksotis. Hehehe…

Eh, tapi dari tadi saya belum cerita ya kenapa kok bahasa Spanyol. Kenapa bukan bahasa Perancis, Jerman, atau Mandarin misalnya. Hmm.. barangkali karena saya kebanyakan nonton serial action televisi Amerika yang sering menampilkan karakter-karakter Latino. Lama-lama saya jadi tertarik dengan bahasa Spanyol (yang biasanya dipakai tokoh gangster atau kartel narkoba :p). Alasan lainnya: karena bahasa Spanyol belum terlalu mainstream di Indonesia. Biar asik aja gitu, sesekali jadi anak antimainstream. Hehehe…

*) Hablo español = I speak Spanish

¡Hablo Español!

Natal.

Natal segera tiba. Itu artinya libur panjang akhir tahun dan dekorasi merah-putih-hijau di sana-sini. Tetapi bila apa yang telah terjadi tahun-tahun lalu kembali berulang tahun ini, maka ada satu lagi yang akan turut menghiasi suasana natal kali ini: kehebohan perkara beragama.

Inilah yang terjadi pada saya seputar waktu yang sama tahun lalu: saya baru tiba di rumah menjelang tengah malam. Saya sudah sangat mengantuk, meski sebelum berangkat tidur saya masih sempatkan sejenak untuk menengok akun social media (ah, tidakkah manusia modern begitu mudah terjebak pada adiksinya). Dan segala perhatian saya langsung terserap oleh sebuah status yang ditulis seorang kawan, saya tidak ingat isinya secara persis, tapi kurang lebih begini:

Tidak apa-apa kami tidak diberi selamat. Gereja kami tidak dibom saja kami sudah bersyukur dan berterima kasih.

Hati saya mencelos. Sungguh cara yang buruk untuk mengakhiri hari, saya tertidur dengan membawa rasa sedih hari itu.

Pada hari-hari itu, halaman media sosial memang sedang ramai oleh bahasan tentang topik boleh-tidaknya “kita” (dan dengan kita yang saya maksud sebenarnya adalah orang Islam, yang karena mayoritas di negeri ini jadi mendapat privilese penyebutan sebagai orang pertama) mengucapkan selamat Natal kepada kaum Nasrani. Berbagai tulisan dan komentar berseliweran. Pada suatu titik, topik tersebut jadi begitu overrated dan subjektif.

Saya percaya bahwa banyak yang tanpa intensi buruk hanya ingin berbagi informasi tentang tata cara dan ajaran beragamanya. Tetapi kita tahu bahwa perkara agama selalu rentan digunakan sebagai alat pengadu domba. Maka begitulah, tidak hanya berisi pengetahuan, diskusi tentang topik tersebut juga kerap ditunggangi oleh benih kebencian antargolongan (yang sama sekali tidak bisa saya pahami apalagi setujui). Saya pun bisa memahami jika teman saya tadi, yang dalam kesehariannya damai-damai saja, bahkan hampir tidak pernah menyinggung persoalan agama, akhirnya jengah juga ketika apa yang harusnya tidak perlu terlalu diributkan sampai segitunya malah akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mengganggu. Astaga, bahkan saya pun turut jengah.

Saya rasa, semua orang perlu merasakan jadi minoritas paling tidak sekali dalam hidupnya. Supaya kita bisa memahami cara-cara dan sudut pandang yang berbeda. Seringkali apa yang bagi para minoritas bisa menjadi privilese yang begitu istimewa, merupakan hal-hal yang kecil saja, remeh-temeh, taken for granted, bagi para mayoritas. Para mayoritas jadi memiliki tanggung jawab lebih untuk terus memelihara kebijaksanaan agar tidak mudah kehilangan sensitivitasnya.

Pada saat saya menulis ini, fenomena serupa belum mulai tampak ramai di media sosial. Saya sungguh-sungguh berharap bahwa mulai tahun ini dan seterusnya masyarakat Indonesia telah belajar untuk jadi lebih bijaksana. Sebarkanlah apa yang menurutmu baik dengan cara yang baik pula. Dan jangan pernah berlebihan. Bagaimanapun, seperti halnya taman, pasar, jalan raya, dsb. media sosial dan internet sejatinya juga adalah ruang publik. Ruang publik dalam bentuk yang maya. Maka, kita (kali ini “kita” yang saya maksud adalah seluruh penduduk Indonesia Raya tanpa pandang bulu) patut sadar bahwa ia tidak bisa dikuasai oleh kepentingan individu atau golongan tertentu saja. Mari kita belajar untuk jadi lebih respectful dan less ignorant. Toh bangsa ini milik kita semua; kita yang beraneka ragam dan rupa. Tidakkah hidup berdampingan dalam damai jauh lebih menyenangkan daripada kebalikannya?

Demikianlah, meski masih beberapa minggu lagi, bagi saudara-saudara kaum Nasrani yang hendak merayakan Natal tahun ini, saya merasa perlu mengucapkan, seperti yang saya ucapkan pula pada tahun yang sudah-sudah: SELAMAT BERBAHAGIA!

Natal.

Punakawan Dadi Ratu (Surat untuk Jokowi)

Dulu, waktu segenap penduduk Indonesia Raya masih heboh-hebohnya gontok-gontokan karena adu jagoan menjelang pilpres, pernah ada sebuah lomba yang bertajuk “Surat untuk Jokowi”. Namanya saja sudah cukup jelas menggambarkan isinya. Saya pun termasuk dari salah satu peserta yang juga meramaikan gelaran tersebut dengan ikut berpartisipasi menulis surat (dengan harapan mendapat hadiah tentu). Meskipun gagal jadi pemenang (masuk sekian besar pun tidak), paling tidak saya merasa isi surat saya sebenarnya tetap relevan buat dibaca-baca Pak Jokowi. Jadi daripada cuma mangkrak di harddisk, lebih baik saya tampilkan sekalian di sini. Siapa tahu eh siapa tahu Pak Jokowi iseng-iseng buka blog ini, Hehehe…

Yah, meskipun akhirnya kebijakan menaikkan harga BBM tetap bikin gigit jari banyak masyarakat, mudah-mudahan sisa waktu pemerintahan yang masih panjang sekali ini bisa dipakai Pak Jokowi untuk membuktikan keberpihakan dan itikad baiknya terhadap kebajikan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, terutama para wong cilik. Semoga beliau tetap jadi ratu punakawan yang tidak pernah lupa pada akar rumput darimana ia berasal. Semoga…

Jadi, tanpa berpanjang-panjang lagi, ini dia surat saya untuk Pak Jokowi. Selamat membaca.

Pak Jokowi yang baik…

 

Saya mau cerita sedikit. Suatu sore, saya sedang bersantai sambil browsing saat ibu yang sedang numpang rebahan di kamar saya tiba-tiba nyeletuk, “Jokowi ini mirip sama Obama ya?” Layar laptop saya kebetulan sedang menampilkan foto Pak Jokowi (saya sedang baca-baca profil Bapak). “Mirip dari mananya?” sontak saya terheran-heran menyahut. “Obama kan juga gitu mukanya, agak-agak ndeso gitu,” tukas beliau. Saya melongo sejenak sebelum akhirnya menggumam “Oo..” sambil mesam-mesem sendiri. Saya diam-diam mbatin, jangan-jangan ibu saya juga mengira kalau Obama kulitnya hitam begitu karena kebanyakan main layangan di sawah waktu kecil. Hehehe…

 

Tapi, Bapak jangan tersinggung dulu. Ibu saya memang agak lugu soal beberapa hal. Bagaimanapun, celetukan beliau justru seakan menyiratkan pandangan masyarakat awam mengenai Bapak; bahwa sosok Pak Jokowi mewakili gambaran rakyat kecil di negeri ini. Jokowi adalah rakyat, wong cilik. Maka, tak heran jika ibu saya yang cuma tamatan SD serta lahir dan besar di desa  tanpa segan-segan menjuluki Pak Jokowi (juga Obama) sebagai “muka ndeso”.

 

Saya agaknya jadi teringat dengan punakawan. Dalam cerita pewayangan, kita mengenal tokoh-tokoh kesatria yang mewakili kebajikan seperti Sri Rama, lima bersaudara Pandawa, dsb. Mereka adalah figur bangsawan kerajaan yang kerap digambarkan dengan ciri personifikasi yang serba indah: badan tegap, otot lencir, tutur dan perangai halus, dsb. Sosok wanitanya pun tampil molek jelita serta halus lembut perilakunya. Sebaliknya, ciri-ciri yang seram sering digambarkan mewakili kejahatan. Raksasa atau buta kental dengan sosok bermata besar melotot, mulut yang menyerupai moncong dengan geligi bertaring, dsb. Tetapi, ada pula punakawan, yaitu figur yang mewakili rakyat jelata –dalam cerita yang istanasentris, mereka jadi batur atau abdi kerajaan. Mereka ini istimewa, sebab meskipun wujud mereka buruk rupa, hati mereka sesungguhnya luhur dan arif bijaksana. Jalma tan kena kinira, hati mereka tak dapat dikira hanya dari tampilan fisiknya yang jelek. Mereka, punakawan inilah, yang mewakili kebaikan kaum jelata, rakyat kecil.

 

Ah, saya bukannya hendak menuturi Bapak tentang pewayangan. Saya toh cuma anak kemarin sore, generasi ’90-an yang sudah termakan modernisasi dan lebih tahan nonton YouTube daripada pagelaran wayang. Saya cuma tahu sedikit saja. Bapak yang orang jawa tentu lebih paham. Justru, karena lebih paham itulah, Bapak saya yakini bisa lebih menghayati dan memaknai konsep tersebut.

 

Kalau digubah dalam cerita wayang, kisah Bapak laksana lakon dengan judul “Punakawan Dadi Ratu”. Rakyat jelata yang muncul jadi sosok pemimpin. Meski telah jadi Ratu, saya, bersama segenap rakyat lain, berharap Bapak tidak lantas lupa diri dan gila kekuasaan, tetapi tetap memegang teguh kesederhanaan dan kerendahan hati seorang punakawan. Jalankanlah roda kepemimpinan Bapak dengan kebijaksanaan dan kearifan, sambil tetap eling lan waspada. Sebab, saya tahu betapa susahnya bertahan jadi orang baik di tengah kancah perpolitikan yang penuh gempuran sana-sini.

 

Pak Jokowi yang baik…

 

Barangkali sekarang negeri kita sedang menjalani babak goro-goro. Situasi politik semakin keruh, kesatuan dan persatuan bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika semakin terancam sebab rakyat terus-terusan dihasut dan dihujani dengan propaganda politik yang kotor dan dengan mudahnya diumbar dalam berbagai media. Maka, Pak Jokowi, tampillah jadi seorang punakawan yang menghibur hati rakyat. Tetapi, jangan hanya jadi pelipur lara pascatrauma, tampillah sebagai yang menghentikan goro-goro itu sendiri.

 

Pak Jokowi yang baik…

 

Kepercayaan dan dukungan rakyat telah mengantarkan Bapak menuju tahta sebagai seorang Ratu. Janganlah sebagai Ratu Bapak sampai lupa siapakah yang semestinya Bapak perjuangkan. Jadilah punakawan yang senantiasa menyampaikan suara amanat rakyat, sekaligus “suara” Tuhan yang mengajarkan kebaikan.

 

Dalam kehidupan, kita memang sering terkagum-kagum oleh sosok kesatria. Merekalah figur yang kita pandang saat bicara tentang sosok role model. Tetapi, pada akhirnya, sosok punakawanlah yang selalu memikat dan lekat di hati kebanyakan kita. Sebab, punakawan adalah kita dan kita adalah rakyat. Selamat memperjuangkan kebaikan, Pak Jokowi. Rakyat senantiasa bersama Bapak.

 

 

 

Salam,

 

Akh. Imron Fauzi

Punakawan Dadi Ratu (Surat untuk Jokowi)

Tujuh

Apakah itu waktu?

Mengapa kita mengucapkan “Rasanya seperti baru kemarin…” justru saat kita sadar betapa jauh waktu telah terlewat?

Pada kita ialah sebuah momentum: Tujuh, yaitu tiga ditambah empat. Mari kita rayakan. Sebab kita muda dan pada hadapan kita adalah harapan masa depan cerah. Dan Tujuh dalam sekejap hanya akan tinggal nostalgia. Bahan obrolan pada reuni tahun-tahun mendatang, saat wajah-wajah yang kita temui sebagian telah kita lupa siapa namanya.

Tetapi itu pun masih nanti, belum lagi kita pasti kapan datangnya. Sedang saat ini yang nyata pada kita adalah Tujuh, yaitu tiga (yang tanpa diduga) ditambah empat. Tujuh: kelulusan, kebahagiaan… sekaligus perpisahan. Bagimu adalah pintu menuju masa depan dengan harapan yang menunggu dibaliknya, menanti untuk dibuka. Tetapi sebelum kau mulai mengambil langkah, sudikah sejenak kuajak menengok kembali pada Tujuh yang telah kita lewati? Sebentar saja, sebab aku tahu waktu tak akan membiarkanku menahanmu terlalu lama.

Maka, mari kita mulai dengan Tiga, yang pada mulanya adalah nol. Kau tidak mengenalku sebagaimana aku tidak mengenalmu. Atau persisnya, aku tidak mengenal siapapun. Maklum, aku hanyalah bocah pengadu nasib yang datang dari pinggiran kota. Bagiku kau hanyalah angka. Kau adalah satu, aku adalah dua, dan seterusnya hingga dua puluh delapan. Kita hanyalah mata-mata rantai dari sebuah deret angka.

Tetapi Tiga bukannya datang tiba-tiba. Ada satu, lalu dua yang terlebih dulu dilalui. Kita mulai mengenal lebih dari sekedar angka atau nama dari kebahagiaan, kesedihan, pengalaman, serta kenakalan yang kita bagi sama-sama (susah sekali mengenyahkan tragedi ulang tahun Edgar dari ingatanku!). Maka, dalam perjalanannya, pada Tiga, Kita semakin menjadi. Kita, yaitu kau, aku, dan dua puluh enam lain sesudahnya. Tiga, bersama Dua Puluh Delapan, telah mengenyangkanku dengan kemudaan dan kebahagiaan (terima kasih telah menjadi bagiannya).

Biar bagaimanapun, kita tahu bahwa pertemuan hanyalah perpisahan yang tertunda. Dan begitulah, betapapun indah, saat Tiga telah tergenapi, kita harus mulai meniti jalan kita sendiri-sendiri. Meski nasib, tanpa disangka-sangka, kembali mempertemukan kau dan aku pada Empat yang lagi-lagi sama.

Pada Empat inilah banyak hal mulai berubah. Kita telah semakin berai sebagai mata-mata rantai. Dan hidup menuntun masing-masing kita pada jalan serta cara-cara tersendiri yang berbeda. Bagimu adalah perjalanan, pertemuan, pengalaman, dan pencapaian (yang bikin iri karena aku merasa menjadi anak muda yang amat kering). Sedang bagiku adalah pelajaran, perjuangan, sekaligus pertanyaan. Apakah itu waktu? Empat kita sama tapi jarak yang kita tempuh terasa jauh sekali berbeda.

Tetapi pada Empat kita telah sepenuhnya berubah. Sebab meski gairah dan mimpi-mimpi kita masih muda, masanya telah lewat bagi kita untuk tetap disebut remaja. Kita bukan lagi kembang api yang meletup-letup, yang hasratnya tergerak oleh dorongan-dorongan untuk menjadi indah, megah, dan meriah -meski sekejap lalu timpas. Barangkali kita adalah lilin. Kita mencari sumbu yang padanya api kita dapat disulutkan. Nyala yang sederhana saja, tapi cukup menerangi untuk tempo yang lebih lama. Kita mereka-reka makna dewasa sambil belajar menjadi bijaksana.

Dan demikianlah kita sampai pada Tujuh, yaitu tiga ditampah empat. Tujuh, sebuah penanda melankoli. Dan, Kawan, inilah yang ingin aku ucapkan: aku bangga dan bahagia; padamu, untukmu. Kita memang tak selalu menghabiskan waktu bersama, tapi percayalah, bagiku kau teristimewa. Doaku untukmu: datangilah masa depanmu, dan tuntaskan mimpi-mimpimu. Sampai jumpa di waktu mendatang, saat hidup telah lebih jauh kita jelajahi; saat mimpi-mimpi telah satu-persatu kita penuhi; saat melankoli kembali menghanyutkan kita pada ”rasanya-seperti-baru-kemarin” untuk sekali lagi…

Kawan Tujuh-mu,

Ronny Fauzi

<Ini adalah surat yang saya berikan sebagai hadiah wisuda kepada Adiar Ersti Mardisiwi, teman saya selama tujuh tahun ini. Sekelas sejak SMA selama tiga tahun, kami ternyata masuk perguruan tinggi dan jurusan yang sama pula. sialnya, dia sudah lulus dan saya masih harus berjibaku dengan sisa-sisa sks yang belum tuntas. Tapi saya berbangga dan berbahagia untuk teman saya yang istimewa ini (dialah satu-satunya orang yang bisa saya curhati sampai blak-blakan). Dan surat ini sekaligus jadi balasan untuk surat manis yang ditulisnya untuk saya saat ulang tahun saya ke-19, dua tahun lalu. Kenapa baru sekarang saya balas? Karena saya lupa kalau pernah dituliskan surat begitu, hehehe… (bukan salah saya wong suratnya dimuat di blog, tidak dikirim langsung). Baru-baru ini saja saya temukan dan baca lagi surat tersebut, merasa terharu, lalu merasa harus menulis balasan. Selain itu, saya sekalian memanfaatkan waktu wisuda yang lumayan dekat sebagai momentum dan dalih untuk bermelankoli. After all, selamat menjalani hidup buat Ersti!>

Tujuh

Mengapa Yu Djum Tidak Berjualan Soto? – Perbedaan dan Pembedaan Gender dalam Penamaan Merek Gudeg, Pecel, Soto, dan Bakso

Menarik juga bagaimana isu feminisme ternyata bisa ditilik dari fenomena yang sebenarnya kasat, namun jarang “dilihat”.

Out of Cave

Ditulis sebagai tugas mata ajar Paradigma Feminisme.

Fenomena

Beberapa hari lalu saya pulang ke kota asal saya, Surabaya. Ketika menyusuri jalanan Surabaya yang diwarnai oleh berbagai ragam kuliner, ayah saya tiba-tiba mengangkat suatu fenomena menarik. Ia memperhatikan bahwa makanan-makanan tertentu memiliki segmentasi gender dalam penamaan mereknya. Untuk soto dan bakso biasanya digunakan nama-nama laki-laki, misalnya Soto Pak Djayus dan Bakso Pak Gendut. Sementara itu untuk gudeg dan pecel biasanya digunakan nama-nama perempuan, misalnya Gudeg Bu Mien dan Pecel Bu Kus. Hal ini menjadi sangat menarik karena belum pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya, dan juga belum pernah saya baca di literatur manapun.

Saya kemudian melanjutkan riset kecil mengenai fenomena tersebut melalui internet. Saya menggunakan mesin pencari Google dengan lokasi spesifik negara Indonesia dan menelusuri hasil hingga laman kelima. Kata kunci yang saya gunakan adalah ‘gudeg’, ‘pecel’, ‘soto’, dan ‘bakso’. Dari hasil pencarian tersebut  saya menyaring entri-entri yang mengandung nama laki-laki…

Lihat pos aslinya 1.412 kata lagi

Mengapa Yu Djum Tidak Berjualan Soto? – Perbedaan dan Pembedaan Gender dalam Penamaan Merek Gudeg, Pecel, Soto, dan Bakso

Yang Penting Bahagia: Dari Wayang Sampai Festival Multimedia

Bulan April 2013 lalu, saya dapat kesempatan buat dolan (jalan-jalan) ke Magelang, Jawa Tengah. Saya bersama beberapa teman dari jurusan arsitektur ITS mendaftar sebagai volunteer (sukarelawan) untuk kegiatan Merajut Bambu Seribu Candi, semacam program pemberdayaan masyarakat melalui arsitektur. Acaranya berlokasi di Desa Tingal, beberapa ratus meter saja dari kawasan Candi Borobudur. Program ini digagas oleh beberapa praktisi & pemerhati arsitektur kenamaan nasional dan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara.

Rombongan kami kebetulan sedang bejo (untung). Hari kedua kami berada di Magelang bertepatan dengan perayaan hari jadi Pondok Tingal, hotel bernuansa arsitektur tradisional yang turut mendukung pelaksanaan acara Merajut Bambu. Akan ada pesta rakyat yang dibuka bagi tamu hotel dan warga sekitar. Agenda utamanya: pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kami, para sukarelawan bambu, hanya bekerja dari pagi sampai sore. Malamnya, mumpung ada kesempatan senang-senang, sikat saja sekalian! Apalagi acara semacam ini tidak hanya menyajikan hiburan, tapi juga -ini yang terpenting- makanan gratis. Berangkatlah kami menuju lokasi dengan berjalan kaki bersama. Pondok Tingal terletak di tepi jalan raya, sementara base camp kami berada agak ke dalam di wilayah dusunnya.

Begitu tiba, kami disambut oleh suasana yang semarak. Lampu-lampu hias dan dekorasi sudah tertata apik berwarna-warni, kontras sekali dengan gelapnya jalanan dusun yang kami lalui barusan. Sejumlah pegawai hotel sibuk berseliweran kesana-kemari mengenakan pakaian tradisional. Sekelompok warga berkumpul di sana-sini, asyik mengobrol sambil tangan mereka membawa piring-piring kecil berisi jajanan. Suara tabuhan gamelan dan narasi dalang yang melakon terdengar sayup-sayup sebagai latar belakang. Bocah-bocah kecil terlihat bergerombol berebut antrean di stan makanan gratis. Sementara itu, mereka yang di dalam balai tempat pertunjukan wayang digelar tampak khidmat menikmati hiburan yang kini sudah semakin jarang-jarang tersebut.

dalang, pagelaran wayang kulit, blencong, kelir, debog, pewayangan, gunungan
Seorang dalang sedang melakon. (sumber gambar)

Dulunya, pertunjukan wayang adalah bentuk kesenian yang hanya dimainkan dalam lingkup keraton. Lama-kelamaan, kesenian ini mulai dimainkan juga diluar istana sebagai pertunjukan rakyat. Fungsinya pun turut mengalami pergeseran. Dari yang semula dimainkan sebagai pelengkap dalam ritual keagamaan yang bernilai spiritual, kini pagelaran wayang juga dimainkan sebagai bentuk hiburan, tetapi tetap menyelipkan pesan moral dan budi pekerti. Oleh masyarakat, pertunjukan ini sering ditanggap untuk meramaikan hajatan besar yang menandai fase penting kehidupan atau perwujudan rasa syukur. Singkatnya, pagelaran wayang selalu identik dengan perayaan. Pesta rakyat.

Tapi kita hidup pada era dimana ada orang yang tidak bisa memakan makanan mereka tanpa terlebih dahulu memotret dan mengunggahnya ke Instagram. Disaat seperti ini, wayang kulit makin redup pamornya. Kuno! Begitu barangkali pikir sebagian besar orang. Tapi toh perubahan ada bukannya untuk diratapi, tapi disikapi. Seni pewayangan pun bisa berimprovisasi. Seperti yang diperkenalkan oleh Made Sidia, dalang muda asal Bali. Ia memperkenalkan sebuah konsep pewayangan modern yang disebut Wayang Listrik. Tidak lagi menggunakan blencong yang disorotkan pada kelir, tapi menggunakan citra digital yang diproyeksikan pada layar untuk menghidupkan latar cerita yang dilakonkan. Kreatif! Dan memang harus begitu. Di jaman yang serba canggih ini, mau tidak mau kita memang harus mampu beradaptasi. Teknologi mesti kita akrabi. Biar nggak kudet alias kurang update kalau kata anak jaman sekarang. Walhasil, istilah multimedia pun makin tidak asing lagi di telinga kita.

Belum lama ini saya bahkan mendengar ada istilah “Festival Multimedia”. Terus terang, istilah tersebut lumayan baru buat saya. Tetapi, mendengar kata “festival”, segera terbersit dalam pikiran saya keramaian dan kemeriahan seperti dalam pagelaran wayang. Ah, tentu tidak harus wayang. Meskipun bisa saja cocok –seperti pertunjukan Wayang Listrik yang saya sebut sebelumnya, pewayangan tentu lebih tepat dipertontonkan pada festival kesenian daripada festival multimedia.

Judulnya multimedia, sewajarnya acara yang digelar bernuansa senada. Seperti Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang tahun ini menggelar festival multimedia yang bertajuk MMB Fest. Acara yang digelar beragam, mulai dari pameran, bazaar, festival hiburan, seminar, workshop, hingga berbagai macam kompetisi (blogging, fotografi, mural, news presenting, basket). Hampir semuanya berbau multimedia.

Ah, tapi saya juga punya ide sendiri untuk festival multimedia. Bagi saya, kata festival harus selalu berbarengan dengan keramaian dan kebahagiaan. Dipadukan dengan kata multimedia, menurut saya resep yang paling pas adalah ini: KOMUNITAS. Kenapa? Karena menggaet komunitas adalah cara paling tepat untuk menggalang massa. Kegiatannya pun banyak yang menarik, sehingga bisa pula dinikmati oleh mereka yang bukan anggotanya. Ditambah lagi ada beraneka ragam komunitas di luaran sana, termasuk di bidang multimedia, tinggal pilih mana yang cocok. Apa saja? Kalau kata saya, paling tidak beberapa komunitas ini:

1.       Komunitas Film

Siapa yang tidak suka nonton film? Saya membayangkan ada pemutaran film secara maraton yang diadakan terbuka bagi seluruh pengunjung festival. Pasti seru. Selain menonton, bisa juga diadakan diskusi mengenai film yang baru selesai diputar.  Akan makin komplit lagi kalau ada workshop pembuatan film (pendek) oleh sineas profesional.

2.      Komunitas Penulis & Pecinta Buku

Bicara tentang media, bisa dibilang media tulisan adalah salah satu dedengkotnya.  Maka tak adil jika tidak menyertakannya dalam festival multimedia. Bedah buku, workshop dan talkshow mengenai dunia tulis-menulis, lomba reportase-blogging on the spot, bazaar buku, adalah contoh kegiatan yang bisa dipilih.

3.      Komunitas Pemusik

Wah, kalau yang ini tidak usah dibahas lagi, sudah pasti wajib! Pertunjukan musik memang sudah lumrah dipilih sebagai hiburan utama dalam berbagai macam acara. Tapi, tidak cuma sekedar konser atau gig, akan lebih mengasyikkan lagi kalau ada pula music clinic dan jam session bersama para pemusik.

4.      Komunitas Seni Rupa

Stan karikatur, lukis wajah, workshop & lomba melukis atau menggambar, serta pameran karya bisa jadi pilihan acara untuk ditampilkan dari komunitas ini. Pasti akan semarak, mengingat seni rupa sendiri ada beragam jenisnya. Mulai dari yang menggunakan kertas (sketsa wajah, karikatur, dan manga), kanvas (lukisan cat minyak, cat air, dsb.), hingga media lain seperti lukis wajah, graffiti, mural, dsb.

5.      Komunitas Fotografi

Kegiatan fotografi tidak lagi terbatas pada kegiatan memotret menggunakan peranti yang mainstream seperti kamera DSLR. Ada juga fotografi kamera lubang jarum, toy cam, hingga kamera ponsel dengan aliran selfie-nya yang sedang booming akhir-akhir ini. Pasti menyenangkan jika semuanya dapat terfasilitasi dalam festival ini.

Rasanya masih banyak lagi komunitas dan kegiatan yang bisa menambah panjang daftar di atas. Ah, apapun itu, tetap ada sesuatu yang penting diperhatikan. Biar bagaimana bentuknya, menurut saya, sebuah festival yang berhasil haruslah memenuhi dua kriteria utama:

 Yang pertama, MENDATANGKAN BANYAK ORANG.

Yang kedua dan yang terpenting, MEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Seperti saya yang pulang dari pagelaran wayang malam itu dengan wajah sumringah. Saya dan teman-teman tidak punya kepentingan atau kedekatan secara personal dengan acara yang digelar. Kami cuma numpang makan gratis! Tetapi, melihat semua orang larut dalam kegembiraan malam itu, saya jadi tak tahan untuk tidak ikutan tersenyum. Sepertinya, kebahagiaan adalah semacam energi yang menguar dan menular. Saya rasa, itulah yang kita cari dalam semua festival. (*)

Festival Lumpur Boryeong, Korea Selatan. Dalam balutan "festival", sesuatu yang normalnya menjijikkan seperti berkubang di lumpur bisa jadi kegiatan yang menyenangkan.
Festival Lumpur Boryeong, Korea Selatan. Dalam balutan “festival”, sesuatu yang normalnya menjijikkan seperti berkubang di lumpur bisa jadi kegiatan yang menyenangkan. (sumber gambar)

(Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kontes Blog Lover MMB Fest.)

Blog Lover MMBFEST

Yang Penting Bahagia: Dari Wayang Sampai Festival Multimedia

Awas Curanmor!

Diolah kembali dari http://mahasiswaarsitektur.wordpress.com/2012/06/01/awas-curanmor/
Transportasi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia saat ini, terutama bagi mereka yang hidup di daerah perkotaan. Sayangnya, sarana transportasi massal yang ada di negeri ini sekarang rata-rata masih banyak yang belum bisa diandalkan. Oleh karenanya, banyak orang kemudian memilih untuk memiliki kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan transportasinya. Adanya kendaraan pribadi, entah itu mobil atau motor, tentunya akan memberikan kemudahan bagi masyarakat urban yang kebanyakan memiliki mobilitas tinggi.

Sayangnya, akhir-akhir ini, pencurian kendaraan bermotor (curanmor), terutama di Surabaya, dilaporkan kembali marak. Terbayang bagaimana repotnya kalau sampai kendaraan kita menjadi sasaran pencurian ini. Bukan hanya mengalami kerugian materiil senilai kendaraan tersebut, kita juga pasti akan kerepotan dan banyak urusan kita yang mungkin jadi berantakan karena tiba-tiba saja mobilitas kita menjadi sangat terbatas. Tentunya kita perlu meningkatkan kewaspadaan agar nantinya kita tidak menjadi salah satu korban curanmor ini. Dalam postingan berikut ini, saya akan paparkan beberapa hal mengenai curanmor ini, bukannya untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memberikan informasi yang semoga bisa membuat kita menjadi lebih berhati-hati lagi. Mari disimak!

Kendaraan lawas atau dalam kondisi kurang gress tidak luput dari sasaran pencuri.

Jangan salah sangka. Memiliki mobil atau motor keluaran lama tidak membuat Anda bisa mengurangi kewaspadaan. Bukan berarti kendaraan Anda sudah aman dari incaran pencuri hanya karena dalam anggapan Anda mereka lebih memilih untuk menggasak kendaraan yang lebih gress. Belum tentu.

Dalam banyak kasus, yang menjadi sasaran pencurian justru adalah kendaraan lawas. Hasil curian kendaraan lawas ini nantinya akan ‘dikanibal’. Maksudnya begini, penadah punya stok kendaraan bobrok yang sudah tidak bisa dipakai lagi, padahal surat-suratnya lengkap. Si penadah ini kemudian mencari orang yang bisa mendapatkan kendaraan dengan jenis yang sama. Nomor mesin dan nomor rangka kendaraan bobrok tadi lalu ditempel pada kendaraan hasil curian, membuatnya seolah-olah kendaraan yang surat-suratnya lengkap. Itulah yang dimaksud dengan ‘dikanibal’. Tapi misalnya barang yang didapat tidak sesuai dengan pesanan, biasanya hasil kejahatan tersebut langsung dilempar kepada penadah onderdil bekas atau ke daerah pelosok yang jarang dijangkau polisi.

Hati-hati para pemilik motor matic!

BIla diperhatikan, sekarang ini semakin banyak saja pengendara motor matic yang berseliweran di jalanan. Apalagi, para produsen motor sepertinya bertambah gencar memproduksi & mempromosikan jenis motor yang sekarang sudah banyak sekali macamnya ini. Alhasil, permintaan pasar terhadap spare part motor matic ini pun otomatis melonjak. Barangkali, hal inilah yang melatarbelakangi tingginya angka curanmor terhadap kendaraan jenis matic akhir-akhir ini, terutama di Surabaya. Selain motor matic, yang sering dilaporkan hilang untuk kendaraan roda empat adalah mobil jenis pikap atau van. Untuk kendaraan jenis ini, motifnya kemungkinan rata-rata ya untuk dikanibal tadi.

Meskipun dua jenis kendaraan tadi mencatat angka kejahatan tertinggi, bukan berarti pemilik kendaraan jenis lain lantas bisa ongkang kaki bersantai-santai begitu saja. Kasus yang melibatkan kendaraan jenis lain toh tetap ada walaupun jumlahnya mungkin tidak sebanyak motor matic atau pikap. Jadi, seperti kata Bang Napi: Waspadalah! Waspadalah!!!

Tidak ada tempat yang benar-benar aman.

Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, dilaporkan kasus curanmor di Surabaya ditemui paling banyak di area pemukiman sebanyak 22 kasus, disusul jalan umum (12 kasus), pertokoan, & tempat parkir masing-masing 3 kasus. Artinya, tidak ada tempat yang benar-benar aman. Kalau tempat parkir yang jelas-jelas dijaga saja masih bisa kecolongan, apalagi tempat yang tanpa penjagaan.

Selain itu, ramai atau tidaknya situasi suatu tempat juga sudah tidak bisa lagi dijadikan patokan. Daerah yang sepi sudah pasti lebih rawan. Namun, daerah yang ramai pun tidak sepenuhnya lepas dari resiko. Masalahnya, sekarang para pelaku curanmor sudah memiliki perangkat khusus dalam beroperasi. Bahkan, perangkat ini biasanya telah disesuaikan dengan jenis kendaraan sasarannya. Misalnya untuk motor matic merek Yamaha Mio, maka alat yang digunakan adalah alat khusus untuk jenis kendaraan tersebut. Untuk motor atau kendaraan jenis lain, alat yang digunakan pun akan berbeda lagi. Dengan begitu, aksi mereka dapat dilakukan dengan mudah dalam hitungan detik saja. Alhasil, beroperasi di tempat ramai sekalipun bukan lagi menjadi masalah karena para pelaku dapat melarikan diri dengan cepat. Bahkan, bagi orang yang tidak memperhatikan, mereka ini mungkin saja dikira pemilik motornya sendiri yang menyalakan kontak.

Tips mengantisipasi curanmor

Karena saya bukan orang yang tahu banyak perkara ini, berikut saya berikan beberapa link ke website yang memberikan tips yang bermanfaat terkait curanmor yang bisa Anda simak.

http://humaspoldametrojaya.blogspot.com/2009/08/tips-mencegah-curanmor-roda-dua.html

http://blog.qitanet.com/tips-mencegah-pencurian-kendaraan-dan-merakit-pengaman-motor-sederhana.html?lang=id#more-428

http://www.jgmotor.co.id/tips-menghindari-curanmor/

Ronny Fauzi (*)

Awas Curanmor!