#percumaganteng kalau tugasnya gak selesai

Memasuki akhir semester ini, tugas-tugas yang bermunculan semakin berat dan menuntut fokus ekstra dalam pengerjaannya. Tapi, bukannya bersemangat dalam ‘bertugas’, saya malah lebih bersemangat mengerjakan hal-hal yang lain. Imbasnya, banyak target mingguan yang mbleset, melenceng. Sekarang saya hanya bisa berharap target akhir dan deadlinenya tidak melenceng lagi.

Apa yang mengalihkan perhatian saya belakangan ini malah bisa dibilang jauh dari bidang yang harusnya saya tekuni. Sebagai seorang mahasiswa arsitektur, saya malah lebih banyak menghabiskan waktu mendalami dunia tulis-menulis. Bisa Anda perhatikan bahwa mungkin dalam beberapa hari ini saya lumayan aktif lagi membuat postingan. Itu baru yang di-publish, yang berupa draft, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis alias tersimpan di otak, lumayan banyak juga.

Beberapa hari waktu yang lalu pun saya mengikuti workshop jurnalistik yang diadakan di kampus saya. Saya bahkan merelakan hampir seharian waktu yang bisa saya gunakan untuk mengerjakan mungkin sekitar 10% dari keseluruhan tugas saya untuk belajar ilmu jurnalistik, ilmu tulis-menulis, ilmu yang tidak berhubungan dengan tugas atau kuliah saya, paling tidak tidak untuk semester ini.

Selain menulis, saya juga suka membaca. Sejak beberapa minggu yang lalu, saya jadi rajin sekali datang ke perpus. Selain numpang berinternet gratis (dasar pecinta gratisan), saya juga sering menelusuri rak-rak yang berjejer untuk mencari buku-buku yang bagus dan bisa dipinjam. Namun, lagi-lagi bukan tentang arsitektur. Alih-alih meminjam buku tentang konstruksi atau desain bangunan, saya malah meminjam kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu, kumpulan cerpen yang lain tentang Palestina, sebuah buku karangan Wimar Witoelar (yang sulit saya deskripsikan klasifikasinya), buku tentang petuah entrepreneurship, buku tentang warna dalam Photoshop, sampai buku tentang bagaimana cara menjadi seorang rockstar. Benar-benar tidak arsitektural! Harusnya kebiasaan membaca buku memang jadi sesuatu yang bagus dan bahkan perlu dibudayakan. Tapi entah mengapa kebiasaan tersebut datang di saat yang tidak tepat bagi saya.

Baru saja tadi saya membaca buku berjudul “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok” karangan Iman Supriyono, saat kuliah Mekanika Teknik. Ya, saya lebih memilih membaca buku tentang entrepreneurship daripada memperhatikan materi kuliah yang sudah jelas-jelas dijelaskan oleh dosen saya akan keluar untuk UAS nanti. Tragis dan ironis memang.

Buku tersebut sebenarnya memang tentang entrepreneurship (capek juga ya mengetik kata ini), tentang nasihat-nasihat dan kiat-kiat pengembangan kemampuan entrepreneurship gitu deh. Tapi banyak juga isinya berupa saran pengembangan kepribadian yang bisa diterapkan dalam kehidupan yang umum, termasuk kehidupan saya sebagai mahasiswa yang carut marut ini agar jadi lebih tertata.

Terus terang, saat membaca buku tadi saya merasa sedih lho. Kenapa kok ya nasib saya jadi seperti ini. Kenapa saya merasa tidak cocok kuliah di arsitektur, padahal dulu jurusan ini adalah pilihan pertama saya dan mungkin bisa dibilang satu-satunya pilihan yang saya punya saat itu. Kenapa kok saya baru baca buku ini sekarang, saat tengah-tengah bahkan sudah mau akhir masa perkuliahan, bukannya dulu-dulu waktu awal kuliah atau sekalian sebelum kuliah, walaupun mungkin hal itu tidak akan banyak berpengaruh bagi saya. Karena praktek sungguh tidaklah semudah teori. Sebagai contoh, meskipun saya sudah mencanangkan perubahan bagi saya sendiri (coba cek di postingan ini), toh hasilnya tidak banyak terlihat sampai saat ini. Bahkan, tadi malam, saya tidur jam setengah dua belas hanya untuk bermain Zuma, mengabaikan kertas tugas, penggaris, dan pensil yang tergeletak di depan saya. Sekali lagi, tragis!

Saya jadi ingat tweet teman saya, ErstiEcci, kemarin saat #percumaganteng menjadi trending topic di Twitter. Begini tweet-nya:

#percumaganteng kalau tugasnya gak selesai.

Tweet ini cukup menohok saya, karena selain tugas saya tidak selesai, saya juga tidak ganteng! (*)

PS: A little confession, I made this post while skipping a class (again). *sigh...

Iklan
#percumaganteng kalau tugasnya gak selesai

Perkara Menghilangnya Saya dari Dunia Blogging

Wah, sudah berapa lama ya saya tidak ngeblog? Sejak terakhir kali saya pamit cuti ngeblog lewat postingan yg lalu, saya benar-benar mengalami masa hiatus total. Well, mungkin tidak benar-benar total. Terkadang saya masih menyempatkan diri membuka dashboard hanya sekedar untuk mengecek komentar atau stats. Kalau nggak begitu ya saya mampir blogwalking ke blog lain melalui halaman links. Tapi untuk menulis postingan baru, nol besar. Dan bagi saya, itu sama saja dengan hiatus.

Tunggu, sebelum Anda bingung atau bertanya-tanya, kemana arah pembicaraan saya, ada baiknya saya tegaskan dari awal: SAYA MAU CURHAT. Bila Anda bukan tipe orang yang gemar membaca curahan hati orang lain melalui internet, Anda boleh membaca bagian lain dari blog ini, asal jangan langsung pergi saja sih. Hehe… Otherwise, Anda bisa lanjut membaca postingan ini sebelum main-main ke bagian lain.

Oke, intermezzo yang cukup panjang. Kembali lagi ke topik sebelumnya dimana saya meliburkan diri dari aktivitas blogging. Kalau Anda sempat membaca postingan saya sebelumnya, Anda tahu disitu bahwa dalih saya pamit adalah karena tugas. Ya, tugas. Banyak tugas-paling tidak menurut saya- lebih tepatnya. Boleh jadi Anda mencibir saya, ah tugas kan semua juga sama saja. Semua juga dapat tugas, semua aja mikir tugasnya berat. Boleh jadi benar, menurut Anda. Itu karena Anda tidak benar-benar mengenal saya. Saya ini orangnya santai. Terlampau santai mungkin. Kalau ada tugas membuat prakarya atau sesuatu, biasanya baru saya buat beberapa hari sebelum hari pengumpulan. Kalau tugasnya berupa tulisan malah bisa baru saya kerjakan hari itu juga. Dalam beberapa kasus, malah pada akhirnya saya tidak mengumpulkan tugas sama sekali dan tidak merasa bersalah. Meskipun demikian, prestasi akademis saya cukup terjaga. Memang sih tidak bisa disebut cemerlang, tapi juga jauh dari kata jelek. Lumayanlah.

Salahnya, kebiasaan itu masih saya bawa sampai sekarang. Dan imbasnya benar-benar terasa. Keteteran pol. Bayangkan, kebiasaan berleha-leha ala anak SMA -yang tugasnya masih bisa dikompromikan- saya terapkan pula di masa kuliah yang notabene tugasnya jauh lebih berat, lebih banyak, dan, yang paling buruk, lebih tidak dapat dikompromi. Sekali lagi, keteteran pol.

Jadi, Anda sudah mengerti kan, mengapa saya mengkambinghitamkan tugas untuk kevakuman saya ngeblog. Tanpa ada tugas saja saya sudah jarang ngeblog, apalagi sekarang. Karena itu, saya mau minta maaf dulu pada Anda para pembaca setia blog ini-kalau ada.

Saat ini, saya sedang merencanakan sebuah revolusi. Revolusi bagi diri saya sendiri. Saya sekarang mencoba menata kembali kebiasaan-kebiasaan hidup dan manajemen pribadi saya, agar saya tidak lagi mengumpulkan tugas saat deadlinenya sudah lewat, agar saya tidak lagi datang kuliah telat, agar saya tidak lagi bolos kuliah, agar waktu tidur saya tidak lagi kacau, agar kehidupan saya sebagai mahasiswa jadi berkualitas. Tolong doakan ya, agar usaha saya berhasil. Amin. Karena kalau berhasil, harusnya saya bisa lebih aktif ngeblog. Harusnya…(*)

Perkara Menghilangnya Saya dari Dunia Blogging