Gadis yang Kutunggu Dibawah Pohon Kersen

 

Tidak mungkin dia tidak datang! Iwan mulai gelisah berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kakinya menyaruk-nyaruk kerikil dibawah sandalnya. Ia ambil beberapa butir lalu ia lempar-lempar dengan malas ke arah jalan.

Lima orang gadis sudah melintas di hadapannya sejak ia mulai menunggu. Dua orang berboncengan menuju ke Utara. Dari pakaiannya, tampaknya mereka hendak mengaji ke ustad terkenal di kampung sebelah. Tiga orang lagi lewat dua puluh menit kemudian kearah yang berlawanan. Mengendarai sepeda masing-masing, mereka mengenakan seragam SMA yang kelihatan masih cukup baru. Iwan tahu gadis-gadis itu, walau tak kenal betul. Mira, Ajeng, dan Winda. Mereka kakak kelasnya di SMP yang baru lulus beberapa bulan lalu. Sepertinya mereka baru pulang dari kegiatan ekstrakurikuler. Ah, pasti menyenangkan jadi anak SMA.

Tetapi dari tadi gadis yang ia tunggu malah belum juga tampak batang hidungnya. Sambil mengelus-elus janggutnya yang mulai ditumbuhi empat helai rambut, Iwan mengingat-ingat lagi isi surat yang ditulisnya. Sebuah puisi singkat pada halaman pertama (judulnya “Senyum Paling Manis Sedunia”), lalu sebuah ajakan bertemu pada halaman berikutnya. Rasanya ia pun sudah menuliskan dengan cukup jelas: “Jika tidak ada acara sepulang sekolah, mari kita bertemu pukul 2 siang nanti dibawah pohon kersen di tepi jalan antardesa. Aku ingin mengajakmu ke tempat yang menarik!”

Ia selipkan surat tersebut dengan cepat pada tangan si gadis saat mereka berpapasan di gerbang sekolah pagi tadi. Waktu istirahat, si gadis menghampirinya di kelas. Sambil agak menunduk tersipu, si gadis bergerak canggung diantara bangku-bangku menuju tempat Iwan duduk di deretan tengah. Tangannya yang lentik dengan gesit meletakkan secarik kertas pada meja di hadapannya. Si gadis yang malu lalu pergi terburu-buru, tetapi ia sempat berhenti di ambang pintu untuk sejenak mengerling dan melayangkan senyum sekilas. Senyum paling manis sedunia!

Demi melihat senyum bidadari itu perut Iwan langsung bergolak bagaikan pusaran ombak di lautan yang tengah badai. Ditambah lagi jantungnya berdentum-dentum ingin meledak saat ia membuka kertas kecil tadi dan mulai membaca pesan yang dituliskan si gadis: Sampai ketemu nanti siang…

* * * * * * * * * * * * * * *

Tetapi mereka belum juga bertemu lagi. Padahal ia yakin si gadis tidak akan sampai tersesat. Tidak ada lagi pohon kersen di sepanjang jalan antardesa selain yang jadi tempat Iwan menanti saat ini. Memang ada beberapa trembesi, sonokembang, turi, mangga, tapi yang kersen ya cuma satu ini. Satu-satunya pula pohon yang terdapat bangku dibawahnya, entah siapa yang menaruh pertama kali.

Dengan resah Iwan merogoh kantongnya dan mengeluarkan jam tangan yang ia pinjam dari Bapaknya −tidak ia kenakan sebab terlalu besar untuk ukuran pergelangannya. Pukul 14:27. Untungnya cuaca siang itu tidak begitu terik. Langit agak berawan, meski tak sampai mendung tebal. Ia berhenti melontarkan kerikil dan mulai mendongak, mencari-cari buah kersen yang telah merah. Huh, di dahan-dahan yang rendah tinggal tersisa yang hijau dan mentah, yang merah terlalu tinggi di atas. Pasti sudah habis dibabat duluan oleh bocah-bocah kampung. Iwan tentu saja tidak sedang dalam suasana hati ingin memanjat hanya demi beberapa butir kersen, ia pun kembali menatap kosong ke jalanan.

Sekarang ia mulai menyesal, mengapa tak ia jemput saja tadi si gadis di rumahnya. Pastilah ia tak sampai harus senewen karena menunggu begini. Namun ia ingat lagi alasannya memilih bertemu di tempat yang agak jauh dari kampung begini: ia tak cukup bernyali kalau sampai harus menghadapi orang tua si gadis. Ia keder duluan dengan kemungkinan bertemu dengan bapak atau ibunya si gadis, lantas ditanyai macam-macam. Mau kau bawa kemana dia? Dan siapa pula kau berani-beraninya mengajak pergi putriku?

Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan, saya hendak mengajak putri Bapak menikmati matahari terbenam di bantaran sungai di ujung desa. Saya akan bacakan satu lagi puisi yang saya tulis khusus untuknya, dan ia akan mendengarkan sambil memakan kue Putu Ayu yang saya bawakan sebelumnya −ya, saya tahu itu kue kesukaannya. Lalu kami akan bercerita ngalor-ngidul tentang apapun. Atau barangkali kami hanya akan saling pandang saja karena malu. Tapi diakhir perjumpaan, akan saya petikkan baginya bunga liar yang tumbuh di tepi sungai. Sebab begitulah ia dimata saya, tidak mentereng atau mewah, tetapi justru memikat karena kesederhanaan, kerendahhatiannya. Ah, bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan itu semua? Apalagi diam-diam ia juga menyimpan sebuah rahasia, yaitu secuil harapan bahwa si gadis mungkin akan memberinya sebuah kecupan di pipi usai perjumpaan ini.

Pukul 15:12. Kepalanya agak terasa berdenyut-denyut. Selalu begitu tiap kali ia merasa cemas atau panik. Ia kembali memunguti kerikil.

Ah, sekilas pandangan Iwan tertumbuk pada sebuah kerikil yang terlihat menarik. Warnanya hitam legam dan tepiannya halus. Ia tak melihatnya sebelumnya karena tertutup oleh selembar daun kering. Baru saja Iwan merunduk hendak meraihnya, setetes gerimis tiba-tiba saja jatuh mengenai kulitnya. Sial! Tanpa pemberitahuan, mendung tebal tahu-tahu sudah bertengger di atas sana. Dan dalam waktu kurang dari dua menit, hujan deras sudah mengguyur seperti air bah yang ditumpahkan dari langit.

* * * * * * * * * * * * * * *

“Dia tidak masuk sekolah, sudah tiga hari ini.”

Iwan tidak tahan juga akhirnya. Ia menghabiskan dua hari kemarin dalam bayang-bayang kesedihan karena si gadis yang ia tunggu tidak muncul. Ia mulai berpikir, jangan-jangan si gadis memang tidak suka padanya sejak awal, dan senyum itu, balasan itu, hanyalah olok-olok saja untuk mempermainkannya. Uh, dadanya terasa nyeri hanya memikirkannya. Ia pun habis-habisan berusaha menghindari si gadis. Area sekitar kelas si gadis adalah daerah terlarang untuknya. Ia mulai tiba paling pagi di sekolah, lalu langsung masuk kelas dan tidak keluar lagi hingga jam pelajaran usai. Setelah bel pulang berbunyi, Iwan yang sudah lebih dulu mengemasi barangnya pun jadi yang pertama merangsek ke tempat parkir sepeda, lantas mengayuhnya lekas-lekas sampai rumah untuk kemudian mengurung diri seharian. Ia tak ingin lagi melihat wajah si gadis! Ibunya tak urung jadi bertanya-tanya, mengapa anaknya yang biasanya paling doyan keluyuran tiba-tiba jadi betah di rumah. Dan ia hanya menyahut dari balik pintu kamarnya, “Aku ingin fokus belajar untuk ujian.”

Tetapi dalam waktu dua hari saja ia menyerah.

Ia mulai mempertimbangkan adanya kemungkinan-kemungkinan lain. Bisa saja si gadis sudah ingin berangkat, tapi malah diminta orang tuanya membantu pekerjaan di rumah. Iwan tahu si gadis ini yang anak yang sungguh patuh dan tak akan menolak permintaan tersebut. Ah, alasan itu terdengar cukup masuk akal dan jauh lebih meringankan hatinya. Yang jelas, ia perlu verifikasi. Sayangnya, saat Iwan melongok ke dalam kelas si gadis dari ambang pintu, ia tetap tidak menemukan orang yang dicarinya. Nunik, teman sekelas si gadislah yang memberitahu Iwan bahwa ia sudah absen berhari-hari. Tidak ada yang tahu alasannya.

Siang itu, Iwan pulang dengan menuntun sepedanya, meskipun bannya tidak bocor dan rantainya tidak putus. Ia hanya ingin punya waktu sedikit lebih lama untuk mempersiapkan mentalnya. Ia sudah memutuskan, ia akan bertandang ke rumah si gadis. Ia butuh keterangan berikut kejelasan. Ia pun menggiring sepedanya ke arah Barat menuju dusun tempat si gadis tinggal, walaupun rumahnya sendiri berada di arah yang berlawanan. Tetapi dalam jarak dua ratus meter dari rumah si gadis, Iwan berhenti. Mentalnya memang belum sepenuhnya terkumpul, tapi ada hal lain yang lebih mengusiknya. Dari kejauhan ia melihat sekitaran rumah si gadis dipenuhi kerumunan orang. Dari yang tersirat pada raut wajah mereka, orang-orang tersebut jelas tidak datang untuk menengok bayi yang baru lahir atau bocah yang baru pulang dari mantri sunat. Perasaan tak enak hati seketika menyergap dirinya, kepalanya samar-samar berdenyut. Ia merasa ada ketegangan yang menguar dan tertahan di udara. Diam-diam ia mendekati beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol untuk mengorek lebih banyak informasi.

“Kasihan sekali ya, Mbakyu. Padahal anaknya pendiam dan ndak pernah aneh-aneh juga.”

“Yah namanya nasib siapa yang tahu. Katanya waktu mayatnya ditemukan pakaian seragamnya sudah compang-camping ya, Bu?”

“Iya, saya sempat dengar tadi ada Pak Polisi yang bilang kalau dia diperkosa dulu, lalu dicekik sampai meninggal. Katanya lagi, pelakunya paling tidak lima orang.”

“Astaghfirullah… Oalah, Nduk, Nduk. Mesakke tenan nasibmu. Isih enom kok yo wis diceluk Gusti Pangeran, gek koyo ngene carane.”1

Seketika kepala Iwan disergap oleh nyeri, jauh lebih sakit dari yang pernah ia rasakan selama ini… (*)

Keterangan:

1 “Astaghfirullah… Oalah, Nak, Nak. Kasihan sekali nasibmu. Masih muda kok sudah dipanggil Yang Kuasa, dengan cara begini pula.”

Gadis yang Kutunggu Dibawah Pohon Kersen

Tiga Anak Kucing

 

Saya punya tiga anak kucing. Saya namai Kimi, Kimo, dan Komo. Warnanya hitam, pirang, dan belang. Si Kimo bulunya pirang. Saya namai demikian sebab (kucing tetangga yang diduga) ayahnya warnanya juga pirang dan namanya Miko. Saya utak-atik jadilah Kimo. Si kucing hitam saya namai Kimi sebab dia betina. Sisanya, si belang, saya namai Komo supaya masih senada dengan saudaranya yang lain. Lagipula, nama Komo terdengar lucu. Mudah-mudahan saja jika ia lewat tidak membuat macet jalanan.

Awalnya mereka enam bersaudara, tetapi dua anak kucing meninggal saat dilahirkan, satu lagi menyusul dua atau tiga minggu kemudian. Kasihan sekali. Warnanya pirang seperti Kimo, tetapi sementara tiga saudaranya saat itu sudah tumbuh besar, ia masih terlihat sangat kecil, seolah pertumbuhannya terhambat. Ia juga tidak bisa berjalan sebab kaki kanan depannya seperti tidak terbentuk dengan sempurna sehingga tak cukup kuat menopang tubuhnya sendiri.

Mereka berlima (empat anak kucing beserta induknya) semula tinggal di dalam lemari. Suatu malam, saat orang-orang tertidur lelap, induk kucing memindahkan anak-anaknya ke tempat baru, di bawah kolong di pojokan kamar. Kami baru tahu keesokan paginya. Tetapi, loh, mengapa cuma tiga anak kucing yang terlihat?! Dimana yang satu lagi? Kami kebingungan mencari-cari satu anak kucing yang hilang, yang ternyata adalah si anak kucing malang yang tumbuhnya lambat dan kakinya cacat.

Saat akhirnya ditemukan, si anak kucing telah jadi jasad. Kaku dan tak bernapas. Tak ada yang tahu bagaimana ia meninggal. Ketika menyadari si anak kucing cacat itu yang hilang, saya sempat curiga bahwa sebetulnya ia dimakan sendiri oleh induknya. Beberapa bulan sebelumnya, kucing saya juga sempat hamil. Tapi saat suatu hari perutnya telah kempis, kami sama sekali tak menemukan keberadaan anak-anaknya. Yang kami dapati malah sepenggal kepala kecil tanpa badan. Sejak itu saya mulai tahu bahwa anak kucing yang baru lahir rentan sekali menjadi korban kanibalisme oleh kucing dewasa, baik oleh kucing pejantan yang ingin “mengeliminasi” calon pesaing, atau oleh induk betinanya sendiri jika ternyata si anak kucing terlahir cacat. Tetapi kecurigaan saya tidak terbukti. Tidak ada tanda-tanda cedera atau luka di tubuh si anak kucing yang meninggal. Akhirnya, kami mengubur si anak kucing di lahan kosong sebelah rumah, dekat dengan dimana kami menguburkan tiga anak kucing (dua tubuh utuh plus sepenggal kepala) yang lebih dulu meninggal.

Saat masih hidup empat ekor, ibu saya sebenarnya telah memberi mereka nama: Hari, Raya, Roma, Doni (karena mereka lahir saat bulan puasa dan menjelang hari raya). Saya merasa nama-nama itu kurang asyik. Saat satu anak kucing tersebut meninggal, saya telah mengganti nama-nama mereka jadi Alfa, Beta, Omega, dan Theta. Theta adalah nama untuk anak kucing yang meninggal. Tak lama kemudian, setelah mereka tinggal bertiga, nama-nama itu saya ganti lagi sebab Alfa-Beta-Omega memang terdengar keren, tetapi sama sekali tidak lucu untuk anak-anak kucing. Maka jadilah tiga bersaudara itu saya namai Kimo, Kimi, dan Komo.

Saat ini Kimo, Kimi, dan Komo telah berusia satu bulan lebih, dan ya tuhan, mereka sedang lucu-lucunya. Saat sedang kelebihan energi, mereka akan berlari kesana-kemari, mencakar-cakar kaki sofa, karpet, keset, apapun yang dapat mereka jangkau. Mereka juga suka melompat-lompat (Kimi bahkan sudah bisa naik sendiri ke atas sofa), lalu saling menerjang, menggigit, mencakar, dan bergelut satu sama lain (sepertinya begitulah cara mereka bercanda). Seperti halnya manusia yang masih balita, mereka sedang asyik-asyiknya bermain-main dan mengeksplorasi segalanya. Pokoknya tidak bisa diam.

Hanya ada dua momen tiga anak kucing ini akhirnya bisa anteng, yaitu ketika tidur dan menyusu. Biasanya mereka menyusu lebih dulu, baru setelah beberapa saat mereka akan mulai mengantuk dan tertidur. Jam tidur mereka agak sporadis dalam satu hari, tetapi kalau sudah jatuh terlelap, mereka akan mlungker seperti buntelan.

Adik saya (anak manusia) pun mengajari, bahwa itulah saat-saat mereka akhirnya bisa “ditaklukkan”. Saya dan adik suka sekali bermain-main dengan ketiga anak kucing. Kadang-kadang kami akan mengangkat mereka, lalu menaruhnya di atas pangkuan atau dada kami sambil rebahan, maksudnya biar bisa dikeloni sambil dielus-elus begitu. Namun saking tidak bisa diamnya, baru ditaruh, mereka langsung lari lagi. Akhirnya adik saya menemukan, bahwa waktu terbaik untuk ngeloni mereka adalah saat mereka sudah mulai tidur. Saat itu, mereka akan terlalu mengantuk untuk kabur atau melawan jika mau diapa-apakan.

Itulah yang sedang saya praktikkan sekarang. Baru saja saya melihat Komo sedang tidur di kolong meja, sementara saya mengetik dengan laptop di atasnya. Ide saya pun muncul. Saya segera menyimpan tulisan yang belum jadi ini dan memindahkannya ke ponsel. Saya lalu merogoh ke kolong meja, menggapit tengkuknya, lalu menaruh Komo di atas perut saya, sementara saya berbaring di atas sofa. Ia terbangun dan mendongak sebentar, tetapi lekas saya usap-usap agar tenang. Tak lama, Komo sudah kembali terlelap. Kini, saya meneruskan menulis paragraf terakhir ini di ponsel, sambil mengelus-elus Komo yang berbaring tenang di atas perut saya. Ah, nikmatnya…

Tiga Anak Kucing

Obrolan Malam dengan Seorang Kawan

Mengejutkan rasanya menemukan sisi yang tidak disangka dari seseorang yang kita kira sudah cukup kita kenal.

 

Sore itu Ibuk saya telepon, “Jangan pulang, banjir dimana-mana. Kamu nginep di rumah temanmu saja.” Pinggiran Barat Surabaya tempat saya tinggal memang merupakan daerah rawan banjir. Saya yang kemana-mana naik sepeda motor sudah cukup kenyang merasakan bagaimana repotnya terjebak banjir yang jadi satu paket dengan macet (plus mogok, kadang-kadang). Untungnya saya masih nongkrong di kampus dengan beberapa teman. Alhasil saya tidak sampai kebingungan bertanya kesana-kemari untuk cari tumpangan tidur. Teman saya, Adi, menawarkan untuk menginap di kosannya.

 

Ketika tiba di kamar kosan Adi, hal pertama yang saya sadari adalah koleksi bukunya yang sangat banyak. Jauh lebih banyak dari koleksi saya. Saya selalu mengenal Adi sebagai sosok yang slengekan, dengan guyonan-guyonan yang absurd dan acapkali mesum. Saya sama sekali tidak mengira ia tipe orang yang gemar membaca. Ia bercerita kalau minat membacanya mulai tumbuh sejak kuliah S2. Saya longok sedikit judul-judul bacaannya. Selain buku-buku arsitektur, ada juga tulisan-tulisan Cak Nun, antologi puisi Widji Tukul, hingga Madilog-nya Tan Malaka yang fenomenal itu. Wah, wah, saya sungguh-sungguh terkesan.

 

Lalu kami mulai mengobrol. Saya rasanya tidak akan terkejut jika saja Adi mengajak saya bicara soal cewek seksi atau sejenisnya. Tapi ternyata kami membahas beraneka topik yang jauh dari hal-hal banal. Awalnya saling curhat tentang nasib kami yang sama-sama molor dalam urusan kuliah, meskipun tetap saja saya yang lebih parah karena dia sudah S2 dan tinggal mengurus tesis sementara saya baru-baru saja lolos dari jerat S1 hahahaha. Tentang tantangan yang kami hadapi dalam mengikuti ritme dunia perkuliahan. Melebar dari situ, kami mulai berdiskusi tentang perkara arsitektur. Tentang kebiasaan membaca buku. Tentang fenomena sosial seperti hamil diluar nikah. Hingga pandangan ke-Tuhan-an serta ke-agama-an. Macam-macam.

 

Kami mengobrol dan terus mengobrol semalaman. Saya jadi menemukan hal-hal menarik tentang Adi yang baru saya tahu. Misalnya saja, dia tidak suka membaca novel. Beda jauh dengan saya yang tidak pernah tahan membaca buku selain novel. Konon, ia tidak suka dengan novel karena waktu SMP ia disuruh-suruh oleh temannya membaca buku Raditya Dika, lantas mengira semua novel sama saja seperti itu, kurang berisi. Saya kemudian bercerita soal pengarang favorit saya, Ayu Utami, untuk memberinya gambaran pembanding. Saya juga menawarkan untuk meminjaminya novel Bilangan Fu yang sudah secara personal saya setarakan kedudukannya dengan kitab suci itu hehehe.

 

Selain itu, sebagai seorang Hindu, ternyata Adi sangat terkagum-kagum dengan sosok Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ia sering menonton ceramah serta membaca buku-buku karya Cak Nun. Ia baru-baru ini juga mulai mengikuti ceramah dari Gus Dur. Untuk urusan keagamaan, Ad rupanya memiliki pandangan yang cukup terbuka dan kritis. Saya pun jadi berani menjabarkan panjang lebar padanya tentang konsep ke-Tuhan-an yang saya imani secara pribadi. Sebuah konsep yang hanya saya ungkapkan pada segelintir orang saja karena terlalu “sesat” bagi pandangan mainstream.

 

Sebagai teman kuliah, saya mengenal Adi sudah lebih dari enam tahun. Kami memang tidak begitu akrab, tapi tetap mengagetkan rasanya ketika dalam satu malam saja saya tiba-tiba melihat sosok dirinya dalam penilaian yang sama sekali baru.

 

Kami akhirnya memutuskan untuk menghentikan obrolan dan tidur sekitar pukul 02.45 malam itu. Ketika pulang dari kosan Adi keesokan harinya, saya pun mulai berpikir, rasanya saya perlu menghabiskan lebih banyak waktu lagi mengobrol dan mengenal lebih dekat teman-teman saya yang lain. Siapa tahu masih banyak kejutan yang bisa saya temui. (*)

Obrolan Malam dengan Seorang Kawan

Menikmati Rokok Tanpa Asap di House of Sampoerna

House of Sampoerna merupakan salah satu destinasi wisata yang cukup populer di Surabaya. Saya pribadi sudah berkali-kali berkunjung ke sini dan dengan senang hati akan merekomendasikan tempat ini sebagai salah satu jujugan yang patut disambangi jika pelesir ke Surabaya. Tulisan ini awalnya saya buat untuk salah satu tugas kuliah, lalu saya ramu kembali beberapa kali untuk ditampilkan di blog. Kali ini, saya tuliskan lagi sebagai artikel untuk web AICT (Ambassador of Indonesian Culture & Tourism) Surabaya. Lebih tentang komunitas AICT Surabaya bisa dilihat di Tentang AICT Surabaya.

AICT Surabaya

house of sampoerna, museum surabaya, museum rokok, rokok kretek, gedung antik, gedung tua surabaya, wisata surabaya

Menjelajahi kawasan Surabaya Utara rasanya tidak lengkap jika belum mampir ke House of Sampoerna (HOS) yang merupakan destinasi jalan-jalan yang cukup populer di kota ini. HOS merupakan sebuah komplek wisata dengan atraksi utama berupa museum yang menampilkan riwayat perusahaan Sampoerna sebagai salah satu produsen rokok terbesar di negeri ini. HOS terletak di Jalan Taman Sampoerna no. 6, hanya sekitar 400m dari lokasi bangunan eks-penjara Kalisosok yang mudah dikenali karena dinding-dinding tingginya dihiasi oleh mural warna-warni. Selain museum, di komplek ini juga terdapat galeri, kios cinderamata, kafe, dan pabrik rokok yang masih aktif beroperasi di gedung bagian belakang. Ada juga rumah liburan pribadi milik keluarga Sampoerna yang terletak di gedung sayap sisi Barat komplek.

Lihat pos aslinya 936 kata lagi

Menikmati Rokok Tanpa Asap di House of Sampoerna

Nominasi, Nominator, dan Nomine

Jennifer-Lawrence-Wins-SAG-Award-2013

Saya yakin topik terkait penggunaan kata “nominasi, nominator, dan nomine” ini sebenarnya tak kurang-kurang dibahas di berbagai rubrik kebahasaan majalah atau media lainnya. Tapi mengingat kesalahan serupa masih lazim ditemui pada berbagai kesempatan, saya rasa tidak ada salahnya membahas kembali topik ini supaya semakin banyak orang yang paham.

Dua minggu lalu, jurusan saya kembali menggelar acara Kompetisi Tugas Akhir Arsitektur yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan perayaan Dies Natalis Arsitektur ITS ke-50. Kontes rutin tahunan ini diawali dengan proses pendaftaran dan pengumpulan karya oleh peserta, lalu dilanjutkan dengan tahap penjurian awal oleh juri internal yang berasal dari kalangan kampus Arsitektur ITS. Sebagai acara utamanya adalah presentasi terbuka oleh tujuh karya finalis terpilih di hadapan dewan juri yang merupakan akademisi maupun praktisi profesional yang telah dikenal berkompeten di bidang arsitektur. Waktu itu, yang menjadi juri antara lain Ir. Hari Sunarko (Ketua IAI Jatim), Ahmad Djuhara (arsitek profesional, djuhara+djuhara), serta Kevin Low (arsitek Malaysia). Nah, saat menghadiri acara presentasi itulah, saya mesti menahan rasa senewen dalam hati tiap kali pembawa acara menyebutkan kalimat-kalimat seperti, “Nominator berikutnya yang akan tampil adalah…”; “Diumumkan kepada seluruh nominator bahwa…”; atau “Seluruh nominator diharap maju ke depan untuk…”

Sebelumnya, mari kita simak penjelasan yang saya kutipkan dari KBBI Daring (dalam jaringan; online) berikut ini:

Nominasi /no·mi·na·si/ n 1 pengusulan atau pengangkatan sbg calon; pencalonan: — lurah akan diumumkan pd bulan depan; 2 yg dicalonkan: ia tak termasuk dl —;

Menominasikan /me·no·mi·na·si·kan/ v menjadikan nominasi: peserta kongres ~ lima calon untuk menjadi ketua umum

Nominator /no·mi·na·tor/ n orang yg mencalonkan (mengunggulkan): ada yg berkelakar bahwa para — itu justru tidak berbicara apa-apa

Nomine /no·mi·ne/ /nominé/ n orang yg dicalonkan (diunggulkan)

Ketika menyebutkan kata “nominator”, yang dimaksudkan oleh si pembawa acara sebetulnya adalah tujuh finalis terpilih. Padahal, kalau ditinjau dengan penjelasan yang tercantum di KBBI, yang tepat adalah menyebut para finalis sebagai “nomine”. Sebutan “nominator” mestinya disematkan pada juri-juri internal yang melakukan penjurian proses awal, sebab merekalah yang memunculkan nama-nama yang terpilih sebagai “nomine”. Sementara itu, “nominasi” sendiri adalah kata benda yang mewakili proses pengajuan, pencalonan, atau pemilihannya.

Sebenarnya, saya yang duduk di kursi penonton diam-diam berharap agar dosen-dosen saya yang menjadi juri tersebut langsung bangkit dari kursi dan melangkah maju dengan sigap setelah pembawa acara memanggil para “nominator”. Supaya seru gitu, biar pembawa acaranya kaget dan ada plot twist-nya dikit. Hehehe… Tetapi meskipun mengantongi status yang sah sebagai nominator, ternyata dosen-dosen saya tadi tidak ada yang maju sama sekali. Tidak mengherankan, karena sepertinya penyalahgunaan sebutan “nominator” sudah sedemikian lumrah sehingga menjadi sesuatu yang dimaklumi (atau malah tidak disadari?) oleh khalayak.

Belum lama ini, salah satu stasiun televisi swasta nasional menyelenggarakan acara penghargaan bagi pelaku industri dunia hiburan sebagai bagian dari perayaan ulang tahunnya yang kedua. Saya perhatikan dalam iklan yang mereka tayangkan, pada awalnya mereka juga menyebut calon penerima penghargaan sebagai “nominator”. Barangkali si editor tetiba mendapatkan pencerahan, beberapa waktu kemudian mereka mengganti sebutannya sebagai “nominee”, diucapkan dengan nuansa Bahasa Inggris namun memang lebih tepat secara penggunaan. Terus terang, saya salut dengan langkah yang dilakukan oleh stasiun televisi tersebut, meskipun mereka “belum mau” mengucapkan kata “nomine” dengan akhiran “e” dengan lafal yang jelas sebagaimana aturan pengucapan Bahasa Indonesia-nya. Paling tidak, mereka menaruh perhatian pada detail dan berani memperbaiki kesalahan. Dan begitu pula yang seharusnya kita lakukan: menghindari membiasakan kesalahan. Bukankah hal-hal yang besar juga bisa berantakan hanya karena kesalahan-kesalahan yang (terlihat) kecil? (*)

Sumber foto: http://www.popsugar.com/celebrity/Jennifer-Lawrence-Wins-SAG-Award-2013-27006986#photo-27006986

Nominasi, Nominator, dan Nomine

Menyampuli Buku

“Kayak buku pelajaran aja Mas pakai dikasih sampul segala.”

Saya baru saja mengembalikan novel yang telah beberapa hari saya pinjam pada pemiliknya, seorang adik kelas. Ia memiliki koleksi lengkap serial novel Supernova-nya Dewi Lestari (yang waktu itu masih sampai Partikel). Sebelumnya saya hanya pernah membaca Akar, buku kedua dari serial tersebut, itupun sudah cukup lama. Maka saya meminjam koleksinya untuk saya baca satu-persatu, mulai dari awal sesuai urutan terbitnya.

Dilihat dari desain sampulnya, sebenarnya cetakan yang dimiliki teman saya itu masih terbilang baru. Barangkali masih beberapa bulan saja umurnya. Tetapi kondisinya itu lho, alamakjan, mengenaskan! Sampulnya tertekuk di sana-sini, meninggalkan jejak gurat-gurat menyerupai keriput pada lapisan terluarnya (lapisan plastik tipis yang membuat kertas sampul terasa agak licin dan mengkilap). Sebagian kecil bahkan ada yang mulai terkelupas. Katanya, buku-buku tersebut memang kerap berpindah tangan alias jadi bahan pinjaman banyak orang. Nah, sebab itulah saya menyarankan agar lain kali ia memberi sampul plastik tambahan (seperti yang biasa dijual di toko buku) untuk buku-bukunya.

Dan jawabannya kira-kira seperti di atas tadi.

Saya benar-benar kaget waktu itu. Bukan karena ada geledek yang tiba-tiba nyamber, bukan. Tetapi karena hingga detik itu dalam benak saya belum pernah sekalipun terlintas konsepsi yang demikian: bahwa sampul plastik itu hanya digunakan untuk buku-buku pelajaran. Saya sendiri menyampuli sebagian besar koleksi buku saya, yang rata-rata adalah novel. Apalagi, saya termasuk penganut paham “Do judge a book by its cover.” Tampilan cover termasuk penting bagi saya. Dan, dengan memasang sampul plastik, tampilan cover buku jadi lebih awet, tidak terlihat kusam dan lebih mudah dibersihkan jika kotor.

Tapi mungkin anggapan orang memang bisa berbeda-beda. Saya sendiri sebetulnya merasa perlu menyampuli karena sayang. Saya sangat jarang beli buku sebab jarang punya duit. Jadi, kalau akhirnya saya memutuskan membeli buku, wajar kan kalau di-eman-eman. Meski, sebagai efek sampingnya, saya juga jadi agak selektif (bukan pelit) untuk urusan meminjamkan buku. Parno duluan, takut rusak atau kenapa-napa. Alhasil, saya hanya pernah meminjamkan buku ke segelintir orang saja, itu pun biasanya karena mereka memang bilang mau pinjam. Jarang sekali saya yang menawarkan duluan.  Untungnya, jumlah koleksi saya pun tidak begitu banyak dan tidak begitu banyak pula teman yang memiliki selera bacaan serupa dengan saya. Hehehe…

Eh, tapi ada sisi baiknya juga, yaitu ketika giliran saya jadi peminjam, saya usahakan untuk menjaga buku pinjaman tersebut dengan sebaik-baiknya. Pernah suatu ketika saya meminjam novel dari seorang teman. Novelnya lumayan tebal, tapi seluruh halaman hingga sampulnya berbercak dan bergelombang. Teman saya pun dengan memelas bercerita bagaimana buku tersebut dulu menjadi korban plafon bocor. Saya entah mengapa langsung merasa berbagi kesedihan dengannya. Kali lain, saya meminjam novel teman saya yang sepertinya kualitas jilidannya kurang begitu bagus. Banyak sekali lembar-lembar halamannya yang mulai terlepas. Saya jadi ekstra hati-hati saat membacanya. Saya membalik halaman demi halaman sehalus mungkin seperti memperlakukan sebuah manuskrip kuno yang rentan dan berharga. Saking khawatirnya, saya bahkan menghubungi si pemilik buku untuk mengonfirmasikan situasinya. Hehehe… Begitulah, saya selalu berusaha memastikan bahwa meskipun tidak dapat membuat jadi lebih baik, paling tidak saat saya kembalikan, buku yang saya pinjam kondisinya tidak jadi lebih buruk. Selain karena memang emanan dengan buku, juga supaya pemiliknya tidak kapok kalau saya mau meminjam lagi lain kali. Hahaha…

Selain itu, saya usahakan juga untuk tidak terlalu lama meminjam buku. Tuntas membaca sedapat mungkin segera saya kembalikan. Sebab, belum lama ini seorang teman meminjam novel kesayangan saya. Beberapa biji sekaligus, lama pula pinjamnya. Saya agak ketar-ketir juga takut bukunya kenapa-napa. Setiap kali ditanya, selalu bilangnya lupa bawa. Akhirnya, setelah beberapa waktu, buku-buku tersebut kembali juga ke tangan saya dalam keadaan baik-baik saja. Duuh.. rasanya sudah seperti ketemu pacar yang bertahun-tahun LDR-an. Lega dan bahagia. Bingits. Saya jadi tahu rasanya menebus rindu setelah sekian lama menimbunnya. Tsaaah… Makanya saya tidak ingin orang lain merasakan kekhawatiran yang sama.

Eh, tapi, karena awalnya tadi bicara soal sampul, tapi semakin ke sini malah ngobrolin soal pinjam-meminjam buku, sekalian saja postingan ini saya tutup dengan sebuah kisah yang menghubungkan keduanya. Begini kisahnya: Saya baru saja membeli dan dalam waktu singkat telah menuntaskan Lalita, novel kedua dari serial Bilangan Fu karangan penulis favorit saya, Ayu Utami. Seperti buku-buku Ayu yang lain, Lalita ini juga bikin saya terkesima bahkan terkesiap karena isinya yang luar biasa kaya dan menakjubkan (agak lebay ya, tapi memang waktu itu saya merasa begitu hehehe…). Saking terpesonanya, saya segera menyebutkan judul buku tersebut ketika ada teman yang bertanya tentang rekomendasi novel yang bagus. Saya bahkan langsung membawakannya keesokan harinya.

Namun, namanya juga sedang euforia, saya jadi tidak ingat kalau belum sempat memberi sampul hingga buku itu telah terlanjur dibawa oleh teman saya. Akhirnya, meskipun dengan agak kurang enak hati, saya jelaskan juga kegalauan saya pada teman tadi. Tanpa bermaksud apa-apa sama sekali, hanya ingin mewanti-wanti dengan halus agar dia memperlakukan buku tersebut dengan baik saja. Eh, lah kok beberapa hari kemudian, ia mengembalikan buku yang sudah tuntas ia baca itu dengan keadaan telah bersampul plastik, ia pasang sendiri. Ia bilang pada saya, “Buku bagus begini memang patut diperlakukan dengan baik, Zi.” Aih, bagaimana daku tidak terharu?!

Nah, apakah kalian juga menyampuli buku-buku yang kalian miliki? Atau adakah perlakuan khusus yang lain? (*)

Menyampuli Buku