Nongkrong ala Mahasiswa

Apakah Anda seorang mahasiswa? Kalau iya, tipe mahasiswa seperti apakah Anda? Menurut Mas Achmad Ferdiansyah, wirausahawan muda ITS penggagas Hetric Lamp, secara umum, ada empat jenis mahasiswa, yakni kupu-kupu, kura-kura, kunang-kunang, dan kuda-kuda. Apa maksudnya?

Yang pertama, kupu-kupu alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Mahasiswa seperti ini adalah tipe mahasiswa yang berada di kampus hanya bila ada kuliah. Bila tidak, bisa dipastikan dia sedang ngendon di rumah atau di kosan.

Yang kedua, kura-kura atau kuliah-rapat kuliah-rapat. Nah, dari namanya saja sudah bisa kita simpulkan bahwa mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang organisatoris, yang hari-harinya disibukkan oleh rapat, baik rapat hima, BEM, atau organisasi-organisasi lainnya, tentunya selain kuliah.

Tipe yang ketiga adalah kunang-kunang yang artinya kuliah-nangkring kuliah-nangkring. Yang seperti ini nih yang sering kita temui berlama-lama di warung-warung daerah Keputih atau Gebang. Yaa… itu yang standar sih. Yang kiriman dari orang tuanya lebih terjamin biasanya lebih memilih mall seperti Galaxy Mall atau Tunjungan Plaza, jadi Anak Gaul Surabaya…

Yang terakhir dan yang paling mulia, kuda-kuda atawa kuliah-dakwah kuliah-dakwah. Selain kuliah, dakwah atau syiar agama juga jadi aktivitas wajib bagi mahasiswa yang menganut paham ini. Biasanya, mahasiswa ini kuliahnya jadi lebih bermakna karena prosesnya menuntut ilmu itu telah dia niatkan sebagai ibadah yang dijalankan hanya untuk Yang Di Atas.

Meskipun yang terakhir merupakan yang paling baik, bukan berarti kita mesti saklek dalam menganut paham tersebut lho ya. Seperti yang diungkapkan oleh Mas Ferdi, yang benar adalah dengan menjadi semua dari tipe-tipe tersebut. Walaupun menyandang status sebagai mahasiswa kuda-kuda, sesekali kita perlu juga menjadi mahasiswa kupu-kupu. Waktu di rumah bisa kita manfaatkan untuk, misalnya, menggarap tugas atau sekedar beristirahat agar kembali fit menjalani aktivitas-aktivitas yang lain. Kura-kura sendiri saya rasa tanpa perlu diperdebatkan lagi memang kita butuhkan. Pengalaman berorganisasi akan dapat mengembangkan soft skill kita dan juga mengasah kematangan kita dalam banyak hal, seperti cara kita bersikap, berpikir, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Lagipula, pengalaman seseorang dalam berorganisasi sekarang ini menjadi salah satu poin penting bagi suatu perusahaan dalam merekrut calon tenaga kerja yang baru.

Yang tidak kalah penting juga adalah nangkring atau nongkrong. Biar bagaimanapun, yang namanya manusia itu pasti butuh istirahat. Bukan hanya badan, tapi juga pikiran. Nah, nongkrong bersama teman-teman bisa jadi solusi yang pas untuk itu. Selain itu, nongkrong juga membantu kita untuk bersosialisasi dan mengakrabkan diri dengan teman. Pasti aneh dong kalau sama teman sejurusan nggak saling kenal atau sering berada di kelas yang sama tapi nggak pernah ngobrol cuma gara-gara kurang akrab? Makanya, nongkrong sekali-kali.

Tetapi, masih kata Mas Ferdi, yang namanya mahasiswa nongkrongnya harus beda. Kalau biasanya ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas atau malah bergosip ria, sekarang, dengan status mahasiswa, tema obrolannya harus lebih berbobot. Jadi, alih-alih mendiskusikan episode Cinta Fitri tadi malam, nongkrong ala mahasiswa malah lebih tertarik membahas polemik Tol Tengah Kota Surabaya atau kinerja pemerintah dalam menangani kasus korupsi, misalnya. Bagaimana? (*)

Iklan
Nongkrong ala Mahasiswa

Hujan dan Efeknya Pada Mahasiswa (Seperti Saya)

Seri Balada Maba

Dalam beberapa hari belakangan ini sepertinya cuaca di Surabaya sedang kurang bersahabat. Hujan yang tidak bisa dikategorikan ringan terus turun setiap harinya. Waktunya pun tak tentu, bisa pagi, siang, sore, atau bahkan malam dan dini hari.

Efek yang timbul pun langsung terasa (banget): BANJIR. Meskipun tempat tinggal saya tidak ikut tergenang, area dekat-dekat situ terkena banjir yang lumayan parah. Sialnya, daerah-daerah korban banjir tersebut adalah daerah yang selalu saya lewati untuk menuju ke kampus. Dan karena banjir, saya harus mengambil jalan memutar yang lumayan jauh. Sangat jauh. Otomatis, durasi perjalanan saya pun jadi molor semolor-molornya. Sekedar catatan, jadwal kuliah saya selama seminggu adalah jadwal kuliah pagi, rata-rata jam 7. Paling siang jam 9. Bisa Anda bayangkan kan nasib saya? Bahkan, gara-gara banjir, saya pernah sampai telat lebih dari setengah jam. Untungnya, dosen saya datangnya juga telat. Selisih kedatangan kami hanya beberapa menit, jadi saya pun aman masuk kelas. Kadang-kadang saya bersyukur mempunyai dosen yang suka telat seperti beliau, terutama saat saya juga telat. Hehehe…

Masalah cuaca ini, selain mendatangkan banjir, ternyata juga mendatangkan efek baik bagi saya lho. Sering turunnya hujan membuat hawa jadi adem-adem nentremake ati. Karena itu, entah mengapa, beberapa hari ini kualitas tidur saya jadi maknyos sekali. Saya merasa enaaak banget tidurnya. Paling tidak, hal ini bisa jadi semacam hiburan buat saya yang setelah masuk arsitektur jadi sering ngelembur dan kehilangan banyak waktu tidur.

Jadi, cuaca buruk tidak selalu buruk. Banjir dimana-mana ditukar dengan kualitas tidur yang baik (entah pertukaran itu bisa disebut adil atau tidak). Eh, tunggu-tunggu, kan kalo tidur saya nyaman saya jadinya keenakan tuh, terus akhirnya males bangun, buntutnya kesiangan juga. Berarti, ujung-ujungnya buruk juga dong. Ah, bodo amat lah. Dipikir aja entar dalem mimpi. *menepuk-nepuk bantal dan bersiap mengambil posisi tidur*.

Hujan dan Efeknya Pada Mahasiswa (Seperti Saya)